Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
203. Ternyata Rindu???


__ADS_3

°°°


Revan cukup terkejut saat wanita itu mengatakan kalau dia adalah calon sekretaris barunya.


"Jadi kamu yang akan menjadi sekretaris baruku?" tanyanya membuat semua orang menoleh termasuk Rindu.


Rindu juga kaget karena ternyata laki-laki yang sejak tadi menginterogasinya di parkiran adalah calon atasan barunya.


"I... iya Tuan, saya baru lolos seleksi tadi siang jadi saya harus menyelesaikan pekerjaan saya di bagian yang sekarang."


"Ya sudah, aku kira kamu itu penyusup. Maaf karena tadi aku sempat tidak mengenali kamu," ujar Revan meminta maaf karena sudah salah paham pada calon sekretaris nya.


"Tidak apa-apa Tuan, tadi di sana juga gelap jadi wajar saja kalau Tuan tidak melihatku." Rindu juga merasa bersalah karena tadi sempat kesal pada laki-laki itu.


"Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian dan biarkan dia pulang," titah Revan pada petugas keamanan.


"Baik Tuan."


"Nona sekarang anda bisa pulang karena Tuan Revan sudah memberi ijin," ujar petugas keamanan itu pada Rindu.


"Terimakasih Tuan, maaf karena sudah merepotkan kalian." Rindu membungkukkan tubuhnya untuk berterimakasih karena tadi petugas keamanan memperlakukan nya dengan sangat sopan dan ramah meski mungkin dia benar mata-mata tapi mereka masih bisa bersikap sopan pada orang lain. Jujur Rindu juga kaget.


"Aku juga pergi dulu, kalian jangan sampai lengah mengawasi perusahaan ini. Kalau ngantuk kalian bisa gantian berjaga," saran Revan.


"Siap Tuan, kami akan menjaga perusahaan ini dengan segenap jiwa dan raga kami."


Revan tersenyum mendengarnya, tidak menyangka kalau bawahnya begitu setia pada perusahaan. Sepertinya dia harus memperhatikan karyawannya dan menaikkan gaji mereka agar bekerja lebih giat.


Sampai di parkiran, Revan berbelok menuju mobilnya sementara Rindu menghampiri motornya yang tadi mogok. Sambil terus berdoa berharap motor nya kembali menyala.


Semoga saja motor ku sudah jadi, kalau tidak aku harus pulang naik apa.


Sampai di dekat motornya, Rindu memasukkan kunci kontak motor itu dan mulai menstater tapi sama seperti tadi motornya sama sekali tidak bereaksi apapun.


Ya ampun bagaimana ini. Apa masih ada taksi jam segini.


Tin tin...


Revan yang melihat calon sekretaris nya itu belum pergi pun menghentikan mobilnya.


"Kenapa dengan motormu?" tanya Revan.


"Sepertinya mogok Tuan, aku tidak bisa menyalakannya."

__ADS_1


"Apa sudah cek bensinnya, mungkin kamu lupa mengisi bahan bakarnya," ujar Revan.


Rindu pun langsung mengecek bensin motornya dan benar saja seperti dugaan sang atasan. Dia lupa untuk mengisinya.


Astaga kamu ceroboh sekali Rindu.


"Bagaimana?" tanya Revan lagi.


"A... nu itu Tuan. Iya saya lupa mengisinya," jawab Rindu malu.


"Sudah malam begini, bagaimana kau pulang. Ini belum terlalu malam, apa tidak apa-apa kalau aku pesankan taksi." Revan bisa saja mengantarkan karyawan nya lebih dulu tapi dia kasihan pada sang istri yang sudah menunggu sejak tadi.


"Tidak apa-apa Tuan, terimakasih dan saya minta maaf karena sudah merepotkan Anda," ujar Rindu seraya membungkukkan tubuhnya.


"Sudah aku pesankan, kamu tunggu saja di depan ruangan petugas keamanan yang ramai. Jangan menunggu sendirian di tempat yang sepi. Maaf karena tidak bisa mengantar, aku pergi dulu."


Revan pun meninggalkan parkiran itu untuk segera menyusul sang istri. Walaupun istrinya tidak pernah menyuruhnya untuk segera datang tapi Revan tetap tidak tega membiarkan wanita yang ia cintai menunggu.


Sementara di parkiran mobil.


