
°°°
Langkah kaki Febby terasa berat saat ia mendekati pintu rumah itu. Semuanya masih sama seperti terakhir dia datang. Para pekerja yang ada disana pun tidak ada yang berubah.
"Non Febby...." Tiba-tiba ada seseorang yang menyebut namanya. Febby dan Mike pun menoleh.
"Bibi...," ujar Febby seraya tersenyum lembut, saat ia tinggal di rumah ini hanya bibi pelayan yang begitu baik dan mau menemani dirinya.
"Non Febby apa kabar, bibi rindu sekali dengan nona. Dan ini siapa?" Bibi menatap bayi tampan yang ada di gendongan Febby.
"Ini putraku bi, namanya Nathan. Apa dia tampan?" canda Febby.
"Iya Non dia sangat tampan seperti...." Kini bibi menatap pria dengan tubuh tinggi yang ada di samping Febby.
"Dia suamiku bi, putraku tampan seperti dia," Febby terkekeh melihat bibi yang kebingungan.
"Non Febby sudah menikah dan juga sudah punya putra yang tampan. MasyaAllah... bibi ikut senang." Bibi terharu melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Febby. Berbeda sekali saat masih tinggal di rumah ini.
"Apa mamah ada di rumah bi?" tanya Febby.
"Ya ampun, bibi sampai lupa. Nyonya pasti senang melihat kedatangan nona. Mari masuk. Biar saya panggilkan tuan dan nyonya," ujar bibi sambil membukakan pintu agar mereka bisa masuk.
"Tidak apa-apa, ayo masuk," ajak Mike meyakinkan istrinya agar tidak terlalu khawatir.
Sementara di lantai atas.
Bibi pun menyampaikan pada majikannya jika Febby datang bersama suami dan putranya.
Mamah Wina terlihat tak suka karena Febby pulang dengan suaminya. Sementara sang suami terlihat bahagia karena memang ia sudah menganggap Febby seperti putrinya sendiri, walaupun mereka tak cukup dekat.
"Ayo sayang, kita lihat putrimu di bawah," ujar sang suami pada istrinya.
Mamah Wina pun memaksakan senyumnya. Kalau saja sang suami sudah jatuh miskin dia tidak mungkin masih bertahan di rumah itu. Beruntungnya pria tua itu bisa bangkit dari dari kebangkrutannya. Sehingga mamah Wina pun masih bisa hidup dengan bergelimang harta.
Mamah Wina bersama suaminya turun ke bawah, terlihat sekali tatapan tidak suka dari mamah Wina untuk pria yang menjadi menantunya kini.
__ADS_1
"Assalamualaikum mah, pah." Febby menyalami tangan kedua orangtuanya bergantian, begitupun dengan Mike.
"Wa'alaikumsalam nak, kamu apa kabar? Katanya kamu sudah menikah ya. Maafkan papah karena tidak ada saat kamu menikah," sesal papah tiri Febby yang bernama Edwin. Pria yang dua puluh tahun lebih tua dari mamah Wina. Lebih pantas seperti kakeknya Febby jika dilihat-lihat.
"Tidak apa-apa pah, Febby minta doanya saja. Biar rumah tangga kami sakinah mawadah dan warahmah," ucap Febby tulus, dia sama sekali tak pernah punya masalah pada papah tirinya. Justru laki-laki itu yang sudah membawa dirinya dan mamahnya untuk tinggal di rumah megah itu.
"Lalu apa dia suami kamu dan ini siapa?" tunjuk papah Edwin pada Nathan.
"Perkenalkan Pah, ini Mike suamiku dan ini Nathan putraku."
Papah Edwin terlihat senang melihat Mike apalagi baby Nathan yang sangat menggemaskan.
"Jadi aku sudah jadi kakek sekarang," ujar papah menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. Selama ini anak kandungnya tidak mau memaafkannya yang telah mengkhianati ibu mereka dengan berselingkuh dengan mamah Wina. Maka papa Wina benar-benar senang ada Febby dihirupnya meski mereka tak begitu dekat karena Febby yang dulu cuek dan angkuh.
"Sayang lihatlah, kita sudah jadi kakek dan nenek." Papah Edwin menunjukkan Nathan pada istrinya, tapi wanita itu tetap bergeming.
