
...Yang masih punya sisa Vote boleh dong dibagi buat author yang sedang merangkak ini....
...Wo ai ni...
°°°
Namun, baru saja Rara ingin menikmati soto ayam dengan versi nya sendiri tiba-tiba suara sang suami menghentikannya.
"Untuk apa kamu mengambil itu." Bola mata Revan menatap tangan istrinya yang sedang mengambil sambal.
"Ini sambal Kak," bengong Rara.
"Iya aku tau itu sambal, tapi untuk apa kamu memakai itu." Revan menyipitkan matanya. Istrinya itu kemarin bermasalah perutnya lalu sekarang mau makan sambal. Revan tidak akan membiarkan itu terjadi.
Rara bingung mau menjawab apa jadinya. Tentu saja ia memakai sambal biar rasa soto ayam itu semakin lengkap. Tapi sepertinya ia sudah menebak maksud ucapan suaminya.
Rara mulai berpikir keras untuk mencari kata-kata yang pas, agar suaminya mengijinkannya memakai sedikit sambal karena tidak akan enak jika makanan tanpa sambal.
"Ini biar semakin enak Kak, aku biasanya begini kalau makan soto, bakso, mie ayam dan yang lainnya."
Muka polos tanpa salah itu sepertinya tidak mempan untuk mengecoh suaminya. Terbukti saat ini Revan sedang menyingkirkan wadah sambal itu dari hadapan Rara.
"Kali ini tidak ada sambal, perutmu masih belum sehat. Bisa terjadi peradangan jika kamu terus menerus makan pedas." Revan tidak akan mentolerir hal yang bisa membahayakan kesehatan istrinya.
"Tapi aku hanya datang bulan Kak," ujar Rara dengan muka memelas.
"Bukannya wanita datang bulan juga tidak boleh makan pedas dan kemarin perut kamu juga bermasalah. Apa tidak ingat?"
Rara tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia pun memaksakan senyumnya saat ini. Tidak tau apa jadinya jika dirinya harus dijauhkan dari sambal. Tidak menyangka suaminya sangat tau tentang kesehatan.
"Sedikit saja ya Kak, bolehkan?" rayu Rara seraya memasang wajah imutnya.
"Tidak sampai kau benar-benar sembuh." Keputusan Revan tidak bisa diganggu gugat, sekalipun Rara memohon. Itu semua juga demi kebaikannya.
Mau tidak mau Rara mulai memakan soto ayam yang ia idam-idamkan sejak kemarin. Walaupun tanpa sambal yang biasanya menambah sensasi nikmat dan berkeringat.
Rasanya hambar, keluh Rara dalam hatinya.
Namun, Rara tidak keras kepala karena ia tau maksud suaminya. Ia malah bersyukur Revan melarangnya makan sambal, jika tidak pasti ia akan kalap tak peduli lagi dengan sakitnya.
__ADS_1
Akhirnya habis juga satu mangkuk soto ayam milik Rara, meski tanpa sambal.
Revan juga sudah menghabiskan miliknya, ia rasa sudah pernah memakan makanan itu tapi lupa terakhir kapan.
"Apa Kak Revan menyukainya?" tanya Rara, ia tidak menyuruh suaminya itu makan soto ayam juga. Tapi malah ikut beli juga. Padahal semua orang di rumah itu juga sama.
"Lumayan enak juga, aku suka," jawab Revan.
,,,
Malamnya, di meja makan hanya ada Revan dan kakek Tio saja. Rara masih dilarang untuk bergerak terlalu banyak. Meski gadis itu bilang sudah mendingan tapi sang suami tidak mau mengambil resiko.
"Bagaimana keadaan Rara?" tanya kakek, beliau belum sempat menjenguk cucu menantunya. Tadi saat kakek pulang Rara sedang tidur.
"Sudah mendingan Kek, tapi aku belum mengijinkannya turun. Biar nanti dia makan di kamar." Revan menjelaskan pada kakeknya, dia sendiri tidak banyak menyantap makan malamnya karena makan soto ayam tadi masih membuatnya kenyang.
"Kakek juga setuju, biarkan Rara memulihkan kondisi tubuhnya agar cepat bisa membuat cicit untuk Kakek."
"Kakek..." Peringat Revan pada sang kakek. Bukannya kemarin sudah sepakat untuk tidak membahas hal itu lagi.
