Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
193. Ledekan Kakak Ipar


__ADS_3

°°°


Malamnya.


Rara sedang duduk di ranjang menunggu suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Karena tadi ada kejadian tak terduga di rumah sakit, mereka jadi agak lama di sana.


Tiba-tiba Rara teringat ke dua orangtuanya, kemarin saat suaminya kecelakaan dia tidak memberi tau keluarga nya. Dia tentu tidak mau membuat mereka khawatir.


Umi dan Abi sudah tidur atau belum ya kira-kira? pikirnya.


Aku telepon mbak Luna aja, dia pasti belum tidur.


Rara mulai mengsecrol kontak di ponselnya, mencari nama sang kakak lalu dia menekan tombol video call.


Tut Tut Tut


📞"Hallo, assalamualaikum Dek."


"Wa'alaikumsalam Mbak, mbak Luna sedang apa?" tanya Rara.


📞"Aku sedang mengerjakan pengelolaan pabrik Abi yang sekarang sudah berhasil dikirim ke berbagai kota di Indonesia."


"Waahh... aku bangga sekali pada Mbak, mbak benar-benar bisa membawa produk tahu pabrik Abi ke berbagai kota." Rara sangat bangga pada kakaknya.


📞"Terimakasih Dek, aku juga senang akhirnya aku bisa mewujudkan mimpi Abi. Pabrik jadi ada kemajuan dan tidak jalan di tempat, kalau setiap harinya melulu dikirim ke pasar."


📞"Ehhh kenapa jadi bahas pabrik sih. Kamu telepon pasti mau bicara pada Abi dan Umi kan, sebentar aku cari mereka dulu."


"Iya Mbak, santai aja. Aku juga senang mendengar cerita mbak selama di desa."


📞"Abi, umi ini putri kesayangan kalian ingin bicara."


Rara tersenyum mendengar ledekan kakaknya.


📞"Assalamualaikum nak, Rara kamu apa kabar."


Suara umi terdengar sangat menangkan di telinga sang putri.


"Wa'alaikumsalam umi. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Kabar umi dan Abi bagaimana? mbak Luna menjaga kalian dengan baik kan?" tanya Rara, seraya menyindir kakaknya yang pasti ikut mendengarkan pembicaraannya.


📞"Tentu saja aku menjaga umi dan Abi dengan baik."


Rara terkekeh mendengar kakaknya kesal.

__ADS_1


"Abi mana?" tanya Rara yang belum mendengar suara Abinya.


📞"Assalamualaikum nak."


Sekarang di layar ponselnya ada wajah sang Abi yang sangat ia rindukan.


"Wa'alaikumsalam Abi. Apa kabar, aku rindu sekali pada Abi dan semuanya." Rara ingin sekali ada di tengah-tengah mereka, tapi ia sadar kalau sekarang yang menjadi prioritas utamanya adalah sang suami.


📞"Kabar kami baik nak , kami juga merindukanmu. Sudah lama kami ingin mengunjungi mu, tapi kakak kamu sedang sedikit sibuk saat ini. Jadi kami belum bisa datang."


"Tidak apa-apa Abi, seharusnya aku yang datang menjenguk kalian."


Rara merasa bersalah karena belum juga bisa datang melihat keluarga nya.


📞"Tidak apa-apa sayang. Suamimu itukan sibuk, dia juga orang penting. Tidak bisa seenaknya dia pergi, nanti karyawannya iri kalau atasannya pergi berlibur."


Rara tersenyum mendengar ucapan Abinya. Sekarang Abinya itu bahkan membela suaminya, padahal dulu mereka sempat dibuat kecewa oleh menantunya.


"Kami akan datang akhir pekan." Revan yang baru kembali dari ruangan kerjanya, tiba-tiba langsung ikut berbicara pada mertuanya dan yang membuat Rara kaget adalah ucapannya yang mengatakan akan datang ke rumah Abi akhir pekan.


📞"Benarkah? kami senang sekali mendengarnya. Nanti Abi akan suruh umi untuk memasak makanan kesukaan kamu."


Rara terharu melihat betapa bahagianya sang Abi mendengar kalau putrinya mau datang. Datang berkunjung ya bukan pulang karena rumah Rara sekarang bersama suaminya.


