Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
49. Perlahan Tapi Pasti


__ADS_3

°°°


Abi masuk ke kamar yang sudah di siapkan untuknya bersama sang istri. Pemandangan yang pertama ia lihat saat masuk adalah istri dan putrinya saling berpelukan.


Abi terharu, ia tau selama ini bukan hanya dirinya yang merindukan putri mereka tapi istrinya juga. Ya ibu mana yang tidak merindukan anaknya yang sudah susah payah ia besarkan dengan sangat baik.


Namun, sang istri lebih bisa menyembunyikan kesedihannya dihadapan Abi.


"Apa sudah kangen-kangenan nya," ujar Abi membuat Rara dan umi melepaskan pelukannya.


"Abi sudah datang." Rara melihat Abinya.


"Sudah nak. Kau kembalilah lihat suamimu, mungkin dia membutuhkan sesuatu." Perintah Abi seraya mengusap kepala putrinya.


"Baiklah, aku kembali ke kamar dulu. Abi dan Umi beristirahatlah."


Rara segera keluar dari sana.


"Lihatlah, siapa yang sering bilang jika Abi itu berlebihan merindukan Rara. Sekarang siapa yang menangis," sindir Abi pada istrinya yang menangis di pelukan putrinya tadi, karena itulah Abi segera menyuruh Rara keluar agar tidak melihat uminya menangis.


"Abi ini, aku tidak menangis. Tadi mataku tidak sengaja kemasukan debu." Umi mencoba mencari alasan.


Abi terkekeh mendengar alasan yang dibuat-buat oleh istrinya.


,,,


Rara kembali ke kamarnya dan ternyata suaminya sudah ada di sana.


"Kau sudah kembali," ujar Revan yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan sang istri.


"Iya, apa kakak membutuhkan sesuatu?" tanya Rara.


"Tidak, duduklah." Revan menepuk bibir ranjang agar Rara duduk di sebelahnya.


Rara mendekat dan duduk di sana.


"Apa kau bahagia bertemu umi dan Abi hari ini."


Tentu Rara mengangguk.


"Maaf karena aku belum sempat mengajakmu untuk mengunjungi mereka dan terimakasih karena tidak menceritakan apa yang terjadi pada hubungan kita pada umi dan Abi."


Revan sangat malu karena ia melupakan hal-hal tentang istrinya.


"Tidak apa-apa Kak dan sudah sewajarnya seorang istri menutupi aib suaminya. Cukup kita saja yang mengetahui masalah itu dan menyelesaikannya." Seperti itulah Rara dengan pengertian dan kesabarannya.


Revan tidak bisa berkata apa-apa lagi ia beruntung memiliki istri seperti Rara.


"Sebaiknya kita tidur, besok kita akan melewati perjalanan yang panjang."

__ADS_1


Rara setuju, ia lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Setelah itu ia naik ke ranjang, dimana sudah ada sang suami yang merebahkan tubuhnya di sana.


"Bolehkah guling ini tidak di sini lagi," ujar Revan tiba-tiba.


Rara menaikkan alisnya.


"Mmmm... maksudku bolehkah guling ini tidak ditaruh di sini lagi."


Revan bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.


Sementara Rara sedikit tersenyum mendengarnya, ia pun menyingkirkan dua guling itu tanpa bertanya lagi.


Revan senang melihatnya, tapi ia tidak berani meminta lebih walaupun sebenarnya ia ingin sekali memeluk istrinya.


Hingga malam semakin larut, keduanya terlelap dalam tidurnya. Walaupun masih dengan posisi yang sama seperti kemarin, tapi saat ini sudah tidak ada lagi guling diantara mereka.


Pagi harinya setelah sarapan pagi, mereka sudah siap berangkat ke Jogja dengan mengendarai mobil milik keluarga Herwaman.


Mereka terbagi menjadi dua mobil dengan supir yang akan menyetir mobil. Awalnya berniat menggunakan satu mobil yang besar tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya tidak jadi.


"Kami pergi dulu, Kek. Terimakasih karena sudah menerima kami di sini dan sudah menjaga Rara dengan sangat baik."


Abi berpamitan pada kakek Tio.


"Tidak perlu sungkan nak, kita adalah keluarga. Sering-seringlah datang kemari jika sempat."