Rindu masih mematung di tempat memandang mobil sang atasan yang semakin jauh. Sebenarnya ada hal yang sangat ingin ia tanyakan dan sampaikan tapi tadi waktunya sangat sempit.


Aku masih punya banyak kesempatan untuk bertanya dan berterima kasih.


"Nunggu jemputan neng?" tanya salah satu petugas keamanan.


"Eh, iya pak. Saya nunggu taksi soalnya motor saya mogok di parkiran." Rindu menjawab dengan ramah.


"Ohh... ya sudah. Kalau dingin masuk saja ke dalam. Saya lanjut mau keliling dulu," ujar pria itu lalu pergi membawa senter untuk berkeliling gedung.


Berani sekali bapak itu malam-malam begini keliling gedung itu. Walaupun kalau siang terlihat megah dan mewah, tapi kalau malam tetap saja terlihat menyeramkan.


Rindu merinding sendiri.


Sampai suara dering ponsel mengagetkan dirinya yang sedang membayangkan hal-hal gaib.


"Hallo sayang...," ujarnya setelah mengangkat panggilan dari seseorang.


"Iya, tadi mami lembur makanya belum pulang. Kamu mau mami bawakan apa? Ayam goreng atau martabat kesukaan kamu?" tanyanya dengan lembut.


"Iya sayang... mami sebentar lagi pulang. Benar kamu tidak mau apa-apa?" tanyanya lagi.


"Ok, Mami pulang sebentar lagi. Daahh..."

__ADS_1


Rindu mematikan sambungan teleponnya. Lalu dia menatap wallpaper layar ponselnya yang menampilkan dirinya sedang menggendong bayi kecil. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu saat putrinya masih bayi.


Ya ternyata Rindu memang sudah memiliki seorang putri tapi tetap statusnya dalam KTP maupun identitas lainnya masih single. Karna memang dia belum menikah dan putrinya ada karena dia dijebak oleh saudara tirinya.


Doakan mami agar mami bisa mencari uang yang banyak untuk mengobati kamu sayang.


Sang putri yang menderita kelainan pada jantungnya sejak lahir, membuat Rindu hidup dengan tidak mudah. Dia sampai menjual rumah peninggalan orang tuanya dan kini hidup menumpang di rumah bibinya.


Hidup menumpang tentu tidak mudah, selain harus berjuang untuk anaknya. Rindu juga harus memberikan uang untuk keluarga bibinya. Sampai pada malam itu, sang bibi dan sepupunya hendak menjualnya ke pria hidung belang. Dan itulah awal dia bertemu dengan Revan. Dia adalah pria yang menolongnya malam itu dan juga memberinya kesempatan untuk bekerja.


Sepertinya itu taksinya. Rindu berdiri dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.


Sampai saat ini Rindu juga terpaksa masih tinggal dengan bibinya karena tidak ada pilihan lain. Dia tidak punya cukup uang untuk mengontrak tempat tinggal dan untuk membayar pengasuh.


Terkadang dia ingin mengakhiri hidupnya tapi dia memikirkan sang putri yang tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Sementara Rindu sama sekali tidak tau siapa ayahnya.


,,,


Sampai di rumah sakit.


Revan bergegas menuju ruang rawat Mike untuk menjemput sang istri. Diketuknya pintu kamar itu dan ternyata Febby yang membuka.


"Kau sudah datang? Masuklah," ujar Febby.


Revan pun langsung masuk dan mencari keberadaan sang istri.


"Sepertinya dia kelelahan, maaf ya sudah membuat istrimu sampai kelelahan." Febby merasa bersalah. Kalau saja dia bisa pasti sejak tadi dia sudah memindahkan Rara ke ranjang yang biasa untuk tidur dirinya.


"Tidak apa-apa, ini kemauannya sendiri. Dia juga sangat bahagia dengan perubahan kamu."


Revan menyelipkan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh sang istri ala bridal style.


"Terimakasih banyak, sekali lagi."


"Sama-sama, aku pulang dulu. Titip Mike...," ujar Revan dengan melirik pada Mike sekilas.


to be continue...


°°°


Guys aku mau cerita kalau rumah author kebanjiran. Maaf ya jadi curhat 🤧


Semoga Kalian sehat selalu dan banyak rejeki ya. Amiiinnn...

__ADS_1


__ADS_2