Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
192. Ibu-ibu Minta ditabok


__ADS_3

°°°


Saat Rara dan Revan hendak pergi tiba-tiba mamah Wina menarik tangan Rara dan sudah mengangkat satu tangannya mau memukul wajah cantik wanita itu.


"Aa...." Rara teriak dan memejamkan matanya, saat melihat tangan itu hampir menyentuh pipinya.


Untunglah Revan dengan sigap menangkap tangan mamah Wina sehingga tidak sempat menyentuh wajah istrinya. Seketika Revan terpancing emosi nya, bagaimana ada orang yang berani berniat buruk pada istrinya bahkan di depan matanya.


Revan menatap mamah Wina dengan kilatan amarah. Wajahnya bahkan sudah memanas.


Sementara Rara yang tidak merasakan apapun akhirnya membuka matanya dan melihat suami dan mamahnya Febby saling tatap dengan tajam. Baru kali ini Rara melihat wajah suaminya merah padam karena marah. Dia pun kemudian bersembunyi dibelakang suaminya dan memeluk lengan pria itu.


"Kak...," lirih Rara yang sedikit takut dengan situasi itu.


"Apa yang mau anda lakukan pada istri ku?" Geram Revan.


"Lepaskan tanganku, aku mau memberi perempuan sok suci itu pelajaran." Mamah Wina berontak dan kekeuh ingin menyakiti Rara. Entah dia sadar atau tidak, kini dia sudah benar-benar berakhir.


Revan semakin keras mencengkeram pergelangan tangan wanita tua yang tidak tau diri itu sampai wanita itu mengaduh kesakitan.


"Lepaskan tanganku Van, sadarlah kalau istrimu ini cuma wanita sok suci. Febby juga bisa kalau cuma memakai kerudung," cibir mamah Wina.


"Tante sudah sangat keterlaluan, Tante boleh marah padaku tapi istriku sama sekali tidak tau apa-apa. Aku akan menuntut tindakan tante barusan," tegas Revan yang membuat mamah Wina membelalakkan matanya.


"Apa maksudmu Van, apa kau mau melaporkan Tante. Tante hanya membela Febby, sebagai orang tua Tante tidak terima putri Tante diperlakukan seperti itu." Mamah Wina mulai ketakutan, bagaimana kalau sampai Revan benar-benar menjebloskannya ke penjara.


"Cukup mah! Kenapa mamah tidak bisa membiarkan hidupku tenang. Jangan menyalahkan mereka mah, mereka adalah temanku sekarang." Febby yang mendengar keributan di luar kamar pun melihat apa yang terjadi dan betapa terkejutnya saat melihat mamahnya hendak menyerang Rara.


"Ini mamahmu Feb, wanita yang sudah melahirkan mu tapi kamu malah membela mereka yang sudah membuat hidup kamu menderita." Mamah Wina tidak terima dipojokkan.


Petugas keamanan pun datang karena mendengar keributan yang sudah mengganggu kenyamanan rumah sakit itu. Tapi mereka menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang sedang berdebat. Mereka tidak berani melerai Revan yang notabene donatur rumah sakit itu.


"Security, tolong bawa wanita ini keluar dari rumah sakit ini dan jangan membiarkan dia kembali masuk kemari." Revan menyuruh petugas keamanan untuk membawa mamah Wina pergi.

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab mereka lalu menghampiri mamah Wina.


"Tidak, jangan mendekat atau aku akan katakan pada semua orang kalau rumah sakit ini sangat buruk pelayanannya," ancam mamah Wina.


"Cukup mah!! Tolong pergilah dari sini. Jangan membuat keributan lagi," pinta Febby, dia sungguh malu saat semua orang menatapnya.


Rara pun menghampiri Febby, tidak bisa ia bayangkan bagaimana perasaannya berdebat dengan ibunya sendiri.


"Kak, ayo kita masuk saja," ajak Rara pada Febby. Dia juga mengkhawatirkan kandungan wanita itu. Walaupun terlihat kuat dan baik-baik saja tapi dalam hatinya pasti sangat menderita.


"Ini mamahmu Feb, seharusnya kau membela mamahmu." Mamah Wina mencak-mencak.


"Kalau Tante tidak mau pergi, tuntutan Tante bisa bertambah karena membuat keributan di tempat pelayanan publik." Revan memberi tanda pada security agar segera membawa mamahnya Febby pergi.