"Tuan, perkenalkan saya Mike Anderson." Mike akhirnya mengalihkan perhatian semua orang termasuk Febby yang heran ketika sang suami menyebutkan nama belakangnya. Padahal pria itu sangat jarang menyebutkan nama belakangnya pada orang-orang.
Mata papah Edwin membola, ada yang aneh padahal hanya mendengar sebuah nama saja.
Ucapan papah Edwin membuat semua orang tercengang, ya termasuk Febby. Terutama mamah Wina, tapi sedetik kemudian wanita itu menormalkan kembali ekspresinya.
"Pah, nama orang kan banyak. Bisa saja kebetulan sama. Dia kan kerjanya cuma jadi assisten mantannya Febby, jadi tidak mungkin membantu papah," kilah mamah Wina yang tidak mau percaya apa yang baru ia dengar.
Febby ingin sekali membela suaminya tapi dengan apa dia pun ragu dengan apa yang ia dengar tadi. Meski tau Mike kaya tapi dia pikir itu hanya kaya normal, tidak sampai bisa membantu sebuah perusahaan yang hampir bangkrut. Atau mungkin Mike meminta bantuan pada Revan atasannya.
Sementara papah Edwin terlihat menatap Mike mencari jawaban.
Mike pun paham dengan situasi itu dan dia juga tidak menyalahkan Febby karena tak membelanya. Karena memang dia tidak memberitahu kan apa saja bisnis miliknya.
"Sudahlah mah jangan memojokkan suami ku terus. Kedatangan ku kesini untuk mempertemukan mamah dengan putraku, cucu mamah. Lihatlah mah, apa kau tidak ingin menggendongnya," Febby mencoba mengalihkan perhatian semua orang yang meragukan suaminya.
Mike pun tersenyum karena sang istri begitu melindunginya bahkan siap pasang badan untuknya. Mike bangga pada sang istri.
Setelah Febby mengatakan hal itu barulah mamah Wina melihat cucunya yang ada pada gendongan putrinya.
__ADS_1
Wanita itu terdiam saat melihat baby Nathan tersenyum padanya, hatinya tergerak untuk menggendong sang cucu. Mamah Wina mengulurkan tangannya menyahut cucunya.
"Dia tampan sekali seperti ayahnya," ujar papah Edwin,
"Cucuku, aku sudah punya cucu?" tanyanya tak percaya.
Febby pun merasa lega karena sang mamah ternyata tak ikut membenci cucunya.
"Dia tampan sekali kan?" tanya papah Edwin.
"Iya dia sangat tampan, sayang sekali ayahnya hanya seorang assisten. Apa bisa membahagiakan cucuku yang tampan ini." Mamah Wina berbicara seenaknya tentang menantunya.
Febby marah sangat marah, apa salahnya bekerja jadi assisten. Salahnya dimana kenapa mamahnya selalu saja tidak mau menerima Mike sebagai suaminya.
Mike yang melihat istrinya marah pun segera meredamnya dengan memberikan usapan lembut pada punggung sang istri.
"Jangan marah, kita datang ke sini bukan untuk memperkeruh keadaan."
Mike benar, meladeni ucapan mamah Wina hanya akan membuat masalah semakin runyam saja.
Febby pun menarik nafasnya dalam-dalam agar tidak terbawa emosi.
"Karena sudah disini kau dan putramu tinggal disini saja, mamah khawatir kalian tidak hidup dengan layak," celetuk mamah Wina dengan tajam.
"Mah, kok kamu bicaranya seperti itu si. Biarkan Febby hidup dengan suaminya, lihat mereka sekarang. Apa hidup mereka terlihat kesusahan?" papah Edwin yang sejak tadi diam pun mulai menasehati istrinya.
"Mamah hanya tidak ingin putri mamah satu-satunya hidup menderita pah, Di sini hidupnya lebih terjamin, perusahaan papah kan sudah kembali stabil." Mamah Wina tidak berbohong seperti itu pikirannya, sekaligus membuat Febby meninggalkan Mike. Lalu ia bisa menikahkan putrinya dengan rekan bisnis suaminya .
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo 🤗
__ADS_1