Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
116. Buat Dia Sadar!!


__ADS_3

°°°


sementara di rumah sakit, seorang wanita sedang duduk termenung seorang diri. Ditatapnya jendela luar, langit yang gelap menandakan jika sudah malam tapi orang yang ditunggunya tidak juga datang.


Apa dia tidak akan datang?


Penyesalan membelenggu pikirannya, seharusnya ia tidak berkata seperti itu kemarin. Sehingga pria itu pergi tanpa pamit, dan menghilang tanpa kabar.


"Apa maksudnya sebenarnya, dia menyuruhku untuk mempertahankan janin ini tapi dia sendiri malah menghilang. Sekarang bagaimana nasibku."


Seketika rasa mual memenuhi rongga mulutnya, buru-buru Febby berlari ke kamar mandi.


Huek, huek, huek


Ada apa ini, bukankah seharusnya mualnya hanya di pagi hari. Makanan dan cemilan yang sudah masuk dalam perutnya keluar tanpa sisa.


"Kenapa tiba-tiba mual lagi, bukannya tadi sudah lebih baik."


Febby memegangi kepalanya yang sedikit pusing, ia keluar dari kamar mandi seperti membersihkan sisa muntahan di bibirnya.


Dengan susah payah akhirnya Febby berhasil naik ke atas tempat tidur. Tapi sayang saat ini rasa mual kembali menyerangnya tanpa permisi. Febby segera turun dan bergegas ke kamar mandi lagi.


"Suster... suster...!!" teriak Febby yang rasanya sangat lemas tidak bertenaga. Bahkan mulutnya terasa pahit.


Sayangnya suster tidak mendengar teriakkan Febby yang memang terdengar lirih, ia mencoba keluar dari kamar mandi tapi saat ia berhasil berdiri matanya yang berkunang-kunang dan lama-lama pandangannya kabur. Febby pun tergeletak di lantai kamar mandi dengan mata terpejam.


"To... long.." lirihnya, sangat lirih.


,,,


Sementara Mike, lelaki itu baru saja kembali dari apartemennya setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dia ingin datang ke rumah sakit dari sore tapi pekerjaan lagi-lagi menahannya.


Mike membawakan berbagai macam makanan untuk di berikan pada Febby tentunya. Dari yang ia cari tau, wanita hamil itu sangat mudah merasa lapar bahkan di tengah malam sekalipun.


Dan rencananya, malam ini Mike juga mau membicarakan perihal nasib anaknya.

__ADS_1


Sekali lagi Mike akan menawarkan ikatan pernikahan pada Febby, tapi jika wanita itu tetap menolak maka ia akan melakukan apapun agar anaknya bisa melihat dunia.


"Apa dia sudah makan?" tanya Mike pada jejeran para perawat yang ia tugaskan untuk menjaga Febby dan calon anaknya.


"Sudah Tuan, nona juga sudah meminum susu hamilnya." Jawab mereka dengan yakin karena memang mereka baru saja dari ruangan itu.


"Lalu sedang apa dia sekarang?" tanya Mike lagi, sebenarnya ia memastikan Febby masih bangun atau sudah tidur.


"Tadi yang saya lihat nona masih belum tidur Tuan," ujar mereka.


"Baiklah, jika kerja kalian bagus maka aku akan memberikan kalian bonus." Setelah itu Mike berlalu dari sana.


Para perawat yang beruntung telah merawat wanita yang di cintai Mike tentu bersorak gembira. Bagi mereka wanita itu seperti Dewi keberuntungan untuk mereka, karena setelah ini jabatan mereka juga akan naik.


Mike akhirnya sampai di depan ruangan Febby, ia menghembuskan nafasnya berkali-kali. Ia harap kali ini tidak ada lagi penolakan agar semuanya bisa berjalan dengan mudah.


Ceklek


Mike menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keberadaan wanita itu. Tidak terlihat jelas ia pun berjalan masuk lebih dalam.


