
°°°
Rara baru mengerjapkan matanya saat hampir jika enam sore, tidurnya begitu nyenyak karena kelelahan.
"Euggghhh...," Rara meregangkan tubuhnya.
"Aku ketiduran ternyata, sudah hampir Maghrib. Aku harus cepat-cepat mandi." Monolog Rara seraya melihat jam di dinding kamarnya.
Setelah mandi yang singkat Rara pun melaksanakan shalat Maghrib, tidak lupa ucap syukur senantiasa ia panjatkan. Mendoakan orang-orang disekitarnya terutama suaminya, agar sang suami selalu diberikan kesehatan karena sedang sibuk-sibuknya.
Setelah selesai Rara langsung turun ke bawah untuk memasak makan malam, biasanya jika turun agak telat para pelayan sudah mulai memasak. Rara tinggal mengerjakan apa yang ia inginkan.
"Bi apa kakek sudah pulang?" tanya Rara pada bi Mur.
"Belum Non, apa mungkin beliau lembur malam ini." Tebak bi Mur karena biasanya majikannya akan lembur bila matahari sudah terbenam tapi belum pulang.
"Tapi kata kak Revan, kakek makan malam di rumah Bi." Rara juga bingung, apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada kakeknya. Apa ia harus menelpon untuk memastikan.
"Apa aku telepon kak Revan saja Bi, untuk memastikan kakek sudah pulang atau masih ada disana. Aku sedikit khawatir, perasaan ku tidak enak." Rara sangat mengkhawatirkan kakek Tio, beliau lah orang yang sangat menyambut kedatangannya di rumah ini saat pertama kali Rara datang.
"Iya Non, lebih baik begitu saja." Bi Mur juga setuju, bagaimana pun kakek Tio adalah majikan yang sangat baik.
"Sebentar bi," Rara merogoh sakunya, tapi ternyata ponselnya tidak ada di sana.
"Ponselku ada di kamar sepertinya, sebentar aku ambil dulu. Bibi tolong teruskan masakannya."
"Tunggu Non, pakai ponsel bibi saja biar lebih cepat." Bi Mur menyodorkan ponselnya.
Rara pun setuju, untunglah Revan langsung mengangkat panggilan darinya.
📞"Hallo bi, ada apa?"
Kak Revan pasti mengira aku bi Mur. Pikir Rara.
"Ini aku Kak," jawab Rara.
📞"Rara, ada apa. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada Kak, aku hanya mau tanya. Apa kakek masih disana atau sudah pulang?" tanya Rara.
📞"Kakek sepertinya sudah pulang sejak tadi, apa kakek belum sampai di rumah?"
"Belum Kak," kekhawatiran Rara bertambah.
__ADS_1
📞"Tenanglah, mungkin sebentar lagi kakek sampai. Atau sedang mampir sebentar."
"Semoga saja seperti itu Kak," lirih Rara, dia tidak menceritakan kekhawatirannya pada sang suami. Takut membuat suaminya kepikiran.
📞"Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"
"Ehh... tidak ada Kak," ujar Rara, tidak menangkap apa maksud suaminya.
📞"Benarkah, padahal aku ingin sekali di tanya sudah makan atau belum. Tapi ya sudahlah, sepertinya istriku tidak mengkhawatirkan suaminya."
Rara melihat layar ponsel milik bi Mur, apa dia tidak salah menelpon. Apa benar itu suaminya?
"Benar ini nomor Kak Revan," gumam Rara.
Mendadak ia ingat, bagaimana sikap suaminya tadi sore saat enggan untuk kembali berangkat.
Sepertinya mulai saat ini Rara harus mengimbangi sikap suaminya yang seperti itu.
"Apa kakak sudah makan?" tanya Rara yang tidak ingin membuat suaminya berpikir kalau dia tidak memperhatikannya.
📞"Belum, aku tidak lapar. Aku ingin makan kamu..."
Seketika pipi Rara memerah mendengar ucapan suaminya, tentu saja ia tau apa maksud dari kalimat itu. Dan disana ada para pelayan yang pasti melihatnya, walaupun tidak mendengar pembicaraan mereka tapi tetap saja Rara malu.
Revan mengulangi ucapannya.