Ternyata sang kakak juga sangat antusias mendengar adiknya akan datang.


"Iya mbak...." Rara mengiyakan semua perkataan kakaknya yang panjang dan berisik kalau sudah nyerocos.


Rara menatap suaminya sekilas, tersenyum dan mengedipkan matanya sebagai tanda terimakasih karena ia masih melakukan panggilan video call.


📞"Di mana suamimu nak? Tolong berikan padanya, umi mau bicara." Saat ini umi yang memegang ponsel.


"Assalamualaikum umi, Abi dan kakak ipar. Apa kalian?" tanya Revan dengan begitu sopan.


📞"Alhamdulillah, kabar kami baik nak. Oh iya umi ingin tanya apa makanan kesukaan kamu. Biar nanti umi masakan kalau kalian mau ke sini."


Rara menatap suaminya juga menunggu apa yang mau ia katakan pada sang umi. Selama ini dia bukan tipe yang pemilih makanan, apa saja yang Rara masak pasti dia suka. Ya dia suka masakan rumahan, apapun itu yang di masak penuh kasih sayang.


"Aku akan makan apa yang disukai Rara, umi," ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada sang istri, membuat umi ikut tersenyum.


📞"Kau romantis sekali nak, baiklah umi tidak bertanya lagi. Umi akan masak makanan kesukaan Rara kalau kalian mau datang."


📞"Hai adik ipar, apa kau sudah berhasil membuatkanku keponakan?"

__ADS_1


Sontak pipi Rara bersemu merah mendengar kakaknya menanyakan hal itu.


"Doakan saja kakak ipar, kami sedang berusaha," seloroh Revan yang lalu mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.


📞"Hai, Dek. Apa kamu sudah menggunakan semua yang pernah kita beli waktu itu."


Ya ampun, mbak Luna kenapa menanyakan hal itu saat ada kak Revan. batin Rara.


Benar saja kan saat ini suaminya menatap penuh arti.


"Sudah dulu ya Mbak, kasihan umi dan Abi harus istirahat. Assalamualaikum..." pamit Rara dari pada kakaknya semakin banyak bertanya yang tidak-tidak.


📞"Baiklah, kalian lanjutkan saja membuatkanku keponakan yang lucu. Hahaha..."


Tawa Luna terdengar sangat puas, sementara Rara sudah malu setengah mati.


📞"Jangan dengarkan mbak mu, Ra. Dia memang seperti itu. Ya sudah kalau begitu kamu istirahat ya, besok kabari lagi kalau jadi ke rumah. Wa'alaikumsalam."


Rara melambaikan tangan sebelum akhirnya panggilan itu berakhir.


"Apa saja yang kau beli dengan kakak ipar? Apa aku sudah melihatnya semua?" tanya Revan tepat di belakang Rara.


"Astaghfirullah... kak Revan kenapa begitu dekat." Jantung Rara sudah berdebar-debar tidak karuan saat ini, lagian kenapa juga sang kakak harus membahas hal itu.


"Kenapa kaget seperti itu, seperti melihat hantu saja. Kau belum menjawab pertanyaan ku , sayang." Seringai tipis mencuat dari bibir Revan, dia sungguh di buat penasaran oleh kakak iparnya. Sebenarnya apa yang tadi kakak iparnya itu bicarakan, apakah lingerie seperti yang kemarin.


"Sayang, kenapa malam ini kamu tidak menggunakan koleksi lingerie yang ada di dalam lemari. Aku sudah menyiapkannya banyak, sayang sekali kalau tidak terpakai semua." Revan memasang wajah imutnya. Membuat Rara hampir saja mimisan melihat keimutan suaminya.


Kenapa Kak Revan punya sisi yang begitu imut seperti itu. Menggemaskan sekali, aku ingin mencubitnya. Rara gemas.


"Sayang, kenapa kau diam saja," rengek Revan seraya menduselkan wajahnya ke depan da da istrinya. Tempat ternyaman yang membuatnya candu.


"kak... jangan seperti ini," Rara merasakan tubuhnya mulai tersengat akibat sentuhan sang suami.


to be continue...


°°°


Senangnya punya keluarga seperti keluarga nya Rara 😍


Selamat beristirahat semua dan yang masih harus bekerja jangan patah semangat. 🤗


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2