
°°°
Seperti yang sudah direncanakan Rara mengajak kakaknya untuk pergi jalan-jalan. Sebenarnya ingin mengajak umi dan Abi juga tapi mereka tidak mau.
"Memang benar ya, kalau di Jakarta itu macet bukan hanya cerita tapi fakta," keluh Luna yang sudah bosan menunggu di dalam mobil.
"Begitulah Mbak," jawab Rara.
"Oh iya kata umi Mbak Luna ngajar di TK sekarang? Pasti menyenangkan bisa mengajar anak-anak."
"Iya untuk mengisi waktu luang aja Dek, bingung juga di desa tidak ada yang bisa di kerjakan. Kebetulan guru yang biasa mengajar sedang cuti melahirkan, jadi aku menggantikan sementara," jawab Luna, seraya menyenderkan punggungnya yang sudah kebas sejak tadi tidak berganti posisi.
"Kebetulan juga kalau disekitar kita ada yang lebih membutuhkan ilmu yang kita punya, kenapa harus jauh-jauh pergi ke kota," terang Luna dan itu sukses membuat Rara kagum.
"Mbak hebat sekali, aku kagum padamu. Kalau bahasa gaulnya Mbak Luna keren..." ujar Rara seraya mengacungkan kedua jempol nya.
Luna pun mengusap gemas kepala adiknya, " Aku belum ada apa-apanya dibanding kamu, Dek."
"Oh iya, apa kalian sudah 'kikuk-kikuk'?" tanya Luna seraya menggerakkan dua jarinya.
"Apa itu 'kikuk-kikuk' Mbak?" Rara menatap bingung pada kakaknya.
"Itu lohhh... masa kamu nggak ngerti sih." Luna risih mau mengatakannya karena di depan ada pak supir.
Sementara Rara semakin kebingungan, karena memang tidak mengerti maksudnya.
Luna pun mendesah pelan melihat adiknya yang tidak mengerti juga. Akhirnya ia mendekat dan berbisik di telinga Rara.
"Apa kamu dan suamimu sudah melakukan hubungan suami-istri?" bisik Luna.
Sontak Rara membulatkan matanya mendengar pertanyaan dari kakaknya. Lalu kemudian dia menggeleng sebagai jawaban.
"Belum?" tanya Luna memastikan.
"Kenapa, bukankah hubungan kalian sudah semakin dekat. Lalu tunggu apa lagi?" tanya Luna yang sudah tidak sabar untuk mempunyai keponakan gemas.
__ADS_1
"Huss... jangan keras-keras Mbak," ujar Rara yang merasa malu karena membahas masalah yang berbau-bau vulgar.
"Aku tidak tau Kak, sampai saat ini kak Revan belum memintanya. Dia juga sangat sibuk dari kemarin." Memang benar, bahkan terkadang saat suaminya pulang Rara sudah tertidur.
"Jangan lama-lama Dek, ibaratnya nih nanti akan ada Febby-febby yang lain bermunculan kalau suamimu nggak buru-buru di miliki seutuhnya." Luna tidak ingin ada wanita yang mengganggu keharmonisan keluarga adiknya.
Namun, Rara malah tersenyum mendengarnya.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan Mbak, karena sampai kapanpun hal seperti itu pasti akan bermunculan walaupun kami sudah melakukannya. Bahkan yang sudah punya anak saja, bisa tergoda dengan orang ketiga."
"Semua itu kembali ke diri kita sendiri, biar bagaimanapun terkadang orang ketiga bisa hadir kalau kita memberi celah. Hanya doa yang bisa menjaga hati seseorang agar tahan dari segala godaan." Karena memikirkan hal seperti itu hanya akan menimbulkan kecurigaan, dan kadang-kadang sesuatu bisa terjadi jika kita terlalu curiga.
"T O P, kamu pantas dapat sepuluh jempol Dek. Kalau Mbak punya suami tampan seperti itu, pasti tidak akan tenang setiap harinya. Wkwkwk...," tawa mereka pun pecah, kakak beradik itu saling melempar canda dan tawa hingga rasa bosan dan lelah menunggu jalanan macet pun sedikit terobati.
Setelah menunggu hingga bosan dalam kemacetan akhirnya kakak beradik itu sampai di tempat tujuan.
