
°°°
Kembali ke Rara, sampai di kampus Rara langsung turun dari mobil.
"Pak, tidak usah di tunggu. Nanti aku kabari kalau kuliahnya sudah selesai," ujar Rara pada supir yang mengantarkannya.
"Tidak apa-apa Non, ini sudah perintah dari tuan Revan sendiri kalau saya harus menunggu nona sampai waktunya pulang," jawab supir itu.
"Tapi nanti bapak lelah nungguinya. Pulang saja dulu nanti aku kabari kalau sudah selesai." Rara tidak mungkin tega membiarkan pak supir menunggunya di parkiran yang panas.
"Tidak apa-apa, nona tidak usah khawatir." Pak supir tentu tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan nonanya begitu saja, sedangkan tuannya sudah berpesan jika dia harus tetap di kampus menunggu nonanya pulang.
"Benar tidak apa-apa, ya sudah terserah bapak saja. Tapi nanti kalau panas, bapak bisa pergi ke kantin atau ke warung. Bapak juga bisa sambil ngopi di sana." Rara sungguh tidak enakan orangnya.
"Iya Non, saya mengerti." Pak supir mengiyakan ucapan nonanya.
Rara pun merogoh sakunya untuk mengambil uang, untuk ia berikan pada pak supir.
"Ini yang kopi untuk bapak," ujar Rara seraya menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan pada pak supir. Bukannya pelit atau apa, tapi Rara memang jarang memegang uang cash. Suaminya memberinya uang dengan kartu.
"Tidak usah non, tuan Revan sudah memberi saya uang tambahan," tolak supir itu, bukannya senang karena diberi uang. Dia justru takut kalau sampai menerima uang itu. Tuannya sudah memberinya banyak bonus, kalau dia sampai menerima uang yang disodorkan nonanya pasti bisa kena masalah.
"Tidak apa-apa, terima saja pak. Buat bapak." Rara tetap memaksa agar pak supir menerima uang darinya.
"Tapi Non...," Pak supir ragu untuk menerima uang itu.
"Ayo cepat terima pak, kalau bapak kelamaan nanti aku bisa terlambat masuk kelas. Kak Revan bisa marah kalau tau," ujar Rara sedikit berbohong.
Dengan cepat pak supir pun menerima uang pemberian nonanya, "Terimakasih Non."
Rara tersenyum, lalu ia berjalan menuju kelasnya.
Di sana Lia sudah duduk menunggu kedatangannya.
"Assalamualaikum Lia," ujar Rara pada temannya yang terlihat melamun.
"Rara... kamu sudah datang, duduk-duduk ada yang mau aku sampaikan." Lia menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Rara pun memutari meja dan duduk di sana, meletakkan tas dan buku yang ia bawa.
Namun, baru saja Lia mau berbicara. Ponsel Rara sudah lebih dulu berbunyi.
"Aku angkat telepon dari kak Revan dulu Li," ujar Rara dan Lia pun mengangguk.
"Assalamualaikum Kak," ujar Rara pada suaminya di telepon.
__ADS_1
📞"Wa'alaikumsalam. Sayang, apa kau sudah sampai di kampus?"
"Baru saja sampai kak, apa kakak juga sudah sampai di Bogor."
📞"Belum mungkin masih sekitar satu jam lagi. Ya sudah kamu belajar yang benar ya, jangan dekat-dekat dengan pria lain saat aku tidak ada."
"Iya Kak, kakak juga hati-hati. Kabari aku kalau sudah sampai."
📞"Iya apa?"
Pipi Rara memerah, apa harus ia mengulang perkataan suaminya di kelas itu. Kalau ada yang mendengar kan malu.
📞"Sayang..."
"Iya kak, aku tidak akan dekat-dekat dengan pria lain." Rara berharap tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Assalamualaikum."
📞"Wa'alaikumsalam."
Rara menyimpan kembali ponselnya, lalu kembali beralih pada temannya.
"Apa yang mau kamu katakan tadi Li?" tanya Rara.
"Apa suami mu sedang pergi?" tanya Lia.
Dan perkataan Rara menyebabkan Lia mengurungkan niatnya untuk bertanya apakah suami temannya itu bisa membantu atau tidak. Dia pasti lah tidak enak hati jika harus mendesak temannya, sedangkan suaminya sedang ada masalah.
"Ehh Li, kenapa malah bengong. Kamu mau bilang apa tadi?" cecar Rara.
