
°°°
Setelah melewati perjalanan yang panjang akhirnya Revan dan Mike sampai juga di kediaman keluarga Herwaman.
"Kita sampai Tuan," ujar Mike pada Revan yang tertidur di mobil, mungkin karena kelelahan dan kurang istirahat jadilah dia tertidur.
"Hmmm....," Revan mengerjapkan matanya lalu melihat kalau dia sudah benar-benar sampai di rumahnya.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku dari tadi Mike? Kan sudah aku bilang kalau kau bangunkan aku sebelum sampai," tegur Revan yang perintahnya diabaikan oleh Mike.
"Maaf Tuan, itu karena saya juga tertidur tadi." Mike mengatakan yang sebenarnya.
Revan pun menyipitkan matanya tapi kemudian dia memaklumi karena Mike pasti sama lelahnya dengannya. Kalau saja tidak meninggalkan istri yang sedang hami tua pastilah mereka tidak akan tergesa-gesa di luar negeri. Bisa cukup istirahat juga.
"Mike apa aku sudah tampan?" tanya Revan sebelum turun dari mobil. Dia merasa harus tetap kelihatan sempurna saat bertemu dengan istrinya nanti.
"Sudah Tuan, bukankah Anda sudah tampan dari lahir," sindir Mike.
"Apa maksudmu Mike, apa kau sudah bosan bekerja dengan ku?" tanya Revan dengan nada penuh ancaman.
"Sebaiknya kita segera turun Tuan, semua orang sudah menunggu." Mike pun turun lebih dulu tanpa menghiraukan tatapan tajam dari atasannya.
Cih... mana ada bawahan yang kurang ajar pada atasannya seperti itu.
Di dalam rumah.
Semua orang memang telah menantikan kedatangan Revan dan Mike. Bahkan baby Nathan sudah rewel sejak tadi ingin segera bertemu papahnya.
"Nathan kenapa Kak, kenapa tiba-tiba jadi menangis seperti itu?" Rara dan semua orang pun ikut merasa kasihan bada bayi menggemaskan itu.
"Tidak apa-apa Ra, dia memang seperti ini kalau mau bertemu dengan papahnya. Mungkin dia sudah tidak sabar atau terlalu excited, entahlah aneh memang. Nanti kalau papahnya sudah pulang dia akan dia sendiri," ujar Febby sedang berusaha menenangkan putranya.
"Waah mungkin itu karena ikatan batin mereka kak. Nathan pasti sangat sayang pada papahnya, sampai bisa merasakan perasaan seperti itu."
"Iya mungkin Ra, mereka berdua memang sangat lengket. Saat Mike libur, Nathan bisa anteng bersamanya seharian. Bahkan sama sekali tidak mencari ku, dia cukup dengan stok ASI yang ada di kulkas. Jadi aku bisa istirahat seharian." Febby menceritakan bagaimana Mike begitu telaten sebagai ayah. Walaupun sudah bekerja seharian pun, Mike akan selalu meluangkan waktu untuk putranya setelah pulang.
"Beruntung sekali Kak Febby punya suami pengertian seperti itu. Aku ikut bahagia melihat nya Kak," ujar Rara.
"Iya Ra, aku sangat bersyukur punya laki-laki sebaik Mike dalam hidup ku."
Beberapa saat kemudian. Mike dan Revan pun masuk ke dalam rumah.
Seketika suasana riuh tangisan baby Nathan pun langsung meredam.
__ADS_1
"Ya ampun, ternyata benar Nathan langsung diam setelah melihat papahnya."
Semua orang pun tertegun menatap heran pada bayi itu.
Sementara Revan yang baru masuk justru merasa kalau semua orang menatapnya dan merasa terharu karena semua orang begitu menantikan kedatangannya.
"Assalamualaikum semuanya," ujar Revan.
Semua orang pun menjawab salamnya tapi tatapan mereka entah pada siapa.
Seketika Revan pun mengikuti apa yang mereka lihat, dan ternyata mereka sedang melihat interaksi antara Mike dan putranya.
"Kak Mike seperti hot Daddy," kagum Rara.
