Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
99. Assisten Luknut


__ADS_3

°°°


Revan lega akhirnya, kini ia sudah menggantikan kakeknya untuk memimpin perusahaan ini. Setidaknya sang kakek bisa sedikit berkurang bebannya. Cukup beristirahat di rumah dan mengawasi cucunya dari rumah. Karna Revan yakin, kakeknya tidak mungkin lepas tangan begitu saja.


Sudah seminggu ini hubungannya dengan sang istri juga semakin baik, walaupun belum juga memproses pembuatan bayi karena kesibukan yang padat. Tapi hubungan mereka semakin mesra.


Tok, tok, tok


Seorang karyawan datang ke ruangannya.


"Permisi Tuan, saya mengantarkan berkas yang harus anda tandatangani." Ujarnya seraya meletakkan apa yang ia bawa di atas meja.


"Kenapa kamu yang membawanya kemari, dimana Mike?" tanya Revan. Karena seharusnya urusan berkas tidak boleh di pegang sembarangan orang.


"Tuan Mike sedang keluar, Tuan," jawab seorang karyawan wanita itu.


"Kemana dia, kenapa tidak bilang padaku jika mau meninggalkan kantor." Revan tidak habis pikir dengan bawahannya yang sudah seenaknya meninggalkan pekerjaannya.


"Saya tidak tau Tuan, tuan Mike hanya menitipkan berkas ini lalu pergi."


Sepertinya Revan lupa jika Mike adalah kepercayaan dari kakek Tio, pastilah dia berani melakukan hal itu karena ada kakek dibelakangnya.


Revan menghela nafasnya, sepertinya dia sudah kalah langkah dengan bawahannya sendiri yang lebih dipercaya dan diandalkan oleh kakek.


"Ya sudah, kau bisa keluar sekarang." ujar Revan datar.


Karyawati itu pun segera meninggalkan ruangan. Sejujurnya ia senang bisa berinteraksi dengan Dirut yang baru, kalau assisten Mike tidak pergi pasti ia tidak mungkin bisa bertemu dan berada di satu ruangan dengan Revan.


Ternyata jika dilihat dari dekat, wajah tuan Revan sangat tampan. Siapa wanita beruntung yang bisa menjadi istrinya nanti, pasti anak pebisnis juga.


Karyawati itu pun terngiang-ngiang wajah tampan atasannya yang baru saja di Lantik.


Di dalam ruangannya Revan baru saja mengirimkan pesan singkat pada assistennya yang berisi, beberapa buah pertanyaan.

__ADS_1


~Revano


Sedang apa kau, apa ada yang lebih penting dari Perusahaan.


Revan sengaja mengirim pesan seperti itu karena setau dia cintanya Mike pada perusahaan dan kakek sangat besar. Lalu kali ini pria itu begitu saja meninggalkan pekerjaan, itu tidak seperti Mike.


Dasar assisten luknut.


Setelah mengirimkan pesan yang tidak kunjung mendapat balasan, Revan kembali mengerjakan pekerjaannya. Baru hari pertama di lantik jadi direktur utama sudah disuruh kerja sendirian.


,,,


Sementara kakek Tio saat ini sudah ada di rumah. Setelah selesai mengangkat cucunya secara resmi menjadi direktur utama kakek langsung pulang ke rumah.


Kakek sedang ada di halaman belakang, melihat cucu menantunya bersama para pelayan menyiapkan kejutan untuk Revan. Semacam perayaan kecil-kecilan untuk merayakan pengangkatan Revan menjadi direktur utama.


"Itu sebelah sana kurang sepertinya, tambahin bunga lagi bi." Rara pun begitu antusias untuk membuat kejutan untuk suaminya.


Bersama gotong royong dengan para pelayan, ia sama sekali tidak merasa bosy. Rara ikut berbaur dan banyak sekali membantu.


Awalnya kakek menolak karena tujuan dari perayaan itu bukan hanya karena jabatan baru cucunya, tapi sekaligus kakek ingin sekali memperkenalkan Rara sebagai istri dari cucunya kepada publik.


