Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
216. Sulit Hamil


__ADS_3

°°°


Siangnya.


Mereka bertiga bercanda dan berbagi cerita. Walaupun lebih banyak Febby yang bercerita tentang kehamilan dan bagaimana mengurus bayi. Tentu saja sebagai sama-sama wanita Rara dan Lia mendengarkan dengan baik. Hal itu juga bisa mereka jadikan pelajaran nantinya kalau sudah punya anak.


"Sebenarnya hamil sembilan bulan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan mengurus anak setelah mereka lahir. Terutama soal menyusui. Dimana seorang ibu harus rela begadang demi anaknya dan mungkin bagian da da kita juga akan berubah. Belum lagi perih dan lecet saat baby menyusu."


Benar yang dikatakan Febby, kalau hamil ada waktunya sembilan bulan tapi mengurus anak itu seterusnya tidak ada batasannya.


"Lalu bagaimana rasanya saat melahirkan Kak?" tanya Rara yang punya rasa sedikit takut setiap kali melihat proses wanita melahirkan anaknya.


"Waktu itu aku dibius dan melahirkan lewat operasi Caesar jadi tidak begitu tau bagaimana rasanya. Tapi setelah aku bangun, tubuhnya terasa sakit di mana-mana. Jadi aku tidak bisa berbagi cerita tentang melahirkan secara normal," terang Febby.


"Waahh... kamu hebat sekali Kak setelah kecelakaan dan melahirkan langsung mengurus anak sendiri. Walaupun tidak melahirkan secara normal tapi kak Febby tetap seorang ibu. Di mana pekerjaan kita bertambah, selain mengurus rumah dan suami kini bertambah dengan mengurus anak. Seperti kata kak Febby tadi kalau kita jadi ibu tidak ada batas waktunya," ujar Rara.


"Kau benar, aku akan membesarkan Nathan dengan penuh cinta," lanjut Febby.


Sementara Lia sejak tadi hanya menyimak karena memang dia belum punya pengalaman apa-apa.


"Kamu kenapa Li, sejak tadi diam saja." Febby meletakkan putranya ke dalam boks bayi lalu berjalan ke sofa untuk menghampiri kedua temannya.


"Iya Li, ceritakan saja pada kami. Siapa tau kami bisa membantu kamu mencari jalan keluar kalau ada masalah," imbuh Rara.


Lia menatap kedua temannya, sepertinya dia memang tidak bisa berbohong dihadapan mereka.


"Sebenarnya, siang ini aku dan Sakka mau memeriksakan diri dan konsultasi pada dokter kandungan," ujar Lia.


"Kenapa Li, apa kamu ingin cepat-cepat hamil? Atau karena omongan orang," tutur Rara.


"Siapa yang tidak ingin hamil dan mempunyai keturunan, aku juga ingin seperti kalian. Aku sudah coba tidak peduli pada omongan orang tapi aku tidak tetap saja kepikiran. Yang seperti kalian bilang kalau aku dan Sakka habiskan waktu berdua lebih banyak memang benar tapi setiap kali pergi dan melihat anak kecil, aku pasti jadi merasa bersalah karena belum bisa memberikan anak."


Rara dan Febby saling pandang, mereka mengerti sekarang. Omongan orang memang kadang bisa membunuh pelan-pelan. Tapi juga cambuk yang bagus demi kemajuan kita.


"Kau tenang saja Li, semuanya pasti baik-baik saja. Kalau memang mau periksa maka periksalah. Aku akan mendukung apapun keputusanmu." Rara memeluk temannya lalu disusul Febby yang datang menghambur memeluk mereka.


"Apa sekarang sedikit lebih tenang?" tanya Rara.

__ADS_1


"Sangat jauh lebih tenang dari pada tadi saat aku memendamnya sendiri," jawab Lia.


"Tapi masih ada yang menjadi beban dipikiran ku. Bagaimana kalau setelah diperiksa ternyata aku yang bermasalah. Apa Sakka akan tetap menerima ku apa adanya?" lirih Lia dengan menunduk.