"Kenapa, kakek kan janji tidak akan membahasnya di depan Rara. Tapi tidak apa jika hanya di depanmu." Kakek tidak mau kalah dengan cucunya.
Revan menghela nafasnya pelan, sulit sekali jika sudah berdebat dengan kakeknya pasti ia kehabisan kata-kata.
Sementara kakek Tio langsung menjenguk Rara di kamarnya.
"Bagaimana keadaanmu nak." Kakek sudah duduk di kursi dekat ranjang.
"Sudah sangat mendingan Kek, tidak seperti kemarin," jawab Rara sedikit terharu atas perhatian kakek.
"Apa kamu memberi tau umi dan Abi mu?"
"Aku tidak cerita pada mereka, Kek. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan tubuhku juga sudah merasa enakan."
Jika diberi tau umi dan Abi pasti akan langsung datang. Rara tidak mau itu. Kondisi tubuh Abinya tidak terlalu bagus dan baru saja melakukan perjalanan jauh jadi gadis itu tidak mau membuat Abinya repot dan kepikiran.
"Kakek mengerti nak, jangan membuat mereka kepikiran. Ada kakek dan suamimu disini yang akan menjagamu. Kami tidak akan membiarkanmu kenapa-napa." Kakek mengusap lembut kepala Rara.
"Terimakasih Kek," ujar Rara penuh syukur.
__ADS_1
"Sama-sama nak, kau tidak perlu sungkan. Kakek dan Revan bukan orang lain, kami keluarga mu sekarang. Jangan pernah merasa sendiri disini."
Kakek Tio menyayangi Rara seperti cucu kandungnya sendiri. Dari pertama melihatnya beliau sudah yakin jika gadis ini satu-satunya yang pantas mendampingi cucunya. Dan beliau juga yakin jika Rara mampu memberikan warna dalam kehidupan keluarganya.
Kalau sayang kenapa membiarkan Rara terluka oleh cucunya sendiri? Kenapa tidak membelanya, tidak membantunya.
Pertanyaan seperti itu yang banyak muncul di hati pembaca termasuk saya juga yang nulis.
Entahlah, kakek Tio merasa mereka sudah dewasa dan bisa memilih mana yang baik dan yang buruk. Masalah juga tidak hanya datang satu kali, dalam berumah tangga pasti akan ada masalah terus menerus.
Jika kakek membantu mereka saat ini lalu mereka terima beres dan tidak belajar apa-apa. Lalu bagaimana jika nanti kakek Tio telah tiada, siapa yang akan menjadi tempat mereka bergantung.
Mereka harus mampu berdiri sendiri jika ingin memperkuat ikatan pernikahan yang mereka jalin. Dan percayalah pada Tuhan, tidak ada manusia yang mendapatkan cobaan melebihi batas kemampuannya.
Jika Tuhan saja yakin mereka bisa, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya adalah proses, proses pendewasaan dan mencari jati diri. Dimana kita belajar bersabar, mengontrol emosi dan memikirkan semuanya sebelum bertindak.
Revan yang sejak tadi berdiri di depan pintu dan mendengar percakapan kakek dan istrinya pun terharu. Sekaligus ia bersyukur karena telah menyadari kesalahannya sebelum terlambat.
Tidak bisa ia bayangkan jika terus menyia-nyiakan istri seperti Rara.
Revan pun masuk ke dalam kamarnya, terlihat kakek dan istrinya sedang bersenda gurau. Tawa kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, membuat hatinya menghangat.
"Apa yang kalian bicarakan sepertinya asyik sekali." Revan ingin ikut juga.
"Kau tidak boleh tau karena kakek sedang membicarakan mu," ujar kakek dan membuat pria itu penasaran juga.
Revan menatap wajah istrinya, ternyata Rara tidak tau jika harus berpura-pura. Gadis itu pun mengangkat alisnya, karena memang ia merasa tidak membicarakan suaminya itu. Sejak tadi kakek membicarakan soal mendiang ibu mertuanya. Sama sekali tidak ada membicarakan tentang pria itu.
Namun, bukan kakek namanya jika ia tidak meledek cucunya.
"Apa itu benar yang dikatakan kakek?" tatap Revan pada istrinya yang nampak bingung.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...