Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
51. Kedatangan Sakka


__ADS_3

°°°


Sore harinya, Sakka mendatangi tempat kerja Lia. Ia tidak bisa tenang memikirkan apa yang terjadi tadi pagi di apartemennya.


Dengan wajah yang sedikit membiru tapi tidak mengurangi ketampanannya. Pria itu berjalan dengan gagahnya memasuki restoran itu.


Seketika terjadi kehebohan dari pelanggan yang sedang makan dan para karyawan. Melihat putra pengusaha ternama datang ke tempat itu.


"Silahkan Tuan." Seorang pelayan menghampirinya membawakan buku menu.


"Aku mencari gadis yang bernama Lia," ujar Sakka tanpa basa-basi lagi.


"Sebentar Tuan, saya akan panggilkan."


Pelayan itu pergi mencari Lia. Rasanya tidak mungkin ia melarang apalagi mencegah Sakka, kekuasaan orangtuanya terlampau tinggi. Hingga bisa merobohkan restoran kecil seperti itu dalam hitungan jam.


Sementara di sana para tamu heboh dan berusaha menarik perhatian Sakka. Walaupun terkenal playboy tapi ia tetap menjadi incaran para gadis.


Namun kali ini Sakka hanya tersenyum tipis menanggapi mereka, karena tujuannya ke tempat itu adalah untuk mencari Lia.


Dan dibelakang tidak kalah heboh dengan suara pelayan yang mencari-cari Lia.


"Lia...," teriak pelayan yang tadi diperintahkan oleh Sakka.


"Ada apa kamu teriak-teriak," tegur ibu bos. Wani berpenampilan bak sosialita.


"Itu Bu bos, di depan ada yang mencari Lia." Pelayan itu menjelaskan.


"Siapa dia, apa kerabatnya Lia. Kenapa membuat restoranku heboh sekali." Tentu sang bos khawatir jika tamu yang lain terganggu dan jadi kabur.


"Anu itu Bu bos..." ucap pelayan itu terbata.


"Anu apa...." Bu bos tidak sabar.


"Itu..." Baru saja ingin menjelaskan, Lia muncul dari belakang.


"Lia, cepat kamu ke depan ada yang mencari mu," ujar pelayan tadi membuat Lia menaikkan alisnya.


"Ehh ini anak dibilangin juga, cepat ke depan." Perintah pelayan itu lagi karena Lia tak kunjung bergerak.


"Ada apa ini sebenarnya, siapa yang mencari Lia sampai membuat pelanggan heboh. Lia siapa yang ada di depan?" Bu bos memberondong Lia dengan pertanyaan yang semakin membuatnya semakin bingung.


"Mana saya tau Bu, tadi kan saya di belakang. Dan saya juga tidak punya kerabat di Jakarta, jadi tidak mungkin ada yang mencari saya kemari," jawab Lia acuh dan melanjutkan pekerjaannya.


Sementara pelayanan tadi sudah ketakutan karena Lia tidak juga pergi ke depan.


"Bagaimana ini Bu, cepat bujuk Lia agar mau menemui orang itu." pinta pelayan tadi dengan wajah yang pusat pasi.


Bu bos pun melotot tajam, mendengar bawahannya berani memerintah nya.

__ADS_1


"Kamu sudah tidak ingin bekerja lagi di sini ya, berani sekali memerintah saya."


"Bukan seperti itu Bu bos, tapi di depan itu ada tuan Sakka," jelas pelayan itu.


"Ohh tuan Sakka, apa...!!!" Bu bos terkejut bukan main.


"Kenapa tidak bilang dari tadi, kau itu payah sekali." Bentak bu bos.


Pelayan itupun hanya bisa menghela nafasnya, nasib bawahan pasti selalu saja di salahkan dan atasan selalu benar.


"Lia... cepat kamu ke depan, jangan sampai membuat tamu spesial kita menunggu." Bu bos menghampiri Lia dan segera menyuruhnya untuk menemui Sakka.


Lia semakin tidak paham, tadi temannya bilang ada yang mencarinya lalu sekarang pelanggan spesial. Lalu apa hubungannya dengan Lia, untuk apa pelanggan spesial itu mencarinya. Bukankah yang harus dicari itu manager atau atau atasannya.


"Untuk apa dia mencari saya Bu?" tanya Lia.


"Cepat sana, tidak usah banyak bertanya." Bu bos sampai mendorong tubuh Lia agar segera pergi ke depan.


Pada akhirnya Lia menghampiri orang itu, meski malas karena ia merasa ada yang tidak beres dengan orang itu.


"Permisi," ujar Lia dengan sopan. Dia masih belum melihat wajah orang itu karena membelakangi posisi Lia saat ini.


"Kau!!" pekik Lia, setelah wajah orang itu menghadap padanya. Pria kurang ajar yang sudah membuatnya marah pagi tadi.


"Bisa kita bicara sebentar, ayo ikut aku." Sakka menarik pergelangan tangan Lia tanpa permisi, agar ikut dengannya.


