
°°°
Di rumah sakit.
Rara baru saja sampai di sana untuk menemani Febby cek dokter dan mengajarinya sholat seperti janjinya waktu itu.
"Assalamualaikum." Rara mengetuk pintu kamar rawat Mike.
Keluarlah Febby dengan menggunakan dress selutut yang membuatnya terlihat cantik dengan perut buncitnya.
"Wa'alaikumsalam, eh Rara. Kamu sudah datang, sini masuk dulu."
Rara pun masuk dengan menenteng makanan yang ia bawa, lalu meletakkannya di meja.
"Bagaimana keadaan kak Febby dan babynya? Apa dia sudah mulai menendang?" tanya Rara pada Febby yang sedang merapikan nakas karena dia baru saja mengelap tubuh Mike.
"Baik Ra, apa kau tau sekarang aku sudah mulai tidak bisa tidur nyenyak karena dia sangat aktif di dalam sana," ujar Febby dengan antusias.
"Alhamdulillah, aku yakin kalau babynya pasti sangat sehat dan kuat seperti mamahnya."
Febby pun ikut duduk di sofa dan tersenyum pada Rara. Sangat bersyukur sekali karena dia bisa berteman dengan Rara.
"Terimakasih Ra, karena kau sudah sering datang menengok kami," ujar Febby.
"Sama-sama Kak, aku juga senang bisa menemani kak Febby. Maaf juga kalau aku jarang datang, seperti kemarin aku sibuk mengurus tugas dari kampus," jelas Rara.
"Tidak apa-apa, kau mau datang saja aku sudah sangat senang."
Kedua sahabat itu saling menggenggam tangan saling mensupport.
"Oh iya, aku bawakan makanan kak. Bagaimana kalau kita makan dulu. Kak Febby cek kandungannya jam berapa?"
"Jam Satu nanti, masih lama," jawab Febby.
"Kalau begitu kita makan dulu saja, aku bawa sup ikan. Bumil itu harus banyak makan ikan katanya, jadi aku bawakan ini." Rara sibuk mengeluarkan makanan yang ia bawa tadi.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa jadi merepotkan begini. Kamu tidak perlu membawa apapun kalau datang Ra," pinta Febby yang merasa tidak enak pada kebaikan Rara.
"Aku kan juga karena belum makan siang jadi sekalian makan bareng kak Febby, dari pada makan sendirian di jalan." Rara tau kalau Febby tidak mau merepotkan, dia harus pintar mencari alasan.
Mereka pun menikmati makan siang itu bersama, memang benar kalau makan bersama itu lebih enak dari pada makan sendirian. Selama di rumah sakit Febby sangat merasakan bagaimana rasanya makan sendiri. Kadang dia memilih makan di luar dan mengajak keluarga pasien lain untuk makan bersama.
"Terimakasih Ra, enak sekali makanannya. Aku sampai kekenyangan," ujar Febby sambil mengusap perutnya yang makin membuncit setelah terisi makanan.
"Syukurlah kalau kak Febby suka."
Sambil menunggu mereka pun saling bercerita mengenai hari-hari mereka, Febby sangat antusias mendengarnya. Dia sudah lama terkurung di rumah sakit tanpa melihat dunia luar. Sebenarnya bisa saja dia pergi sebentar dan menyuruh pelayan menunggui Mike tapi dia tidak mau. Dia takut kalau sewaktu-waktu Mike bangun dan dia tidak ada di sana.
Febby juga menceritakan bagaimana rasanya hamil. Dari mulai mual kalau pagi, susah tidur dan terkadang menginginkan sesuatu secara mendadak.
"Waah ternyata sangat tidak mudah ya hamil itu," komen Rara yang belum pernah merasakan yang namanya hamil.
"Tidak Ra, rasanya justru sangat menyenangkan. Kita bisa merasakan bagaimana ada nyawa di dalam perut kita, apalagi saat dia sudah bergerak. Rasanya sangat bahagia. Saat kita dimanjakan pasangan kita juga itu momen yang sangat membahagiakan." Febby menceritakan dengan senyum tipis saat mengingat bagaimana Mike menjaganya dulu.
