Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
231. Arin dan Nathan


__ADS_3

°°°


5 tahun kemudian.


Keluarga Hermawan benar-benar mendapatkan kebahagiaan mereka. Kehadiran Arin sebagai cicit pertama pun menambahkan kebahagiaan mereka. Apalagi saat ini perusahaan Revan telah berkembang pesat, tentu dengan dukungan Mike dan kerjasamanya bersama Sakka.


Hari ini adalah hari pertama si kecil Arin masuk TK, setelah kemarin lulus sekolah pendidikan usia dini.


"Putri ibu cantik sekali, apa kau sudah siap ke sekolah baru hari ini?" tanya Rara pada putrinya yang tengah bersiap dibantu oleh pengasuhnya. Hanya satu orang pengasuh karena Rara tidak ingin berlebihan dan membuat putrinya jadi manja.


"Arin senang mau masuk ke sekolah TK Bu, tapi apa nanti Arin punya teman di sana?" tanya Arin gadis kecil berusia lima tahun, buah hati Rara dan Revan.


"Pasti donk, anak ibu kan baik. Pasti nanti Arin punya banyak teman di TK." Rara mengusap lembut kepala putrinya yang rambutnya telah dihias dengan sederhana. Begitulah Arin yang sejak kecil tidak suka berlebihan.


"Nanti ibu antarin Arin ke sekolah kan?" tanyanya lagi.


"Iya nanti ibu antar," jawab Rara.


"Ayah juga akan mengantar kalian." Arin dan Rara pun menoleh pada seseorang yang bersuara barusan.


"Ayah...," Arin berlari menghampiri Revan yang sudah tampan dengan stelan jasnya.


Dengan sigap Revan menangkap tubuh kecil putrinya dan ia angkat ke dalam gendongannya.


"Apa putri ayah sudah siap??" tanya Revan.


"Siap Ayah." Bocah itu menjawab dengan wajah bahagia.


"Ok, kalau begitu ayo kita sarapan."


Ayah dan anak itu langsung berbalik meninggalkan Rara yang seperti tidak dianggap sejak tadi. Ya begitulah bila ayah dan anak itu sudah bersama. Namun, hal itu tidak membuat Rara cemburu pada putrinya sendiri. Rara paham kenapa Revan sangat menyayangi putri mereka. Karena dia pernah berkata kalau apa yang ia rasakan dulu ia akan menggantinya dengan memberikan kasih sayang yang begitu banyak untuk anak-anaknya nanti. Ya begitulah cara Revan menyembuhkan luka hatinya saat kecil. Ditinggal ayahnya sejak dalam kandungan tidak membuatnya menyimpan dendam tapi dia malah bertekad memberikan membalasnya dengan memberikan waktu dan perhatian pada anak-anaknya kelak.


Rara tersenyum setiap kali melihat kedekatan putrinya dengan sang ayah. Dia sangat bersyukur karena sang suami bukan orang yang pendendam padahal kalau mau dia bisa saja membalaskan semua penderitaan ibunya dan dirinya pada ayah kandungnya, dengan kekuasaan dan harta yang ia miliki saat ini.


Revan juga telah mengetahui siapa ayah kandungnya dan dimana dia berada. Kakek Tio lah yang akhirnya memberi tau semuanya karena kakek tidak ingin menyimpan semua itu sampai ia tutup usia nanti.


Setelah mengetahui siapa ayah, tentu saja rasa kecewa dan benci tersemat dalam hatinya. Tapi berkat Rara yang terus memberinya pengertian akhirnya Revan pun paham dan mengerti. Kalau semua tidak akan selesai dengan balas dendam, bisa saja malah kebahagiaan yang sudah ia miliki saat ini diambil kembali oleh Allah karena ia sibuk membalaskan dendam.


"Aku tidak akan balas dendam, aku hanya ingin menemui orang itu. Setelah itu aku akan melupakan semuanya, aku hanya akan mengingat tentang kebersamaan ku bersama ibu." Kata Revan pada saat itu.

__ADS_1


Dia pun benar menemui ayahnya dan mengatakan apa yang ada di hatinya. Mengeluarkan segala macam pertanyaan yang sejak dulu ingin ia tanyakan.


Setelah itu Revan tidak lagi mengungkit ayahnya yang juga sudah bahagia bersama istri dan anaknya. Revan tak ingin mempermasalahkan tindakan ayahnya dulu karena ia tidak ingin menyakiti hati istri ayahnya yang sekarang dan ada anak mereka yang juga tidak bersalah.