"Maaf Tuan, saya tidak punya urusan dengan anda. Jadi silahkan keluar dari tempat ini jika tidak ingin makan," usir Lia.


Sayang sekali Bu bos datang ke sana dan membela Sakka.


"Kamu ini apa-apaan Lia, jangan tidak sopan begitu pada tamu," marah Bu bos pada Lia.


"Maafkan karyawan saya Tuan, silahkan duduk lagi. Biar saya siapkan makanan yang paling istimewa di restoran ini." Bu bos mencoba menenangkan Sakka, tidak ingin reputasi restoran miliknya jelek.


"Sebaiknya saya kembali ke belakang saja Bu, tamu ini Bu bos saja yang layani." Lia hendak pergi tapi lagi-lagi Sakka menghentikannya.


"Tunggu," cegah Sakka.


"Maaf Bu, aku tidak ingin makan tapi kedatanganku untuk mencari dia. Ada barang yang hilang di apartemenku pagi ini dan aku ingin dia ikut denganku untuk mencarinya." Terpaksa menggunakan cara ekstrim untuk mengajak gadis itu bicara.


Lia melotot mendengar alasan yang mengada-ada keluar dari mulut pria itu.


"Benarkah itu Lia, kau harus bertanggung jawab. Cepat pergi dengan tuan Sakka," marah Bu bos pada Lia, kalau sampai benar barang tuan Sakka hilang karena karyawannya maka berakhir sudah nasibnya.


"Itu tidak benar Bu, dia hanya beralasan saja. Saya tidak kau ikut dengannya," sentak Lia.


Bu bos dibuat bingung, ia takut nasib restoran yang susah payah ia bangun lenyap begitu saja. Siapa yang tidak kenal ayahnya Sakka, orang yang mempunyai kuasa tinggi di Indonesia.


"Lia, tidak ada penolakan. Cepat kau bantu tuan Sakka mencari barangnya yang hilang. Kamu kan tadi pagi dari sana, aku tidak mau citra restoran ini jadi jelek karena kamu mencuri."

__ADS_1


Bu bos terus menyuruh Lia.


Sementara, Lia semakin kesal mendengarnya. Gara-gara pria itu Bu bos jadi menuduhnya mencuri.


"Aku tidak bermaksud menuduh karyawan Ibu mencuri, aku hanya ingin dia membantu ku mencarinya," jelas Sakka yang tidak ingin Lia semakin benci padanya.


"Lia pasti ikut dengan anda, Tuan. Dia akan membantu anda menemukan barang yang hilang sampai ketemu." Dalam hati Bu bos berjanji akan memecat gadis itu jika Lia tidak bisa menemukan barang milik tuan Sakka itu.


Lia memutar bola matanya jengah, lalu ia keluar lebih dulu dari tempat itu.


Disusul Sakka yang berjanji akan membujuk orang tuanya untuk berinvestasi di tempat itu, tentu saja Bu bos langsung kegirangan mendengarnya.


Lia berhenti setelah dirasa cukup jauh dari restoran tempat ia kerja. Lalu membalikkan badannya menghadap pria itu.


"Apa lagi mau Anda?" tanya Lia.


Sakka tau pasti tidak akan mudah untuknya meminta maaf, tapi ia tetap mencobanya.


"Aku minta maaf, aku hanya bercanda dengan ucapan ku tadi pagi. Aku tidak bermaksud merendahkan mu." Sakka berharap ia masih mempunyai kesempatan.


Lia tersenyum miring mendengarnya.


"Apa anda datangi hanya untuk ini. Tidak perlu anda meminta maaf pada orang miskin seperti ku. Lebih baik anda pulang dan bersenang-senang dengan para wanita anda." Lia benar-benar tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan pria seperti itu.


"Tunggu, aku benar-benar menyesal. Dan aku janji akan berubah tidak lagi bermain wanita. Bisakah kita berteman?" Sakka memohon pada Lia.


"Anda tidak pantas berteman dengan orang seperti ku, permisi. Aku harus kembali bekerja."


Lia membungkukkan tubuhnya.


Sakka tidak bisa lagi mencegah gadis itu pergi, image nya selama ini pasti sudah sangat jelek di mata Lia. Berdasarkan laporan siapa saja yang datang ke apartemennya. Hampir setiap kali Sakka memesan makanan, Lia lah yang mengantarnya.


Secara tidak langsung, Lia sudah mengetahui perilakunya selama ini.


Sakka mengusap wajahnya kasar. Entah yang tadi ia bilang pada Lia benar atau tidak, tapi dia memang bertekad akan menyudahi penjelajahan pada banyak wanita setelah menemukan gadis yang mampu menarik hatinya.


to be continue...


Seburuk-buruknya lelaki, dia akan mencari perempuan yang baik untuk dijadikan istri. Lalu apa kabar wanita yang sudah dipermainkan, tentu harus mencari lelaki yang lebih baik.


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2