Rara langsung paham saat Febby berubah sendu, dia pun berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tentu Ra, suatu saat nanti kamu merasakan nya. Kamu wanita baik dan Sholehah, pasti Allah akan memberikan amanah untukmu. Kamu nikmati saja waktu berdua dengan suaminya kamu saat ini ya...," ujar Febby memberikan pemikiran positif pada Rara. Bagaimana wanita itu paling sensitif kalau ditanya soal momongan.
"Terimakasih Kak, aku akan mengikuti saran kakak."
Tibalah waktunya mereka ke dokter kandungan untuk memeriksa Mike junior.
Saat ini dokter sedang mengoleskan jel pada perut Febby, lalu menempelkan alat yang akan menunjukkan bagaimana keadaan sang baby.
"Lihat itu Nona, anak anda sangat sehat dan berat badannya juga normal. Semua bagian tubuhnya juga sudah tercetak sempurna," terang dokter sembari menggerakkan alat yang masih berada diatas perut Febby.
Febby terharu melihat USG anaknya. Rasanya sangat bahagia saat mendengarkan detak jantungnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Begitupun Rara yang juga merasakan apa yang Febby rasakan. Dia bisa melihat bagaimana kebahagiaan dan kesediaan tercetak di wajah wanita hamil itu. Pasti rasanya sangat sedih saat sang ayah dari bayinya tidak bisa melihat anaknya.
"Dok, apa sudah bisa lihat jenis kelaminnya?" tanya Febby dengan antusias. Dia terlihat tidak sabar ingin mengetahui babynya itu boy or girl.
__ADS_1
"Sebentar ya, saya lihat dulu." Dokter kembali memutar-mutar alat itu mencari posisi yang pas untuk melihat apa jenis kelaminnya.
"Sepertinya dia laki-laki Nona, selamat bayi anda laki-laki," ujar dokter itu dengan wajah bahagia setiap kali memeriksa pasien hamil pasti rasanya ikut merasakan kebahagiaan itu.
Febby menutup mulutnya tidak percaya, rasanya Tuhan seperti mengabulkan doanya. Dia yang merasa penuh akan dosa benar-benar tidak menyangka kalau Tuhan akan sebaik itu padanya.
"Benarkah Dok? anakku boy?" tanya Febby dengan berlinang air mata.
"Iya Nona, jenis kelaminnya sudah jelas terlihat. Selamat ya nona. Janinnya sangat sehat dan aktif, saya harap anda selalu menjaga pola, makan makanan yang sehat dan bergizi agar agar gizi yang masuk untuk debay nya tercukupi."
Dokter pun menerangkan apa saja yang harus dilakukan Febby agar janinnya sehat. Ternyata senam hamil juga sangat bagus di lakukan dan rencananya mulia besok Febby akan mengikuti senam hamil yang dilakukan di rumah sakit itu. Sekaligus bisa menghilangkan kejenuhan Febby.
Rara sangat senang melihat bagaimana antusiasme Febby saat mendengar keterangan dokter.
"Lihatlah, ini anakku Ra. Anakku boy, dia pasti akan tampan seperti ayahnya," ujar Febby yang sejak tadi memandangi hasil print USG janinnya.
"Aku yakin dia akan sangat tampan, mengingat
ibunya yang cantik dan ayahnya tampan," puji Rara.
"Apa kamu tau Ra, aku selalu berdoa pada Allah walaupun aku tidak tau caranya. Aku selalu minta kalau anak aku itu boy biar mirip dengan ayahnya, aku tidak menyangka kalau Allah akan mengabulkan doaku," ujar Febby penuh rasa syukur.
"Tentu Kak, Allah itu maha pengasih dan penyayang. Pasti Allah melihat ketulusan kak Febby yang perlahan berubah menjadi lebih baik. Jadi Kak Febby jangan menyalahkan apa yang sudah Allah tentukan untuk kakak. Pasti ada hal baik dibalik ini semua."
"Kau benar Ra, aku malu karena terkadang menyalahkan Allah akan musibah yang menimpaku. Aku ingin berdoa dan memohon ampun dengan benar, ayo ajari aku sholat," ujar Febby dengan semangat.
Mereka pun kembali ke ruangan rawat Mike dan seperti janjinya kalau Rara akan mengajari Febby untuk sholat.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️
__ADS_1