Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
136. Gelisah


__ADS_3

°°°


Rara menatap kepergian suaminya dengan berat hati. Perasaannya kini sungguh dirundung dilema. Ingin rasanya mengatakan jangan pergi tapi sepertinya permasalahan yang sedang menimpa perusahaan bukan hal kecil sehingga mengharuskan sang direktur utama turun tangan.


Ya Allah lindungilah suamiku dimana pun dia berada, jauhkan dia dari mara bahaya dan mudahkanlah segala urusannya.


Hanya doa yang senantiasa Rara panjatkan untuk menyertai kepergian suaminya. Hanya pertolongan dari Tuhan lah yang bisa melindungi hambanya.


Aku harap kamu pulang dalam keadaan yang baik Kak. Aku menunggumu, cepat pulanglah.


Rara melangkahkan kakinya kembali ke dalam rumah, sudah hampir waktunya ia juga harus pergi ke kampus.


,,,


Di sebuah kamar kos.


Pagi itu, Pikiran Lia kembali tidak tenang saat ibu panti kembali mengabari jika orang-orang suruhan si pemilik tahan sudah berdatangan dan berjaga di sekitar panti. Bahkan mereka juga membawa senjata tajam dan tak segan mengangkat senjatanya bila ada yang melawan.


Kalau sudah begitu, tidak mungkin menyuruh anak-anak untuk mencegah mereka. Lia tidak mau kalau sampai ada yang terluka.


Baru saja tidur dua jam, Lia sudah harus bangun dan bersiap-siap mengemasi apa saja yang akan di bawa pulang ke kampung halamannya. Tidak banyak hanya beberapa baju ganti, karena belum tau mau berapa lama pulang jadi hanya membawa seperlunya saja kalau kurang bisa meminjam baju anak-anak panti yang ukurannya sama dengannya.


Rasanya dia sudah ingin pergi sekarang juga karena tidak ingin kalau sampai orang-orang itu bertindak kasar pada anak-anak disana. Tapi sebelum pergi banyak hal yang harus diurusnya.


Dari meminta ijin ke tempatnya bekerja sekaligus meminta gaji untuk biaya pulang dan kalau bisa meminta tolong juga siapa tau Bu bos mau menolong. Setelah itu dia harus ke kampus untuk meminta ijin dan berpamitan pada temannya, Rara.


Walaupun kemarin Rara bilang mau meminta tolong pada suaminya untuk membantu tapi Lia tidak mau berharap banyak. Baginya Rara sudah terlalu baik padanya selama ini, ia tidak ingin terkesan memanfaatkan keadaan. Biarlah dia mencari jalan keluar yang lain, jika memang Lia harus mengemis di kaki pamannya pun tidak masalah. Yang penting anak-anak panti bisa tetap tinggal di tempatnya yang sekarang.


Lia keluar dari kamar kos nya, masih sepi karena masih terlalu pagi. Penghuni kos yang lain pasti belum pada bangun karena mereka terbiasa pulang pagi. Jangan tanya apa pekerjaan mereka sampai pulang pagi, sudah banyak rumor yang beredar tentang itu. Tapi Lia tidak peduli walaupun namanya juga ikut tercemar.

__ADS_1


Harga kos yang murah lebih Lia utamakan dari pada harus memikirkan apa kata orang.


Lia menggendong tas ransel nya yang sedikit menggembung akibat baju-baju yang dimasukkan asal ke dalam tas. Lia menghampiri motor yang di pinjamkan oleh tempatnya bekerja, karena motornya yang sudah butut mogok dan dia tidak punya uang untuk memperbaikinya.


Semoga saja anak-anak tidak kenapa-kenapa.


Harapnya.


Lia mulai menstater motor itu, motor yang jauh lebih nyaman dari miliknya. Ia sangat bersyukur karena Bu bos mau meminjamkan motor itu padanya.


