
°°°
Febby sedang tertawa bahagia saat ini, membayangkan si pemilik kartu yang pasti sedang kesal karena ia sudah menguras uangnya dalam waktu beberapa jam saja.
Sebentar lagi pasti orang itu akan menghubungiku. Pikir Febby.
Tiba-tiba mamah Wina masuk begitu saja ke kamar putrinya, ia sudah tidak sabar ingin bertanya.
"Mamah, ada apa?" kaget Febby melihat mamahnya yang mendadak masuk.
"Katakan dari mana kamu mendapatkan semua barang-barang mahal itu. Apa dari Revan?" tanya mamah Wina mengintrogasi putrinya.
"Bukan Mah, bukan dari Revan tapi dari orang lain," jawab Febby seraya merebahkan tubuhnya yang masih terasa pegal-pegal akibat perbuatan pria itu semalam.
"Kalau bukan dari Revan lalu dari siapa nak, apa dari pria lain. Apa pria itu lebih kaya dari Revan?" Mamah Wina antusias, jika ada yang lebih kaya dari Revan tentunya ia akan lebih senang apalagi orang itu sangat royal pada putrinya.
Mata Febby terpejam tanpa mempedulikan omongan mamahnya, belum cukup ia memulihkan tenaganya ditambah berbelanja kesana-kemari, membuat ia dengan mudah terlelap.
"Ih... anak ini malah tidur. Jika pria itu lebih kaya dari Revan lebih baik tinggalkan saja kekasihmu itu," ujar mamah Wina.
Mamah Wina keluar dari kamar anaknya, ia kembali ke bawah untuk melihat apa saja yang sudah dibeli putrinya. Tas-tas branded berjajar di sana, tentu mamah Wina sangat menyukai itu.
Ia pun segera memotret semua tas dan barang mewah itu, lalu mengirimnya di grup arisan. Tujuannya tentu berniat ingin memamerkan semua itu pada ibu-ibu arisan agar mereka iri.
"Ada gunanya juga gadis itu." Tersenyum puas.
,,,
Ditempat lain, Mike yang sejak tadi ponselnya dipenuhi oleh laporan pengeluaran dari salah satu black card miliknya hanya tersenyum saja.
Lelaki itu malah senang saat Febby terus menggunakan kartunya. Itu berarti wanita itu ada rasa ingin bertemu dengannya.
Lalu mengenai kartu black card yang ia punya padahal hanya bekerja sebagai asisten di perusahaan fresh. Itu karena ia adalah pemilik dari beberapa club malam dan ada beberapa usahanya yang dulu masih ia jalankan sampai saat ini.
Jika dibilang Mike itu semacam mafia, tapi dengan ia bekerja dengan kakek Tio maka tidak ada yang tau apa sebenarnya pekerjaan sebenarnya.
__ADS_1
"Gunakan saja sepuasnya, sampai suatu saat nanti aku akan muncul dihadapan mu."
Walaupun Mike tidak menampakkan dirinya tapi ia sudah menyuruh bawahannya untuk mengawasi Febby, karena ia sudah menandainya sebagai miliknya seorang.
Entahlah meski tau Febby bukanlah wanita baik-baik, tapi ia merasa sesuatu yang lain saat bersamanya tadi malam. Bukan hanya karena wanita itu berhasil membangunkan miliknya tapi ia merasakan getaran saat berada didekatnya dan ada keinginan untuk melindungi wanita itu.
Ia tidak mempermasalahkan keburukan Febby yang mungkin saja tubuhnya sudah pernah dijamah banyak pria. Karena ia sendiri juga bukan pria yang sempurna, dahulu ia terkenal dengan pria berdarah dingin dengan banyaknya darah orang tidak bersalah di tangannya.
Namun, sekarang ia tidak lagi melakukan pekerjaan kejam itu. Ia hanya masih menjalankan penyelundupan barang-barang ilegal. Lalu mengenai Febby, ia pastikan tidak ada lagi pria lain yang menjamah tubuhnya lagi.
