
°°°
Mobil milik Revan sudah ada halaman kediaman keluarga Herwaman. Rasa lelah seharian mengurusi dokumen dan yang lainnya hilang begitu ketika sudah sampai di rumah.
Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan semenyenangkan itu jatuh cinta. Apalagi orang yang ia cintai kini sudah menjadi istrinya.
Revan melepaskan seat belt, lalu keluar dari mobilnya. Ia membawa jas nya yang sudah dilepaskan, dasinya juga sudah ia longgarkan, bahkan kancing bagian atasnya sudah terlepas.
Tapi kenapa malah membuat pria itu semakin tampan.
Keringat karena bekerja seharian bahkan tidak membuatnya bau, justru harum yang tercium.
Revan langsung menuju kamarnya, tidak sabar melihat wajah wanita yang seharian ini membuatnya tidak fokus dengan pekerjaan.
Klek,
Laki-laki itu membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, entah apa tujuan. Mungkin ia berpikir istrinya sedang tertidur.
Sepi, kesan pertama saat Revan melangkah lebih dalam di kamarnya.
Matanya berputar mengitari setiap sudut ruangan, mencari sosok yang ia rindukan.
Dimana gadis itu, mungkinkah di dalam toilet? pikir Revan, menerka-nerka keberadaan istrinya.
Nyatanya, di toilet juga tidak ada siapapun, kosong dan sama-sama sunyi. Revan kembali mencari tidak menyerah hingga rasa rindunya terobati.
Balkon adalah tujuan selanjutnya, tapi sama disana pun zonk. Hanya ada kupu-kupu yang sedang menghinggapi bunga yang ada di sana.
Kemana dia, apa mungkin dia pergi keluar. Pikirnya lagi.
Warna langit sore itu memang benar-benar indah, Revan bahkan tanpa sadar berjalan keluar dari kamarnya hingga ke tepi balkon. Tidak disangka ternyata pemandangan di bawahnya jauh lebih indah, saat ia tidak sengaja menunduk.
"Di sana rupanya," gumamnya.
Wajah cantik dibawah sinar senja, sungguh perpaduan yang sempurna. Revan bahkan terpesona, tidak mau mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
Hanya bi Mur yang menyadari keberadaan tuannya, ia tersenyum melihat sang tuan tidak berpaling dari wajah nonanya.
Wajah Rara sudah sangat cantik tanpa makeup bahkan sedikit pucat karena belum pulih sepenuhnya. Bi Mur yang sama-sama perempuan saja mengagumi kecantikan nonanya. Apalagi kaum Adam, yang notabene penyuka keindahan.
__ADS_1
Hingga langit sudah mulai menggelap gadis cantik itu tidak ingin beranjak dari duduknya. Padahal angin yang berhembus semakin kencang tidak bagus bagi tubuhnya yang dalam proses penyembuhan.
"Nona, hari sudah mulai gelap. Tidak baik jika nona terkena angin malam, mari kita masuk," ajak bi Mur pada nonanya, dia tidak ingin istri sang tuan kembali sakit.
"Baik Bi, ayo kita masuk." Rara menurut karena ucapan bi Mur barusan sangatlah benar.
Rara beranjak dari duduknya, hendak memasuki rumah. Sampai sekarang ia tidak menyadari jika sejak tadi ada yang mengawasinya dari atas.
"Sepertinya ada yang memperhatikan nona sejak tadi," ujar bi Mur seraya tersenyum. Tidak ada salahnya mengatakan hal itu pada nonanya agar sang nona tau jika suaminya melihatnya sejak tadi.
Rara pun menyerngitkan dahinya, lalu melihat sekeliling tapi hanya ada para pekerja yang sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Mana Bi, tidak ada?" tanya Rara memasang wajah bingung.
"Di atas Non," jawab bi Mur.
Rara pun mendongakkan kepalanya, mencari orang yang dimaksud bi Mur karena akan gawat jika orang itu punya maksud tertentu.