Wanita itu meronta dan mengamuk saat security membawanya keluar. Mulutnya juga tidak berhenti mengumpat dan menjadi tontonan pengunjung dan pasien rumah sakit.


Revan segera menghubungi pengacaranya, bukan apa-apa tapi kalau dibiarkan takutnya wanita itu akan semakin berani menyakiti istrinya. Setidaknya ia berharap kalau wanita itu bisa sadar kalau diberi sedikit pelajaran.


Di dalam ruangan.


"Kak Febby minum dulu biar tenang." Rara menyerahkan segelas air putih.


"Terimakasih Ra," ujar Febby, dia pun meminumnya.


"Maafkan mamahku, dia sudah keterlaluan padamu tadi. Aku juga tidak tau bagaimana mamah bisa jadi seperti itu," Febby terisak membuat Rara tak tega.


"Sudah Kak, jangan dipikirkan. Kak Febby tidak perlu memikirkan apapun, fokus saja pada kandungan kakak dan assisten Mike." Rara tidak marah pada mamahnya Febby.


"Aku tidak tau harus bagaimana menyikapi mamah Ra. Setiap dia kemari hanya menyuruh ku untuk meninggalkan Mike dan tadi dia juga menyuruh ku untuk menggugurkan anak ini saat dia tau aku sedang mengandung." Febby sebenarnya tidak ingin menceritakan aib ibunya, tapi rasanya terlalu berat saat dia harus menyimpan semua masalah nya sendiri.


"Astaghfirullah... kenapa Tante bisa berpikir seperti itu pada cucunya sendiri," heran Rara. Setau dia para orang tua itu pasti sangat senang kalau akan mendapatkan cucu.


"Aku juga tidak mengerti Ra, mungkin kalau Mike sadar semuanya tidak akan jadi seperti ini. Hiks... "

__ADS_1


"Sampai kapan dia tertidur dan membiarkan aku sendiri seperti ini," Kali ini Febby benar-benar mengeluarkan unek-uneknya.


"Apa Tuhan belum puas memberikan aku hukuman, apakah pendosa seperti ku tidak pantas bahagia."


Rara memeluk Febby, dadanya ikut sesak mendengar suara tangisan Febby yang begitu terdengar memilukan.


"Jangan berpikir seperti itu Kak. Kak Febby itu wanita yang kuat dan pasti bisa melewati semua ini. Mungkin Allah sudah menyiapkan kebahagiaan yang tidak pernah kak Febby bayangkan dibalik ini semua."


"Sabar ya Kak... bersabarlah demi anak kakak dan assisten Mike. Mungkin ini adalah cara Allah menghapus dosa-dosa kakak."


Dua orang wanita itu saling menguatkan. Revan yang tadi hampir masuk juga mengurungkan niatnya, membiarkan mereka berdua. Saat ini Febby pasti butuh seseorang untuk bersandar.


Revan memilih menyingkir dari sana dan pergi menemui dokter untuk menanyakan keadaan Mike.


"Ra, apa kau mau mengajariku sholat?" tanya Febby, dia sadar kalau selama ini dia sudah terlalu jauh dengan Sang Maha Pencipta. Dan saat dia sendiri, dia ingin mengadu dan berdoa pada Tuhan tapi dia tidak tau caranya.


Sang mamah bahkan tidak pernah mengajari nya sholat ataupun mengaji. Dia mendapatkan ilmu agama hanya dari bangku sekolah dan itu sangat minim.


Rara yang mendengar hal itu pun sangat senang dan tentunya dia sangat mau.


"Tentu aku mau Kak, aku akan membantu kak Febby belajar yang mudah-mudah. Seperti sholat dan mengaji. Kalau kak Febby nanti mau lebih mendalami nya lagi, kita bisa mencari seorang kemuka agama yang lebih mengerti tentang agama kita."


Rara lega mendengar perubahan Febby sekaligus menjadi saksi bagaimana wanita itu menjadi lebih baik. Semoga dengan begitu hatinya jadi lebih tenang dan sabar.


to be continue...


°°°


Ampun deh... ini sepertinya mamahnya yang durhaka ya. Mentang-mentang dia sudah melahirkan Febby terus merasa kalau apa yang ia lakukan untuk Febby itu semuanya benar.


Semoga cepat sadar ya tuh orang tua.


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2