
°°°
"Tunggu," cegat Revan saat sekretaris nya sedang berjalan keluar.
Rindu pun kembali berbalik dan menunggu apa yang akan dikatakan atasannya.
"Tolong kamu buatkan aku kopi, takarannya kamu tanya pada Cirra. Dia yang biasanya membuatkan ku kopi," perintah Revan.
"Baik pak, saya akan segera membuatkan kopi untuk Tuan."
Huh... aku kira tuan Revan mau bilang apa padaku. Aku penasaran, apa dia sama sekali tidak ingat padaku. Bagaimana caranya aku berterimakasih kalau mau bicara saja harus yang penting saja.
Sudahlah, lagian masih banyak waktu. Yang penting sekarang aku harus cepat mempelajari dokumen-dokumen ini.
Rindu meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja kerjanya yang baru. Lalu dia mencari staf yang bernama Cirra untuk menanyakan takaran kopi untuk tuannya.
"Jadi kamu sekretaris yang baru?" tanya Cirra.
"Iya Kak, perkenalkan namaku Rindu." Rindu memperkenalkan diri pada rekan barunya. Setidaknya kalau ada yang kenal tidak akan terlalu bosan nantinya.
"Namamu Rindu, manis sekali namamu. Oh iya kamu sudah tau kan namaku Cirra. Salam kenal ya." Mereka pun berjabat tangan.
"Kalau begitu aku buatkan kopi untuk tuan Revan dulu Kak, permisi...," pamit Rindu dengan sopan.
"Iya cepatlah kau buat, jangan sampai tuan Revan menunggu lama. Aku juga mau lanjutkan bekerja," ujar Cirra.
"Terimakasih sekali lagi sudah mau membantu saya Kak," ucap Rindu. Dia pun mendapatkan senyuman dari rekan barunya.
Ya ampun senangnya bertemu dengan orang yang baik di tempat yang baru. Semoga saja orang-orang di lantai ini tidak seperti di bagian ku sebelumnya.
Rindu pun lanjut membuat kopi pesanan atasannya.
,,,,
Siangnya.
Hampir setiap jam Revan selalu menanyakan kabar istrinya yang tadi pagi tidak enak badan. Dan ternyata sampai siang ini keadaannya masih sama. Masih tiduran dan lemas.
"Hallo bi, apa istriku sudah bangun?" tanya Revan di panggilan yang sudah kesekian kalinya.
📞"Nona, masih tidur Tuan. Tadi makan sedikit lalu tidur lagi."
"Suhunya bagaimana, apa dia demam?" tanya Revan mulai tak tenang.
📞"Tadi saya baru mengeceknya, suhunya 38° Tuan. Agak demam Tuan, mungkin karena kurang cairan karena sejak tadi nona terus tidur."
Mendengar hal itu Revan tentu sangat panik dan berniat segera pulang. Pas kebetulan itu jam makan siang. Nanti dia bisa kembali ke kantor kalau keadaan istrinya sudah membaik.
__ADS_1
"Aku akan pulang sebentar lagi bi. Sepertinya Rara harus dibawa ke dokter," ujar Revan.
📞"Baik Tuan, apa perlu saya beritahukan pada nona tentang rencana anda, Tuan?"
"Jangan, biarkan saja dia tertidur. Kalau bangun pasti dia tidak akan mau pergi ke dokter," titah Revan dengan tujuan baik tentunya.
📞"Baik Tuan.
Setelah memutuskan panggilan telepon. Revan segera bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu dia memastikan lebih dulu ada pertemuan penting atau tidak setelah ini.
Revan pun menelepon sekretaris nya lewat telepon kantor.
"Hallo, tolong lihat jadwal ku siang ini sampai sore. Apa ada pertemuan penting nanti?" tanya nya.
"Jam tiga? Baiklah aku tau."
Revan melihat jarum jam. Masih banyak waktu untuk menemani istrinya ke rumah sakit.
,,,
Sampai di rumah.
Revan langsung bergegas ke kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di sana dia melihat sang kakek dan yang lain berkumpul di depan pintu kamarnya.