Jika ditanya, apa kakek Tio tau pekerjaan Mike dibelakangnya? Jawabannya tau. Beliau tau dan tidak mempermasalahkan hal itu. Terserah Mike mau melakukan apa, asal saat sedang bekerja dengannya pria itu bisa fokus dan bekerja dengan baik.
Hal itu terbukti, hingga saat ini Mike menjadi salah satu orang kepercayaan kakek Tio.
Mike pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
,,,
Setelah beberapa jam tertidur lagi, akhirnya Febby bangun juga. Ia langsung mengecek ponselnya tapi ternyata tidak ada satupun pesan atau telepon yang masuk.
Kesal Febby, padahal ia sudah sangat penasaran dengan sosok pria itu. Lalu ia sedikit bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana jika ternyata pria itu ternyata sudah tua bangka atau kakek-kakek.
"Ihhh... tidak mungkin kan pria itu kakek-kakek." Febby mengacak rambutnya, berusaha menghilangkan pikiran menjijikkan itu dari kepalanya.
Setelah menyegarkan diri Febby pun turun ke bawah. Tenyata di bawah sudah ada banyak teman mamahnya yang sedang melihat barang-barangnya.
"Mah...," panggil Febby.
"Sayang, sini duduk." Febby pun duduk di sebelah mamahnya.
"Ini loh jeng, putriku ini pinter banget kan cari pacar. Ini semua dari pacarnya loh," ujar mamah Wina menyombongkan diri.
Berbeda dengan Febby yang membulatkan matanya mendengar ucapan sang mamah.
"Mamah ngomong apa si," bisik Febby di telinga mamahnya.
__ADS_1
"Hustt.. kamu diam saja."
Setelah memberi peringatan pada putrinya agar tidak ikut bicara, mamah Wina kembali menyombongkan diri dan orang yang ada disana pun menatapnya penuh iri.
Semua yang ada di ruangan itu adalah barang mahal dan bermerek. Belum lagi mobil sport yang terparkir di depan, semakin membuat hati mereka panas.
Pusing dengan ibu-ibu itu, Febby pun memilih untuk pergi ke dapur. Ia butuh sesuatu untuk dingin untuk mendinginkan pikirannya.
Bagaimana bisa mamah berkata seperti itu, aku saja tidak mengenal orang itu. Lagi pula aku juga masih berpacaran dengan Revan. Apa mamah kira semua itu dari Revan. Batin Febby memprotes perbuatan mamahnya.
Ya tidak bisa di pungkiri jika selama ini Revan juga telah banyak memberinya banyak barang mewah, tapi tidak sebanyak itu sekali beli. Paling satu atau dua, itupun Febby mesti meminta dulu.
Tapi biarlah mamah mengira itu dari Revan. Mau jawab apa aku jika mamah bertanya banyak hal.
Sementara waktu menyembunyikan tentang pria itu adalah yang terbaik karena ia tidak mungkin mengatakan pada mamahnya, jika ia telah tidur dengan pria yang tidak dikenal.
Febby masih terus memikirkan siapakah pria itu. Apa ia harus kembali ke club' malam itu untuk mencarinya, tapi bagaimana mencarinya sedangkan ciri-cirinya saja tidak tau.
Febby begitu frustasi dilanda rasa penasaran, dan jujur ia sempat merasakan dalam mimpinya saat mereka bercumbu. Hal itu juga yang membuatnya penasaran, karena saat melakukan hal itu dengannya tidak pernah ia rasakan sebelumnya bersama pria lain, bahkan saat bersama Sakka sekalipun.
Sehebat itukah pria itu, bahkan saat Febby tidak sadar pun masih bisa merasakan sensasi yang berbeda dari sentuhannya. Yang sempat Febby kira itu adalah mimpi tapi ternyata nyata.
Apa aku gilaa, kenapa aku terus memikirkan pria itu. Padahal wajahnya saja aku tidak ingat. Malah yang aku ingat bagian tubuhnya dan sentuhannya.
Pikiran Febby kacau, sampai ia tidak mengingat lagi kekasihnya yang sedang pergi dengan istrinya. Padahal kemarin, kekesalannya sudah membuncah hebat.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...