"Kalian itu saling mencintai ada anak ataupun tidak, seperti sekarang. Kalau sudah rejekinya nanti kamu juga akan mendapatkan gilirannya. Dulu juga aku tidak langsung isi, selang beberapa bulan barulah positif." Rara mencoba menghibur temannya.


"Benar Li, kalau memang nanti hasilnya ada yang salah dari salah satu dari kalian. Kalian harus terus saling mendukung satu sama lain, jangan patah semangat," dukung Febby.


"Terimakasih, kalian memang teman yang terbaik," puji Lia seraya menunjukkan dua jempolnya.


,,,


Beberapa saat kemudian.


Sakka datang menyusul istrinya yang katanya sedang menjenguk Febby. Sekaligus juga mereka mau melakukan pemeriksaan seperti rencananya kemarin.


"Assalamualaikum...," salam Sakka.


"Eh ada Sakka," ujar Febby.


"Sayang...," panggil Sakka.


"Eh... kamu sudah datang," malu Lia karena ketahuan menonton drama lagi. Padahal sang suami sudah melarangnya karena apa, tentu saja karena Lia selalu menyebutkan kalau pria di drama itu sangat tampan.


"Ayo katanya mau periksa," ajak Sakka.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ambil tas ku dulu," ujar Lia.


Sakka pun mendekati box bayi yang berisikan baby Nathan yang sedang terlelap. Dia tersenyum, tampan, menggemaskan dan lucu. Seorang bayi memang seperti itu. Mungkin jika punya satu akan menyenangkan, pikirnya.


Sementara di belakangnya Lia memperhatikan Sakka yang sedang memandangi baby Nathan. Ada rasa sedih dan takut kalau dirinya tidak bisa memberikan bayi yang lucu seperti itu. Walaupun Sakka tidak pernah menuntut ini dan itu tapi dilihat dari tatapannya sekarang, dalam hatinya pasti menginginkan seorang anak juga.


"Ayo Yank." Lia melingkarkan tangannya pada lengan sang suami.


"Kak Febby, Rara. Kami pergi dulu," pamit Lia pada temannya.


"Iya Li, jangan lupa nanti ceritakan pada kami bagaimana hasilnya," ujar Febby.

__ADS_1


Sementara Rara tidak berkata apa-apa lagi, dia melihat bagaimana Lia pasti merasa sedih saat sang suami terlihat menginginkan bayi.


"Semoga hasilnya bagus ya kak, hanya belum waktunya saja," harap Rara.


"Amiinn...."


,,,


Di dalam ruangan dokter kandungan.


Lia sudah diperiksa dan sekarang giliran Sakka. Beruntungnya Sakka dengan suka rela mau melakukan pemeriksaan juga. Jika biasanya suami hanya akan menyalahkan wanita jika tidak bisa mempunyai keturunan, ini Sakka justru ikut di periksa juga.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Lia, jantungnya sudah berdebar kencang menunggu hasil pemeriksaan.


"Dalam rahim nona tidak ada yang salah, semuanya normal. Hanya saja, sepertinya sel telur yang dihasilkan cukup sedikit. Sementara pada tuan juga tidak ada masalah, semua bagus."


Lia pun bertanya dalam hatinya, kalau memang tidak ada masalah kenapa belum juga hamil.


"Apa sel telur yang sedikit itu masalah besar yang menyebabkan saya tidak juga hamil Dok?" tanya Lia.


"Bukan masalah besar sebenarnya, nanti nona bisa meminum obat dan vitamin penyubur kandungan. Kalau mau terapi juga bisa," terang dokter.


"Jadi saya lah yang bermasalah Dok?" Bagi seorang wanita bermasalah pada rahimnya adalah hal yang berat. Dimana dia merasa tidak sempurna sebagai seorang istri.


Sakka pun menggenggam tangan istrinya, menenangkannya. Kalau semua pasti bisa diatasi dan tidak perlu cemas.


"Kita serahkan pada Allah dan ikhtiar dengan pengobatan, insyaAllah tidak ada masalah. Iya kan Dok?" Sakka melihat dokter.


"Iya nona, anda tidak perlu terlalu cemas dan jangan banyak pikiran."


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2