
°°°
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Revan pun segera kembali ke rumah. Hatinya sudah tidak tenang dari tadi, teringat istrinya yang sedang sakit.
Niat hati ingin menyempatkan pulang saat makan siang tapi tiba-tiba ada saja masalahnya. Dari mulai Febby yang tiba-tiba datang sampai assistennya yang mendadak ijin.
Revan pun mau tidak mau menyelesaikan semuanya pekerjaan yang mulai diberikan kakeknya. Ia tidak ingin mengecewakan sang Kakek.
Sorenya Revan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah diijinkan kakeknya untuk pulang.
Di perjalanan pulang Revan mencoba menghubungi istrinya, untuk menanyakan apakah ada yang sedang Rara inginkan.
📞"Assalamualaikum Kak?"
Rara mengangkat panggilan dari suaminya.
"Wa'alaikumsalam, kau sedang apa?"
📞"Aku tidak melakukan apa-apa kak hanya tiduran di kamar, kan kak Revan sendiri yang melarangku melakukan apapun."
Revan mengulum senyum mendengarnya, pasti saat ini istrinya sedang merengut kesal.
"Aku mengatakan itu agar kamu cepat sembuh, istriku."
Blush...
Pipi Rara menyembul kemerahan mendengar panggilan sayang dari Revan yang baru pertama ia dengar.
"Apa kau ingin sesuatu, biar aku belikan sekalian." Tanya Revan, dia ingin berusaha menjadi suami yang baik.
📞"Apa kak Revan sedang pulang?"
"Iya, ada tidak yang ingin kamu makan saat ini." tanya Revan lagi.
📞"Apa kak Revan akan membelikannya?"
"Iya makanya aku tanya, pasti akan aku belikan, katakan saja."
📞"Aku ingin soto ayam kak, kakak tau kan soto ayam?"
"Nanti aku belikan ya. Kamu tunggu saja di rumah."
📞"Terimakasih kak, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam.
Setelah mematikan sambungan teleponnya, Revan lalu searching mencari tau seperti apa itu Soto ayam.
Ternyata Revan tidak tau makanan itu, lucu sekali padahal ia hidup di Indonesia. Sebenarnya dulu waktu ibunya masih hidup, sang ibu sering membuatkan makanan khas Indonesia. Tapi setelah beliau tiada Revan jadi lebih suka makanan barat yang lebih praktis.
Revan melihat gambar yang ada di ponselnya, berbagai macam soto dari daerah yang berbeda-beda. Dan Revan tidak tau istrinya itu ingin memakan soto dari daerah mana.
"Mana yang harus aku beli?" bingung Revan.
__ADS_1
Tidak mau membuat istrinya menunggu lama Revan pun mencari penjual soto ayam yang paling dekat dengannya saat ini.
"Penjual soto ayam." Ujar Revan pada aplikasi petunjuk jalan.
Akhirnya setelah ada drama tersesat akibat petunjuk arah yang menuntunnya ke gang-gang sempit. Revan sampai juga di tempat yang berjualan soto ayam.
Tidak tanggung-tanggung, Revan memborong soto ayam itu sampai si ibu-ibu yang dagang kegirangan.
Entah untuk apa tapi rasanya bila sudah berjuang keras mencari jalan agar sampai ke tempat itu. Lalu hanya membeli satu porsi rasanya rugi.
Nanti bisa ia bagi dengan para penghuni rumah yang lain.
Setelah mendapatkan apa yang istrinya inginkan, Revan kembali menjalankan mobilnya. Segera pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah, Revan langsung memerintahkan pelayan untuk membantu membawakan soto ayam yang ia beli tadi.
"Mang tolong bawa ke dapur," perintahnya pada si tukang kebun.
Lalu ia masuk, tidak sabar untuk bertemu istrinya.
"Sore Tuan," sapa bi Mur yang melihat majikannya baru datang.
"Bi, tolong nanti siapkan soto yang aku bawa tadi tapi dipanaskan dulu trus bawa ke kamar," ujar Revan. "Dan sisanya bagikan pada yang lain."
Tidak lupa Revan meminta tolong pada bi Mur.
"Baik Tuan."