"Dimana dia?" Mike bertanya-tanya karena tidak mendapati Febby di atas ranjang ataupun sofa.


"Apa kau di dalam?" tanya Mike di dekat pintu, tapi sayang tidak ada jawaban atau suara apapun. Suara gemericik air saja tidak ada, apa mungkin dia di dalam.


"Jika kamu ada di dalam, jawab aku. Kau dengarkan!" Mike meninggikan suaranya, berharap yang di dalam sana bisa mendengarnya.


Mike gelisah di depan pintu, sejak tadi tidak mendapatkan jawaban apa-apa. "Kalau sampai dalam hitungan ke tiga kau tidak bersuara, aku akan masuk ke dalam!" Sentak Mike yang sudah tidak sabar.


"Satu... dua... tiga..." Ceklek! Mike pun membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci.


Mata birunya membelalak, dunianya seakan runtuh seketika. Mendapati wanita yang sedang mengandung anaknya tergeletak tak berdaya.


"Febby... Feb... " panggil Mike berusaha membangunkan wanita itu.


"Aku mohon jangan sampai terjadi apa-apa pada kalian," pinta Mike seraya membopong tubuh Febby.

__ADS_1


"Suster... suster...!!" Teriakkan Mike berhasil terdengar hingga keluar dan suster pun segera datang menghampiri laki-laki yang katanya akan memberinya bonus.


"Iya Tuan, cepat kau panggil dokter sekarang. Jika sampai terjadi apa-apa pada mereka berdua kalian akan terima akibatnya!!" Tatap Mike penuh amarah, padahal ia sudah berbaik hati pada mereka tapi hanya menjaga satu orang saja tidak becus.


Suster itu pun mematung, bagaimana ini bisa terjadi. Bukankah tadi baik-baik saja saat ia meninggalkan wanita itu. Kenapa semua jadi begini. Pertanyaan itu tentu saja muncul di benak sang suster yang merasa sudah menjaga Febby dengan baik.


"Tunggu apalagi!! cepat panggilkan dokter!!" Bentak Mike hingga membuat bulu kuduk merinding. Tamatlah riwayat kalian.


"I... iya Tu... an." Suster itu pun bergegas keluar dan mencari dokter.


Tatapan Mike kembali pada wajah yang sangat ia rindukan, padahal baru semalam saja tidak bertemu rasanya sudah sangat rindu. Lalu bagaimana jika wanita itu menolak untuk bersamanya, mau bagaimana dia menahan rindu.


"Apa yang terjadi padamu, apa kehadiranku sangat menyiksamu hingga kau sampai seperti ini." Hanya sesal yang tersisa, jika malam itu dia bisa menahan diri pasti tidak akan seperti itu jadinya.


Beberapa dokter dan perawat pun berlari ke ruangan Febby, mereka tidak tau bagaimana akhirnya nasib mereka jika terjadi apa-apa pada wanita yang amat berarti bagi pria berkuasa itu.


"Permisi Tuan, kami akan memeriksa keadaan Nona."


"Cepat buat dia sadar!" perintah Mike tanpa berpikir. Dia lupa jika dokter juga manusia, dia hanya bisa melakukan pekerjaan semaksimal mungkin tapi takdir tetaplah yang di atas yang menentukan.


Dokter itu segera mengeluarkan alat-alatnya dan mulai memeriksa.


Mike awalnya mau menyingkir agar dokter disana lebih leluasa untuk memeriksa Febby. Baru saja Mike hendak mundur, tangannya yang menggenggam Febby tidak bisa terlepas. Lebih tepatnya wanita itu menahan Mike agar tidak pergi.


Mike pun kembali mendekat dan kembali menggenggam tangan Febby. "Aku ada disini, tidak akan pergi lagi." ujar Mike.


Dokter sudah memeriksa dan kembali memasang jarum infus. Ternyata Febby kembali mual dan muntah makanya dia pingsan karena terlalu lemah setelah mengeluarkan isi perutnya.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2