"Kak, aku lanjut masak dulu ya. Tidak enak juga pakai ponselnya bi Mur." Rara beralasan padahal ia malu.
📞"Baiklah, aku juga mau melanjutkan pekerjaan ku. Tidak usah menungguku nanti malam, tidurlah dulu jika sudah mengantuk. Tapi aku tau kamu tidak akan bisa tidur kalau tidak aku peluk."
Rara sudah tidak sanggup rasanya, pipinya semakin memerah mendengar ucapan suaminya. Bagaimana bisa Revan berkata seperti itu? ya walaupun Rara akui memang benar jika dalam pelukan hangat suaminya, tidurnya semakin nyenyak.
"Daahh Kak, assalamualaikum." Rara memilih mengakhiri panggilan telepon itu.
📞"Wa'alaikumsalam."
Sementara Revan sangat puas menggoda istrinya, ia yakin saat ini pipi istrinya pasti sudah sangat merah. Rasanya mendengar suara dari sang istri mampu mengembalikan mood nya.
Revan sengaja mengatakan hal itu pada istrinya agar pikiran Rara tidak terlalu khawatir pada kakek. Dia bisa tebak kemana perginya kakek saat ini. Biasanya memang seminggu sekali, Kakek harus melakukan cek up di rumah sakit.
Namun, Revan tidak ingin mengatakannya pada Rara. Biarkanlah kakek sendiri yang bercerita pada mereka semua, karena Revan tau juga karena mencari tau sendiri.
"Kakek harus baik-baik saja," pintanya penuh harap.
__ADS_1
Kembali ke rumah.
Rara masih merona malu sambil mengaduk-aduk masakan. Ia tidak habis pikir, dari mana suaminya belajar berkata-kata manis seperti itu.
Sementara bi Mur, tidak bertanya lagi. Melihat wajah nonanya yang tersipu-sipu, ia yakin tidak ada yang terjadi dengan majikannya.
Selang beberapa saat kemudian, kakek sampai di rumah. Kakek pun menghampiri cucu menantunya yang sedang menyiapkan makan malam.
"Assalamualaikum nak."
"Wa'alaikumsalam Kek," jawab Rara seraya mencium tangan kakeknya.
"Suamimu lembur, apa kamu sudah tau," ujar kakek.
"Aku sudah tau Kek, kak Revan sudah memberitahu ku tadi sore. Apa kakek sakit? Kenapa wajah kakek sangat pucat." Khawatir Rara. Wajah kakek yang memucat serta kuyu membuatnya berpikir demikian.
"Kakek tidak apa-apa, nak. Hanya kelelahan saja." Kakek mencoba tersenyum.
"Kakek istirahat saja di kamar, biar nanti aku bawakan makan malamnya ke kamar kakek," ujar Rara.
"Baiklah, kakek ke kamar dulu. Ayo pak Ahmad." Kakek pun berjalan ke arah lift di bantu pak Ahmad yang selalu ada disampingnya. Dia tidak membantah apa kata cucu menantunya karena memang tubuhnya terasa sangat lemah saat ini.
Rara terus memandangi punggung kakek yang sedang berjalan, entah kenapa rasanya hatinya sakit melihat kondisi kakek. Namun, ia tidak bisa banyak bertanya meski ia merasa Kakek menyembunyikan sesuatu dibalik kata 'tidak apa-apa.'
"Bi, apa kau juga merasa ada yang kakek sembunyikan?" tanya Rara.
"Mungkin memang tuan kakek sedang kelelahan Non." Bagi bi Mur yang sudah puluhan tahun bekerja di sana tentu sangat menyadari hal itu. Dia pun sudah tau apa penyebab wajah tuannya pucat. Tapi kembali lagi, dia hanyalah pelayan di rumah itu. Tidak berhak dirinya bercerita tentang keadaan tuannya.
"Tapi aku rasa kakek tidak baik-baik saja Bi. Semoga saja itu hanya perasaanku saja. Aku harap kakek bisa sehat selalu dan berumur panjang."
Tidak sempat merasakan kasih sayang kakek, Rara tentu merasa sangat bersyukur bisa mendapatkannya dari kakek Tio. Kakeknya sendiri yang merupakan teman dari kakek Tio, meninggal ketika kakaknya masih kecil.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1