Bi Mur cukup terkejut tapi kemudian dia mengangguk.
Revan pun langsung pergi ke kamarnya.
Dia membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, takut sang istri sedang tidur. Lalu masuk lebih dalam dan tidak menemukan sang istri di ranjangnya.
"Rara... " Revan mencoba mencari di toilet tapi tidak ada juga.
Lalu ia melihat pintu kaca yang menuju ke balkon terbuka. Ternyata benar sang istri ada disana.
"Di luar dingin, tubuhmu belum begitu pulih."
Rara yang mendengar suara suaminya sedikit terkejut karena ia sedang melamun.
"Kak Revan sudah pulang." Rara menghampiri suaminya lalu mencium tangan.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Revan yang memperhatikan wajah istrinya.
"Tidak ada Kak, hanya ingin menghirup udara segar dan menikmati senja."
"Benarkah," Revan tidak percaya.
"Iya, apa Kak Revan mau mandi biar aku siapkan air hangat." Tidak ingin suaminya tau ia sedang memikirkan apa, Rara pun mencoba mengalihkan perhatian.
"Ayo masuk dan duduklah, kamu itu belum pulih jadi jangan terlalu lama terkena angin." Revan membawa istrinya kembali ke dalam kamar. Kemudian mendudukkannya di ranjang.
__ADS_1
"Tunggu disini, aku akan mandi dulu. Oh iya tadi aku sudah membawakan pesanan mu, bi Mur sedang memanaskannya," ujar Revan begitu perhatian pada istrinya. Ia tidak ingin istrinya kenapa-napa.
"Terimakasih Kak, maaf sudah merepotkanmu." Rara berkata dengan lirihnya.
"Jangan berkata seperti itu lagi, aku sama sekali tidak merasa direpotkan." Revan mengusap pucuk kepala sang istri. Lalu Cup, kecupan lembut juga ia sematkan.
"Aku mandi dulu sebentar, nanti kalau bi Mur datang kamu makan saja dulu." Lalu Revan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sedangkan Rara, sudah pasti ia gugup tak terkira. Perlakuan lembut suaminya selalu membuat rona merah di pipinya menyembul keluar.
Tidak lama kemudian bi Mur datang dengan membawa dua mangkuk soto ayam pesanan Rara.
"Permisi Non," ujar bi Mur.
"Masuk saja Bi, pintunya tidak dikunci." Ya memang tidak dikunci, ini masih sore untuk apa mengunci pintu.
"Ini soto ayamnya sudah saya panaskan Non." Bi Mur menunjukkannya pada nonanya.
"Taruh saja di meja bi, terimakasih." Rara masih saja bersikap sangat sopan pada para pelayan di rumah itu.
Bi Mur pun menuruti apa kata nonanya, kemudian ia pamit kembali melanjutkan pekerjaannya.
Bau makanan berkuah bening kesukaan Rara sangat menggoda indra penciuman. Gadis yang sejak pagi tidak berselera makan bahkan sudah sangat tergiur hanya dengan mencium aromanya.
"Harum sekali, aku tidak sabar memakannya tapi nanti dulu tunggu kak Revan." Rara bermonolog sendiri, meski air liurnya hampir menetes tapi ia tetap ingin menunggu suaminya untuk makan bersama.
"Sabar ya kalian, sebentar lagi aku akan menghabiskan kalian," Ujar Rara pada makanan di depannya karena kini ia sudah berpindah duduk di sofa.
Setelah cukup lama menyiksa perut yang sudah berdendang sejak tadi. Akhirnya Revan selesai juga mandinya. Tidak taukah dia jika sang istri menunggu.
"Kenapa kau belum memakannya?" tanya Revan saat melihat soto ayam itu masih utuh tak tersentuh.
"Aku menunggu kak Revan, biar kita makan sama-sama."
Revan gemas melihat istrinya, yang tampak sudah tidak sabar untuk menyantap makanan itu tapi lebih memilih menunggunya.
"Ayo kita makan, nanti jadi dingin lagi." Revan pun mendudukkan dirinya di samping istrinya.
Rara pun menyambutnya dengan gembira, akhirnya ia bisa menikmati salah satu makanan kesukaannya setelah sekian lama.
Namun...
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1