"Akhirnya sampai juga," ujar Luna yang sudah pegal duduk di mobil.
"Kita mau makan dulu atau jalan-jalan Mbak atau mau nonton?" tanya Rara, saat ini mereka sudah ada di salah satu mall terbesar di Jakarta.
"Masih ada satu jam lagi Mbak," ujar Rara seraya melihat jam tangannya.
"Kalau gitu kita makan dulu aja ya..." ajak Luna dengan semangat kalau sudah membahas soal makanan.
Mereka akhirnya mencari makanan sebelum nanti rencananya mau menonton di bioskop yang ada di mall itu. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua, rasanya sangat menyenangkan bagi mereka.
,,,
Di kantor, Revan sedang menjalani jabatan barunya. Hari pertama dia sudah berhasil membuka semua kedok para karyawan yang suka semena-mena pada bawahannya.
Sebenarnya Revan terinspirasi dari ucapan istrinya, dia jadi melakukan sidak mendadak di berbagai bagian di perusahaannya. Karena jika ingin berkembang maka harus memulainya dari dalam, barulah melebarkan sayap.
Langkah kakinya yang lebar, berjalan dengan gagahnya. Revan melangkahkan kakinya di setiap lantai. Memeriksa para karyawan yang bermalas-malasan dan tidak tau aturan.
Seketika para karyawan dan beberapa manager di berbagai bagian pun merasa was-was, takut jika pekerjaannya selama ini kurang berkenan di hati direktur barunya.
__ADS_1
"Bagaimana ini, apa kita akan ketahuan." Perasaan takut menjalar pada orang-orang yang berbuat curang saat melihat langkah atasan baru mereka yang semakin mendekat.
"Tenang saja, ada Tuan Danu di belakang kita. Tidak mungkin bos muda dan tidak tau apa-apa itu berani mengusik kita." Dengan percaya diri mereka yang bersikubu dengan para pemegang saham yang ambisius itu.
Namun, sepertinya mereka salah mengira jika mengatakan Revan tidak tau apa-apa dan tidak berani melakukan apa-apa. Saat ini tatapan tajam Revan seperti ujung panah yang siap membidik titik sasarannya.
"Apa kalian manager produksi?" tanya Revan pada mereka yang tadi berkepala besar.
"Iya Tuan," jawab orang yang masih percaya diri.
"Bagus, aku suka keberanian kalian yang bahkan tidak menunduk dihaadapanku." Sindir Revan.
Sontak kedua orang itu pun menunduk apalagi bukan hanya Revan yang saat ini menatap mereka dengan begitu menusuk. Tapi ada juga assisten Mike yang terkenal dingin dan kejam.
Nyali mereka seketika menciut, sepertinya sudah diujung jurang.
"Kalian mau mengundurkan diri atau mau saya pecat dengan tidak hormat?" tanya Revan dengan senyum menyeringai. Jika ingin membuat perubahan maka harus berani menyingkirkan para benalu yang ada di perusahaan. Percuma bila mereka masih dipertahankan, mereka hanya peduli pada keuntungannya sendiri.
Sudah banyak rekening bodong' yang Revan telusuri, dengan bantuan Mike tentunya. Biasanya mereka akan mengalirkan dananya ke rekening bodong' lalu setelah itu baru ke rekening pribadi. Tapi jangan pernah meragukan Revan dalam hal itu. Dengan mudah ia bisa menemukan kemana saja dana perusahaan itu mengalir.
"Apa salah kami Tuan?" tanya mereka tidak terima. Bagaimana pun sudah bertahun-tahun bekerja disana dengan uang yang mudah di dapat pastilah mereka tidak rela jika harus keluar begitu saja.
Mendengar pertanyaan mereka, Revan pun sedikit kesal pada orang-orang itu. Revan berjalan ke kursi yang biasa mereka duduki, lalu mendaratkan tubuhnya disana. Diangkatnya kedua kakinya ke atas meja dan bergaya dengan angkuhnya.
"Apa yang kalian tanyakan tadi? Kalian mau tau, dimana letak kesalahan kalian?" tanya Revan santai tapi mampu membuat bulu kuduk dua orang itu berdiri seketika.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...