
°°°
Di atas, setelah Mike menerima telepon dari resepsionis yang mengabari jika di lobi ada wanita yang mengaku sebagai pacar dari tuan Revan. Ia langsung bergegas ke bawah tanpa pikir panjang.
Namun, saat berada di lift Mike ingat sesuatu. Jika ia tiba-tiba mencegah wanita itu bertemu dengan tuannya pasti wanita itu memberontak dan membuat kegaduhan.
Pada akhirnya ia berbalik kembali dan sebelumnya menghubungi resepsionis untuk menyuruh wanita yang bisa ia tebak siapa itu untuk naik ke atas.
Karena tuan besar pun sudah berpesan, supaya cucunya menyelesaikan urusannya sendiri agar mendewasakan dirinya.
Mike akan mengawasinya dari jauh, untuk berjaga-jaga agar wanita itu tidak membuat onar.
Tok, tok, tok.
"Permisi Tuan, di bawah ada seorang wanita bernama Febby yang ingin menemui anda," ujarnya pada Revan yang tengah mempelajari dokumen.
"Mau apa dia kemari, bagaimana kalau kakek sampai tau?" pikir Revan.
"Bilang saja padanya, aku sedang tidak ada di tempat," ujar Revan pada assistennya. Rasanya malas sekali untuk bertemu dengan Febby saat ini, wanita itu pasti akan merengek dan menggunakan cara apapun untuk memaksanya.
"Tapi di bawah nona itu berkoar-koar jika anda adalah kekasihnya, saya rasa anda perlu mengatasinya. Lari bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Semakin Anda menunda, maka akan semakin besar masalahnya." Mike ingin membuat tuannya tegas dan segera menyelesaikan masalahnya. Toh dia juga ada untungnya juga untuknya.
"Kau benar, baiklah suruh dia kemari tapi pastikan kakek tidak mengetahui kedatangan wanita itu."
Bukan ingin menutupi tapi Revan tidak ingin kakeknya mengetahui tentang Febby lalu membuat kesehatannya menurun.
Dibawah, Febby sudah tidak sabar saat menunggu kabar dari Revan. Jika pria itu berani menghindari maka ia bertekad akan membuat onar di perusahaan itu.
"Bagaimana Mbak. Benarkan yang aku katakan," ujar Febby dengan percaya diri.
"Tuan menyuruh anda naik keatas, ruangannya ada di lantai 15." Si resepsionis masih tidak yakin jika wanita itu adalah kekasih cucu tuannya. Cantik si tapi sombong dan angkuh sepertinya.
Si resepsionis merasa wanita itu tidak pantas bersanding dengan atasannya.
Ya tapi ia tidak mau pekerjaannya terancam jika benar wanita itu adalah kekasih tuannya, maka ia tetap bersikap sopan.
Karena memang pernikahan Revan dan Rara masih belum di publikasikan. Jadi orang-orang taunya Revan masih lajang.
Sementara Febby berjalan dengan percaya diri saat para karyawan memandanginya.
"Lihatlah aku ini calon istri bos kalian, awas saja kalau ada yang berani tidak menghormatiku. Kalian akan kehilangan pekerjaan." ujarnya dalam hati seraya tertawa puas.
Senyumannya terus mengembang sampai di lantai dimana Revan berada.
Mike juga sudah menunggu di depan lift.
__ADS_1
"Silahkan, tuan Revan menunggu di ruangannya." Mike berkata dengan sopan.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Febby yang merasa tidak asing pada pria di depannya itu.
"Tidak Nona, silahkan sebaiknya tidak membuat tuan menunggu." Mike mempersilahkan Febby agar mengikutinya.
Tidak mau banyak berpikir, Febby pun mengabaikan pikirannya dan kembali pada tujuan utamanya ke tempat itu.
"Silahkan," ujar Mike membukakan pintu.
Febby pun masuk mengikuti langkah pria itu.
"Sayang..." Febby menghampiri Revan yang sedang duduk di kursinya.
"Ada apa kamu kemari?" ujar Revan datar.
"Kenapa, apa kamu tidak senang melihatku, sudah berapa hari kamu tidak ada kabar. Tentu saja aku khawatir," ujar Febby dengan mimik wajah yang dibuat semanis mungkin.
Sementara assisten Mike sudah keluar dari ruangan itu. Meski ia kesal saat mendengar Febby memanggil atasannya dengan sebutan sayang. Tapi ia tidak merasa khawatir karena ia tau jika tuannya tidak mencintai wanita itu.
Revan berdiri dan berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan pemandangan ibu kota.
"Mari kita sudahi hubungan kita." Revan sudah yakin akan keputusannya.
"Aku rasa kita cukup sampai disini saja, Feb." Revan berbalik.