Padahal tanpa Lia tau, semua itu berkat Sakka. Ya motor itu Sakka lah pemiliknya tapi dia sengaja menyuruh bos restoran itu untuk berbohong dan mengatakan pada Lia jika itu motornya. Tentu saja karena Sakka jika Lia tidak akan mau menerima kebaikannya.


Sampai di depan restoran, Lia bergegas masuk ke dalam. Tampak sepi karena memang restoran itu belum mulai beroperasi.


"Kak, Bu bos mana?" tanya Lia pada karyawan yang sedang membereskan dapur.


"Iya ini kak, aku mau mudik sebentar. Ada urusan mendesak," cicit Lia.


"Sudah kayak orang penting aja lagaknya," ejek teman yang lain.


"Ehh aku tanya dimana Bu bos kalian malah bahas yang lain. Dimana Bu bos, aku lagi buru-buru nih?" Lia bertanya lagi, tidak mau membuang waktu dan membahayakan keselamatan anak-anak panti.


"Ada di dalam, masuk saja." Ujar karyawan itu seraya menggerakkan dagunya karena tangannya sedang sibuk membuat bumbu.


"Ok, makasih. Aku ke dalam dulu." Lia pun segera mencari bu bos nya ke dalam rumah yang terletak di bagian belakang restoran itu.


Sampai di sana, Lia melihat Bu bos sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang dilihat sampai cekikikan sendiri, tapi biasanya wanita itu sangat sibuk dengan grup chatnya.


"Pagi Bu bos," sapa Lia dengan ramah.

__ADS_1


"Lia, kok kamu sudah datang." Pasalnya, Lia terbiasa datang siang atau sore setelah selesai kuliah.


"Ada yang mau saya bicarakan dengan Bu bos," ujar Lia.


"Ada apa, kenapa kamu terlihat sedih begitu. Sini duduk dulu," Bu bos memerintahkan Lia untuk duduk di kursi yang kosong. Wanita itu tentu harus bersikap baik pada Lia. Karena berkat karyawan yang satu itu, dia bisa mendapatkan suntikan dana untuk mengembangkan restorannya. Siapa lagi kalau bukan karena Sakka.


Lia pun mulai mengutarakan maksud kedatangannya pagi itu.


"Begini Bu, aku mau ijin beberapa hari. Mau pulang kampung, apa bisa Bu bos memberikan gaji saya sampai tanggal kemarin."


"Kamu mau pulang kampung, kenapa apa ada masalah? Lalu bagaimana dengan kuliahnya?" tanya bu bos terlihat khawatir. Walaupun sebenarnya yang ia khawatirkan adalah kalau sampai Lia tidak kembali lagi ke tempatnya maka nasib usahanya yang baru ia bangun bisa gulung tikar.


"Ada sedikit masalah Bu, kalau kuliah aku nanti mau ijin."


"Tapi kamu balik ke Jakarta lagi kan, apa jangan-jangan kamu mau menikah ya," tebak Bu bos. Entah pikiran dari mana, tapi memang biasanya gadis desa itu kebanyakan nikah muda.


"Tidak Bu, pacar saja tidak punya mau nikah sama siapa," elak Lia, ya memang nyatanya tidak punya pacar.


"Ya sudah, sebentar aku hitung dulu berapa hari kamu kerja." Bu bos mulai membuka buku absensi karyawannya dan mulai memegang kalkulator untuk menghitung gaji yang harus ia bayarkan pada Lia. Padahal mau ngasih banyak juga tidak akan rugi, toh dia sudah mendapatkan timbal balik yang jauh lebih banyak.


Sambil menunggu Bu bos menghitung, Lia memberanikan diri untuk mengatakan masalahnya. Seperti yang sudah ia pikirkan, siapa tau wanita itu mau membantunya. Walaupun selama ini Bu bos terkenal pelit dan perhitungan tapi semoga saja kali ini dia sedikit tergerak hatinya untuk membantu sesama.


to be continue...


°°°


Bantu Lia dong bos, maunya dapat enaknya doang. Kesel deh...


Siapa nih yang bakal bantuin??

__ADS_1


__ADS_2