Sontak Revan melotot tak percaya karena kedatangannya di sana justru tidak dipedulikan.
"Sayang... bagaimana kabarmu dan anak kita?" Revan mencoba menarik perhatian istrinya.
"Baik Kak, putra kita juga baik. Ohh lihatlah itu... baby Nathan sangat bahagia dengan kedatangan papahnya. Kak Mike juga sudah sangat pandai menggendong putranya." Rara masih saja memperhatikan orang lain, sementara sang suami sudah berwajah masam.
"Sayang aku lapar," ujar Revan setengah merengek.
"Makan siangnya sudah siap Kak, sebentar lagi kita akan makan bersama."
Huft Apanya yang hot Daddy? Aku juga bisa kalau cuma seperti itu. Aku pasti lebih hot nanti saat merawat anakku. Lihat saja.
Revan menusuk-nusuk makanannya dengan kesal.
"Kak kenapa tidak dimakan? Katanya lapar tadi, apa kau mau makanan milikku?" tawar Rara dengan pengertian.
"Tidak sayang, aku hanya sedang kesal saja."
"Kesal pada siapa?" tanya Rara.
"Tidak apa-apa, kau makanlah makananmu," ujar Revan.
"Kak apa kau tau, kak Mike bahkan menyuruh kak Febby untuk makan duluan padahal dia juga pasti lapar kan seperti kak Revan. Tapi dia lebih memilih untuk mengurus putranya dulu, katanya kak Febby tidak boleh kelaparan nanti ASI nya jadi tidak banyak." Rara memuji Mike lagi.
Namun kali ini Revan tersenyum miring mendengar alasan Mike yang begitu perhatian pada istrinya.
Terang saja Mike menyuruh istrinya makan yang banyak agar dia bisa ikut menyusu nanti.
Selesai makan, semua orang pun berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol kecuali Mike dan Febby yang sedang menidurkan putra mereka di kamar tamu.
__ADS_1
Semua orang memuji Mike karena selalu sigap membantu istrinya dan selalu ingin terlibat dalam urusan putranya tapi tidak dengan Revan yang justru terkekeh geli membayangkan sedang apa Mike sekarang.
"Kau kenapa Kak?" tanya Rara yang merasa aneh pada suaminya.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang membayangkan bayi besar yang sedang menyusu," bisik Revan karena tak ingin ada yang mendengarnya.
"Bayi besar apa si kak, kak Febby juga sering bilang seperti itu." Rara tak paham.
Sebaiknya kamu memang tidak tau Sayang.
Beberapa saat kemudian. Tiba-tiba ada yang aneh dengan perut Rara. Rasa sakit yang kemarin sudah hilang datang kembali tapi dia berusaha menahannya dan tidak membuat panik semua orang. Rara takut kalau kontraksi itu seperti kemarin yang akhirnya hilang setelah beristirahat.
Ohh astaghfirullah... kenapa sakit sekali.
"Sayang kau kenapa?" tanya Revan saat tiba-tiba Rara mencengkeram tangannya.
"Ha... tidak apa-apa Kak, tadi baby A menendang," ujarnya dengan meringis menahan sakit yang tiba-tiba datang lagi.
"Benarkah? Apa dia tau kalau ayahnya sudah pulang." Revan pun mengusap lembut perut istrinya.
Usapan itu ternyata sedikit mampu mengurangi rasa sakit yang dirasakan Rara.
"Kenapa tidak menendang lagi?" tanya Revan seraya berhenti mengusap.
"Elus-elus lagi Kak...," pinta Rara.
"Kenapa sayang... apa ada yang salah?"
"Tidak apa-apa Kak, aku hanya ingin tangan kak Revan tidak berhenti mengelus seperti tadi."
Saat semua orang sibuk berbincang , tiba-tiba Rara berteriak kencang dan membuat semua orang panik.
"Aawww... sakit kak..."
"Kenapa sayang, apa aku menyakiti mu?" Revan yang sedang mengusap perut istrinya pun panik, padahal sejak tadi dia mengusap dengan sangat lembut.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Terimakasih❤️❤️
__ADS_1