"Padahal aku ingin memperkenalkan Rara pada semua orang, rasanya tidak adil bagi Rara bila di luaran sana Revan masih dianggap single." Kakek berkata pada pak Ahmad. Kakek khawatir setelah Revan menjadi pemimpin perusahaan, pasti akan banyak wanita yang mengelilinginya dan akan gawat jika mereka mengharapkan sesuatu yang lebih pada cucunya.


"Mungkin mereka berdua sudah memperhitungkan semua itu matang-matang, Tuan. Taun Revan juga bukan pria yang suka bermain perempuan," ujar pak Ahmad yang mengerti akan kekhawatiran majikannya.


"Tapi Rara pasti tidak tau, apa yang akan suaminya hadapi kedepannya. Bukan hanya para wanita yang mendekat, tapi para pengusaha yang mempunyai anak gadis itu pasti akan menggunakan anak gadis mereka untuk melancarkan kerjasama misalnya."


"Aku yang sudah sangat tua saja masih suka ada pengusaha yang ingin bekerja sama lalu menawarkan wanita sebagai pelancar."


Kakek mengingat para pengusaha yang kadang datang bersama wanita untuk menggodanya. Padahal kakek Tio tidak mungkin tergoda, baginya bisnis adalah bisnis. Mana yang menguntungkan barulah ia akan terima.


"Semoga saja Tuan Revan bisa seperti anda, Tuan. Selalu setia pada istri dan keluarga."

__ADS_1


Harapan Pak Ahmad tampaknya sama dengan apa yang kakek Tio harapkan. Dimana seorang pria adalah pemimpin keluarga ditambah memimpin perusahaan, suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban nya di akhirat kelak.


"Bagaimana, Kek. Apakah sudah bagus atau masih ada yang kurang?" tanya Rara pada kakek Tio.


"Bagus nak, kakek tidak menyangka kamu pandai mendekorasi." Puji kakek melihat hasil mahakarya cucu menantunya yang sangat indah.


"Aku hanya membantu sedikit kek, banyak orang yang membantu dan memberi masukan juga." Karena memang Rara tidak terlalu suka di puji. Ia lebih suka mendapat kritikan agar apa yang ia kerjakan akan ia buat menjadi lebih baik lagi.


" Sepertinya kamu cocok di bidang ini nak, benarkan pak tua?" Kakek mencari pembenaran.


"Iya Tuan, yang nona buat tidak kalah dengan jasa event organizer profesional. Nona sangat berbakat," pak Ahmad ikut memuji, dan itu bukan karena suruhan kakek Tio tapi murni dari hatinya.


Tentu saja Rara senang mendengarnya, bila apa yang ia buat bisa dinikmati orang lain.


Rara tidak pernah belajar tentang desain, tapi ia sangat suka menata sesuatu dan mengindahkan sesuatu. Entah itu bisa di sebut bakat atau hanya kebetulan semata.


"Nak, duduklah bersama kakek." Kakek menyuruh Rara untuk duduk dan gadis itupun menurut ia duduk di sebelah Kakek.


"Apa ada yang mengganggu pikiran Kakek?" tanya Rara, dia seolah bisa membaca pikiran kakeknya saat ini.


"Kau benar sekali nak. Kakek sedang memikirkan tentang hubungan kalian yang masih disembunyikan dari orang luar. Apa baik jika seperti itu terus," ujar kakek seraya menerawang jauh pandangan nya.


"Apa karena jabatan baru kak Revan, Kek?" Rara memandang wajah kakeknya dari samping.


"Iya nak, kau tidak tau bagaimana dunia bisnis itu. Bukan hanya uang yang datang untung menguji iman, tapi wanita juga salah satunya." Kakek tentu tidak ingin rumah tangga cucunya yang baru saja membaik nantinya akan kembali memburuk karena isu-isu yang bertebaran.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2