Begitulah hati, kadang bisa menyimpan luka terlalu lama sampai luka itu melebar dan menjalar kemana-mana. Hanya satu yang bisa kita lakukan jika ingin luka itu segera sembuh. Berdamai lah dengan keadaan dan syukuri lah apa yang kamu miliki saat ini.


,,,


Seperti janjinya, Revan ikut mengantarkan putrinya ke sekolah.


"Putri Ayah sekolah yang pintar ya, nurut sama Bu guru. Terus apa lagi ya.. ayah lupa?" Revan berpura-pura seperti sedang berpikir, untuk mengetes putrinya apakah ingat pesannya atau tidak.


"Harus baik-baik sama temen-temen kan Yah?" jawab Arin dengan semangat.


"Oh iya... pintar sekali putri ayah. Nanti kalau Arin pintar terus kaya gini ayah kasih hadiah," ujar Revan.


"Kak... jangan terlalu manjain Arin." Rara bukan tidak suka begitu menyayangi putrinya tapi dia takut nantinya itu akan jadi kebiasaan. Kalau melakukan apapun harus diberi hadiah.


"Tidak sayang, bukan sesuatu yang mahal atau barang-barang mewah kok." Revan meyakinkan istrinya, kalau tak akan membiasakan putrinya dengan hal-hal itu.


Rara menatap putrinya yang kini memasang wajah penuh harap. Selama ini dia memang sangat penurut dan tidak pernah meminta apapun.


"Yeee... terimakasih ibu...." Senyuman itu merekah sempurna di bibir mungil putrinya. Sangat cantik, tidak terbayangkan bagaimana kalau sudah dewasa nanti. Berapa banyak pria yang akan mendekatinya.


Sampailah mereka di depan sekolah sang putri.


"Arin sekolah dulu ya Yah, Ayah hati-hati kerjanya," pesan Arin pada Revan.


"Iya sayang, kamu juga sekolah yang pintar ya."


Cup. Revan menciumi wajah putrinya gemas.


"Pak supir tidak boleh ngebut-ngebut ya jalannya." Tak ketinggalan Arin pun berpesan pada pak supir.


Membuat Revan dan Rara terkekeh melihat tingkah menggemaskan itu.


"Aku temenin Arin sekolah dulu ya kak, assalamualaikum," pamit Rara. Dia mencium tangan suaminya.


"Wa'alaikumsalam, nanti pulangnya aku akan usahakan untuk menjemput kalian."

__ADS_1


"Apa kak Revan tidak sibuk?" tanya Rara.


"Akan selalu ada waktu untuk kalian."


Pipi Rara memerah, hatinya berdebar kencang setiap kali sang suami mengatakan kata-kata manis. Tidak pernah berubah walaupun sudah ada Arin di tengah-tengah mereka.


Satu kecupan juga mendarat di kening Rara. Sebenarnya ingin seluruh wajah cantik itu Revan kecup seperti pada putrinya tapi di sana mereka tidak hanya berdua. Terpaksa laki-laki itu mengurungkan niatnya.


Setelah mobil yang Revan tumpangi menghilang, tak lama mobil lain menurunkan penumpangnya.


"Rara...," panggil seseorang yang Rara kenal.


"Kak Febby...."


Ternyata Febby datang bersama putranya, yang selisih lima bulan lebih dulu dari putri Rara.


"Hai cantik," sapa Febby pada Arin, terlihat pipi gadis kecil itu memerah. Dia malu-malu, tapi bukan karena sapaan dari Febby melainkan karena seseorang yang sejak tadi memandang ke arah lain.


"Sayang, ayo sapa Arin. Mulai sekarang kalian akan satu sekolah. Kau harus menjaganya dengan baik," tutur Febby pada sang putra dengan wajah tampan dan rupawan tapi dingin seperti papahnya.


"Assalamualaikum kak Nathan," sapa Arin, dia mengulurkan tangannya berharap pria itu mau membalasnya.


"Wa'alaikumsalam." Hanya sekilas Nathan menjabat tangan Arin itupun karena ada mamah dan ibunya Arin.


Sementara, Febby dan Rara justru gemas melihat tingkah anak-anak mereka. Dimana yang satu malu-malu dan yang satu seperti jual mahal.


"Ya ampun, mereka berdua sangat menggemaskan. Sangat cocok kan, apa aku bilang. Mereka pasti berjodoh."


Febby selalu seperti itu tiap kali melihat tingkah mereka. Padahal jelas sekali kalau putranya sedang menunjukkan ketidaksukaannya pada Arin. Entahlah... tidak ada yang tau. Padahal Arin tidak pernah mengganggunya.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo 🤗🤗


Panggilan untuk Rara dan Revan jadi ibu dan ayah saja ya guys.🙈

__ADS_1


__ADS_2