"Tidak, aku tidak mau. Apa karena aku datang kemari? aku minta maaf, tapi tolong jangan akhiri hubungan kita." Febby memohon, bagaimana bisa usahanya selama ini berakhir begitu saja.
"Bukan karena itu, karena sudah lama aku ingin mengatakannya. Dari awal aku tidak mencintaimu dan sampai saat ini perasaanku pun tidak ada perubahan." Revan pun berusaha memberi pengertian.
"Kenapa Van, pasti karena perempuan itu kan? Dia yang sudah merebutmu dariku." Geram Febby.
"Cukup Feb, dia istriku dan dia tidak merebut aku dari siapapun. Karena hatiku belum dimiliki siapapun. Ini murni karena aku yang ingin mengakhiri semua ini. Aku yakin kau akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku."
"Apa kamu tidak kasihan pada mamahku yang sedang melawan sakitnya Van, bagaimana kalau dia mendengar kita putus. Pasti kesehatannya akan menurun drastis." Pada akhirnya Febby tidak punya cara lain, terpaksa menggunakan nama mamahnya lagi.
Revan tersenyum mendengarnya, "Apa kamu kira aku tidak tau yang sebenarnya, mamahmu sama sekali tidak sakit. Bahkan sekarang sedang jalan-jalan."
Kalah telak Febby, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata Revan sudah tau semuanya.
"Bagaimana kamu bisa tau?" mata Febby membulat.
Febby masih tidak terima diperlakukan seperti itu. Matanya memanas, amarahnya membuncah, ingin menangis, marah, kesal dan memaki.
"Kenapa, kau tidak mencoba mencintaiku. Selama ini aku sudah bersabar menunggu kamu membalas cintaku, kamu menikah dengan wanita lain juga aku terima. Kenapa..." Febby terduduk lemas lantai.
__ADS_1
"Maafkan aku jika keputusan ku sudah menyakiti perasaanmu, tapi ini yang terbaik untuk kita Feb. Semakin lama kita mempertahankan hubungan ini, kamu akan semakin sakit karena aku tidak mencintaimu."
Revan merasa sangat bersalah, tapi ia harus mengambil keputusan itu sebelum semuanya semakin rumit.
"Kamu tega, Van..."
"Aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang dan bahagia bersama wanita itu, Van. Aku yang sudah berjuang mendekatimu dalam waktu yang lama tapi kamu sama sekali tidak menghargai perasaan ku."
Tangan Febby mengepal kuat, menahan amarahnya. Air matanya sudah tumpah sejak tadi. Walaupun ia hanya menginginkan harta dan kekuasaan saja tapi rasanya tetap sakit saat Revan memutuskan hubungan dengannya.
"Kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dari ku, jadi jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak berarti. Dendam hanya akan membuat hidup mu tidak tenang."
"Kamu mudah berkata seperti itu, tapi aku yang merasakannya. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan!" ancam Febby. Lalu ia keluar dari ruangan itu dengan emosi yang meluap-luap. Bahkan membanting pintu dengan keras
Meski Revan merasa kasihan pada Febby tapi ia merasa lega karena ia sudah memperbaiki keadaan. Beginilah seharusnya dari awal. Tidak ada hubungan dirinya dengan wanita lain saat sudah menikah.
Percuma juga jika terus mempertahankan hubungannya dengan Febby, karena Revan sama sekali tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Semakin lama malah akan membuat wanita itu terlalu berharap dan semakin sakit nantinya.
,,,
Mike yang melihat bagaimana raut wajah Febby saat keluar dari ruangan tuannya, sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dia pun lega karena wanita itu tidak lagi menjadi perusak rumah tangga orang lain.
Mike pun menyuruh orang untuk mengikuti Febby diam-diam, ia khawatir wanita itu akan melakukan hal yang tidak-tidak. Entahlah sejak malam itu ia merasa bertanggungjawab untuk menjaga Febby.
Febby adalah wanita pertama yang mampu membuat hatinya bergetar, terlepas dari masa lalu wanita itu. Mike pun tidak peduli karena ia juga bukan lelaki yang sempurna. Hidupnya juga penuh akan dosa.
Semua orang punya kekurangan dan pernah melakukan kesalahan. Tinggal bagaimana orang itu mau berubah atau tidak dan mau memperbaiki kesalahannya untuk menjadi lebih baik.
Mike juga tau jika mamahnya Febby sedang bersenang-senang dengan black card miliknya. Dia juga sudah tau sifat wanita itu dan mungkin itulah kenapa Febby bersikap demikian.
"Aku akan membuat kamu menjadi lebih baik bersamaku."
Mike berharap, Febby bisa memperbaiki dirinya sendiri agar tidak lagi menjajakan tubuhnya hanya demi kenikmatan semata.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1