"Terimakasih sudah melahirkan putri secantik dan sebaik Rara." Kali ini kakek beralih pada umi.


Umi pun terharu mendengarnya.


"Sama-sama Kek," ujar umi lalu ia mencium punggung tangan kakek.


Revan dan Rara pun berpamitan pada kakek bergantian.


"Kakek harap, kalian pulang membawa kabar baik untuk kami semua."


Mereka tau maksud kakek yaitu kabar kehamilan dari Rara, tapi tidak bisa menjawab apa-apa karena mereka tidak tau kapan itu terjadi.


"Kakek jaga diri di rumah, jangan sampai telat makan dan jangan terlalu lelah," ujar Rara.


"Kamu tidak usah khawatir, ada pak tua yang akan menjaga kakek."


Ya benar, hampir 24 jam pak Ahmad selalu bersama kakek. Bahkan saat tidur pun ada alat yang menghubungkan ke kamar pak Ahmad jika terjadi sesuatu secara tiba-tiba pada kakek.


"Kami pergi Kek."


Revan memeluk kakeknya.

__ADS_1


"Jangan mengecewakan kakek, manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin," bisik kakek dan hal itu membuat Revan tersenyum simpul.


"Doakan saja Kek," jawab Revan.


Rara menyipitkan matanya melihat kakek dan Revan yang nampak tersenyum aneh. Namun ia tidak mau banyak berpikir.


Kedua mobil itu sudah meninggalkan kediaman keluarga Herwaman. Mulai perjalanan menuju Jogjakarta, daerah istimewa yang terkenal dengan keraton dan tempat wisatanya.


,,,


Di tempat lain di hari libur akhir pekan, adalah hari yang sangat sibuk bagi seorang gadis cantik yang tinggal di sebuah kost murah dengan ukuran 2x3 meter. Jangan ditanya apa ada kamar mandinya atau tidak, tentu tidak untuk yang kamar mandi dalam pastilah lebih mahal uang sewanya.


Lia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya saat ini karena baginya masih banyak yang kurang beruntung dari dirinya saat ini. Sudah resikonya merantau di ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Semua ia lakoni demi hidup yang lebih baik dan bercita-cita membantu biaya adik-adiknya yang masih berada di panti asuhan.


Nasi rames dengan sayur seadanya menjadi makanan sehari-hari Lia selama ini, ia harus berhemat untuk biaya hidup di kota dan untuk dikirimkan ke panti. Meski biaya kuliah gratis dari beasiswa yang ia dapatkan, tapi kebutuhan yang lain harus Lia penuhi sendiri.


Lia mengendarai motor maticnya yang ia beli second dari hasil ia jualan online dulu di desa. Alhamdulillah ia terus ucapkan, karena Allah selalu mempermudah jalannya.


Jika orang lain akan mengambil libur di akhir pekan maka Lia akan meminta lembur di akhir pekannya. Tentu tujuannya adalah untuk menambah pendapatannya.


"Kau sudah datang Lia," ujar bos Lia seorang wanita sosialita.


"Iya Bu," jawab Lia.


"Bagus aku suka semangat mu, nanti tolong kamu antarkan pesanan ini."


"Sekarang Bu, bukannya kita belum mulai buka ya." Lia menyerngitkan dahinya.


"Iya memang, tapi karena ini adalah pelanggan setia jadi aku beri pengecualian. Sudah sana kamu antarkan, jangan sampai pelanggan kita kelaparan karena makanannya tidak juga datang."


"Baiklah Bu, aku pergi sekarang." Lia hanya bisa menurut dari pada ia kehilangan pekerjaan dan ia ingat jika hari ini ia dibayar tiga kali lipat karena harusnya libur tapi ia harus berangkat menggantikan temannya yang sakit.


Lia mengendarai motor nya yang baru saja ia parkir, tidak lupa memakai helm dan jaket untuk keselamatan.


Sebelum menjalankan motornya Lia melihat alamat pemesan makanan dan seketika matanya membulat sempurna. Kenapa orang yang paling ingin ia hindari justru malah sering bertemu.


Lia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, mau tidak mau ia tidak punya pilihan untuk menolak mengantarkan pesanan. Ia hanya berharap, semoga pria itu tidak mengenalinya seperti biasa.


to be continue...


Tidak ada lagi guling diantara kita ya guys...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2