"Assalamualaikum, ada apa ini?" tanya Revan yang bingung sekaligus khawatir.
Revan pun segera masuk dan seperti yang bi Mur katakan kalau saat ini Rara demam dan terlihat pucat.
Sayang, kenapa kamu harus menahan sakit mu sendiri. Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit.
Revan langsung mengangkat tubuh sang istri yang terlelap. Dalam dekapannya dia membawa tubuh lemah itu keluar dari kamar.
"Tolong siapkan mobil," perintah Revan begitu keluar dari kamar.
Pak Ahmad dengan sigap menyiapkan mobil dan menyetirnya.
Dalam sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Revan tak henti-hentinya mendekap erat tubuh sang istri. Ada perasaan bersalah yang menyelimuti karena dirinya yang tidak becus menjadi suami sampai sang istri sakit seperti itu.
"Sayang, bersabarlah. Sebentar lagi kita sampai."
Dalam keadaan seperti itu pikiran Revan kacau, dia takut terjadi apa-apa pada istrinya. Lalu bayang-bayang sang ibu yang mempunyai penyakit berbahaya pun menghampirinya.
Tidak!! Ya Allah janganlah engkau memberikan istriku cobaan seperti itu. Aku tidak akan sanggup melihat istriku menderita.
Revan membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
"Tolong cepat pak," perintah Revan yang merasa laju mobil itu begitu lambat. Padahal pak Ahmad sudah menambah kecepatan dan menyalip mobil lain di jalanan.
__ADS_1
"Biak Tuan," patuh pak Ahmad. Dia mengerti bagaimana khawatirnya sang majikan.
Sampai di rumah sakit.
Revan langsung mengangkat tubuh sang istri dan berlari menuju UGD. Dia berteriak agar dokter segera menangani Rara, sungguh dia tidak akan sanggup kalau sesuatu yang buruk menimpanya.
Mobil yang ditumpangi kakek Tio juga sudah sampai. Beliau langsung bergegas menyusul cucunya agar tidak membuat keributan di rumah sakit dan mengganggu pasien lain.
"Cepat periksa istri saya!" sentak Revan pada perawat.
Mereka hanya bisa menunduk karena tau siapa yang ada di hadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Revan, cucu dari keluarga Hermawan pemilik fresh grup yang menjadi donatur terbesar di rumah sakit itu.
"Sabar nak, kita keluar dulu biarkan dokter memeriksa." Kakek berusaha menenangkan cucunya.
"Bagaimana aku bisa tenang kek. Lihatlah wajah Rara sudah sangat pucat," tukas Revan yang begitu tak tega melihat wajah istrinya yang selalu berseri kini memucat.
"Kakek paham nak."
"Di mana dokternya, kenapa belum datang juga?" kini kakek Tio malah ikut mendesak perawat yang sedang memeriksa suhu dan tekanan darah Rara.
"Dokter sedang dalam perjalanan kesini tuan. Tadi memang jadwalnya dokter keliling untuk melihat pasien nya." terang salah satu perawat.
Dokter yang ditunggu pun akhirnya tiba. Dia bahkan berlari demi bisa lebih cepat sampai.
"Cepat periksa keadaan istri saya Dok, dia lemas sejak tadi pagi dan inginnya tidur terus lalu hanya makan dan minum sedikit," terang Revan menjelaskan bagaimana gejala yang dialami sang istri.
Dokter paham dan mulai memeriksa. Lalu dokter itu pun memasangkan jarum infus untuk memasukkan cairan dan obat pada tubuh Rara.
Revan yang melihat istrinya meringis kesakitan saat dokter memasang jarum infus pun mendelik tajam ke dokter itu.
Kalau saja tidak ada kakeknya pasti Revan sudah mengamuk lagi.
"Bagaimana keadaan cucu menantu saya Dok?" tanya kakek Tio.
"Nona hanya dehidrasi karena kurang cairan, hal itu juga yang menyebabkan suhu tubuhnya naik. Lalu sepertinya...."
to be continue...
°°°
Ikutin alurnya saja ya... 👉👈
Like komen dan bintang lima 😍😍
Gomawo ❤️❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang.
__ADS_1