"Kak Revan..." Rara sedikit berteriak melihat siapa yang ada di balkon kamarnya. Tentu saja itu suaminya, pria yang mampu membuat hatinya bergetar.
Sedangkan Revan yang ketahuan memandangi istrinya tersentak kaget, bahkan sikunya yang ia jadikan tumpuan terpeleset. Buru-buru ia membenarkan posisinya, sedikit salah tingkah dan malu.
"Kapan kakak sampai, kenapa tidak memberitahu ku." Rara yang masih di bawah sana berteriak.
"Aku baru saja sampai, lalu ingin menghirup udara segar disini." Revan mengarang cerita karena tidak mau ketahuan memandangi wajah istrinya diam-diam.
"Aku masuk dulu Kak, tunggu aku." Sebenarnya Rara hanya random saja saat mengatakan itu. Tunggu yang ia maksud adalah agar Revan tetap di kamar biar Rara yang datang.
Berbeda dengan Revan yang mengira hal lain, ia kira Rara akan melakukan apa sampai menyuruhnya menunggu.
Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang tak karuan, padahal dia pria seharusnya bukan dirinya yang grogi.
Beberapa menit kemudian, Rara sudah sampai di kamarnya. Masuk dan mencari suaminya yang ia yakin masih berada di balkon.
"Kak..." ujar Rara begitu melihat suaminya.
Revan pun terbangun dari lamunannya.
"Kau sudah datang, ayo masuk. Anginnya sudah sangat kencang disini." Revan mendekat dan langsung disambut istrinya yang mencium tangannya.
__ADS_1
Revan pun mencium kening sang istri, lalu keduanya masuk ke dalam kamar dan menutup jendela kaca itu agar angin yang berhembus tidak masuk kedalam.
"Apa kakak mau mandi, biar aku siapkan air hangatnya," tanya Rara, kalau hanya mengisi bak mandi saja tidak terlalu berat.
"Duduklah, aku masih bisa sendiri," Ujar Revan seraya mengusap lembut kepala istrinya.
Rara menurut saja, ia duduk menunggu suaminya membersihkan tubuhnya dari banyaknya kuman yang ia bawa dari luar.
Revan keluar dengan tubuh yang masih sedikit basah dan hanya menggunakan handuk kecil seperti biasanya.
"Aku sudah ambilkan baju Kak, itu hanya hal kecil dan sama sekali tidak membuatku lelah," cecar Rara sebelum suaminya yang mengomel duluan.
Memang benar ia sedang sakit, tapi bukan berarti melarangnya melakukan semua hal. Karna Rara bukan perempuan yang suka berdiam diri lalu foya-foya.
"Terimakasih istriku sayang." Sangat lembut suaranya hingga membuat Rara terhipnotis oleh pesonanya.
Setelah Revan selesai, ia berniat turun untuk makan malam bersama kakeknya.
"Kau tunggu sebentar, aku mau menemani kakek untuk itu makan malam." Revan mencium kening istrinya.
"Bolehkah aku ikut makan bersama kalian. Rasanya sangat hambar ketika aku makan sendirian." Rara memohon agar bisa turun ke bawah. Makan di atas meja makan dengan normal karena ia lebih suka makan bersama keluarga.
Revan terdiam sejenak sampai akhirnya mengiyakan permintaan istrinya.
"Terimakasih Kak... cup." Rara mencium pipi Revan, sontak membuat lelaki itu meleleh akan perlakuan manis istrinya.
Sementara Rara, dia rasanya ingin menghilang dari sana. Ia malu sekali dengan apa yang dilakukannya barusan. Tidak tau apa yang dipikirkan Revan saat ini, ekspresinya tidak bisa terbaca olehnya.
"Maaf kak, aku...," ujar Rara dengan terbata-bata. Kenapa juga dia harus meminta maaf, tidak ada larangannya mencium suami sendiri. Tapi situasi itu membuatnya canggung, apalagi melihat Revan yang tidak berkata apa-apa.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...