"Itu... aku mau pamit, aku sudah ijin mau pulang ke kampung," jawab Lia.
"Kenapa mendadak, apa terjadi sesuatu di sana? Apa kamu lama pulangnya?" tanya Rara, dia seperti menangkap gelagat aneh dari raut wajah temannya.
"Enggak Ra, aku ingin pulang aja." Lia memalingkan wajahnya agar Rara tidak bisa melihat kesedihannya.
"Yang benar Li, kamu tidak bohong kan. Kalau ada masalah cerita aja, oh iya masalah panti asuhan bagaimana? Aku sudah cerita pada kak Revan, katanya dia mau membantu tapi tunggu dia menyelesaikan masalah perusahaan."
"Apa mereka mau menunggu? Kalau tidak nanti aku katakan pada kak Revan kalau masalahnya mendesak." Rara menatap Lia mencari jawaban.
"Ehh tidak usah Ra, aku sudah menemukan donatur. Katanya mau membantu," bohong Lia. Sebenarnya ia senang karena mendengar ada orang yang mau membantu tapi ia sendiri tidak yakin kalau orang-orang itu mau menunggu.
"Benarkah?" tatap Rara mencari kebenaran.
"Iya Ra, makanya aku pulang. Sudah dulu ya, aku harus pulang sekarang Ra." Lia buru-buru.
__ADS_1
"Ehh kamu yakin tidak ada masalah Li?" tanya Rara lagi, rasanya dia masih tidak percaya temannya bisa secepat itu mendapatkan donatur yang mau membeli tanah panti asuhan. Bukannya tidak senang, tentu Rara sangat bersyukur kalau ada orang yang begitu baik mau membantu anak yatim.
"Iya Rara... aku pulang ya, sampai ketemu lagi." Lia memeluk Rara erat, ia sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk berteman dengan perempuan sebaik Rara.
Semoga kelak kita bisa bertemu lagi Ra. Aku pasti akan merindukanmu nanti. Kamu orang baik, pasti banyak yang mau berteman denganmu.
"Kamu naik apa pulangnya, Li?" tanya Rara setelah pelukan itu terlepas.
"Naik bus, setelah itu di sambung angkot," terang Lia.
"Hati-hati ya Li, kabari aku kalau ada apa-apa. Jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku, kita ini teman jadi jangan pernah ragu kalau butuh bantuan."
"Pasti Ra, aku pergi ya. Assalamualaikum..."
Lia mengambil tas ranselnya dan melambaikan tangannya pada Rara.
"Wa'alaikumsalam," ujar Rara seraya melambaikan tangan juga.
Aku harap perasaanku tidak benar. Kak Revan... Lia... kalian harus baik-baik saja dan kembali dengan selamat.
Sementara Lia terus berjalan dengan langkah yang begitu lemah. Harapan ke duanya pupus sudah. Kini hanya ada harapan terakhir, yaitu minta tolong pada pamannya. Walaupun dia juga tidak yakin jika pamannya mau menolongnya, mengingat bagaimana pelitnya sang paman selama ini.
Apa yang harus aku lakukan kalau paman juga tidak mau menolong. Harus pergi kemana anak-anak panti.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, perasaannya tidak karuan memikirkan nasib anak-anak. Haruskah mereka kembali terlantar untuk yang kesekian kalinya kalau tempat nya berteduh saat ini harus di hancurkan.
,,,
Sementara Sakka berlari dari mobilnya untuk segera ke kelas menemui Lia. Dirinya semalam baru menemui ayahnya, untuk membicarakan masalah yang tidak sengaja ia dengar kemarin.
Wajahnya tersenyum, dia tidak sabar untuk mengatakannya pada Lia jika ayahnya bersedia membantu.
Sampai di kelas, matanya menelisik seluruh sudut ruangan. Mencari gadis yang berhasil mengobrak-abrik hatinya.
"Di mana Lia?" tanya Sakka pada Rara yang sedang duduk di kelas.
"Lia...? Dia baru saja pergi," jawab Rara dengan bingung.
"Pergi??" Mata Sakka membulat sempurna, dia sudah terlambat... ya terlambat....
to be continue...
°°°
Mengsedihkan sekali Lia, semoga bang Sakka bisa kejar kamu ya...
__ADS_1
Mana nih suaranya, yuk kasih semangat buat Lia
🤗🤗🤗