
°°°
Saat ini Lia dan Sakka sudah dalam perjalanan menuju ke restoran yang sudah Sakka pesan. Setelah perdebatan panjang antara suami istri itu akhirnya gaun terselesaikan juga.
Coba bayangkan bagaimana Lia tidak kesal kalau dia sudah dandan susah payah tapi disuruh merubah penampilannya lagi. Tentulah dia tidak mau dan bersikekeuh tetap dengan penampilannya yang seperti itu.
Sementara Sakka tetap pada pendiriannya yang tidak rela jika kecantikan istrinya dilihat oleh orang lain. Jadilah dia minta sang istri berganti gaun yang lebih tertutup dan juga menghapus makeup nya.
Tentu saja Lia keberatan dengan pengaturan itu, kalau pakai pakaian tertutup lalu menghapus makeup lebih baik makan malam di rumah saja tidak usah pergi.
Keduanya saling beradu mulut dan tidak ada yang mau mengalah sampai ayah Bayu pulang dan melihat putra dan menantunya sedang bersitegang.
Pada akhirnya Lia menang karena ayah Bayu setuju dengannya, dia tetap menggunakan gaun itu. Lalu menggunakan blazer di bagian luar agar tidak terlalu terbuka.
"Kalau tidak mau aku pakai gaun ini kenapa memesan gaun seperti ini," sindir Lia yang masih dalam mode kesal.
"Itu karena aku tidak menyangka kalau dipakai olehmu akan jadi secantik itu dan memperlihatkan pundak lalu bagian depan kamu juga terlalu terbuka ternyata." Ya saat memilih gaun itu di butik tantenya dia tidak berharap kalau saat di pakai sang istri akan sangat terbuka jadinya. Kalau tau begitu mending pilih gaun yang syar'i.
Lia tersenyum miring mendengarnya, entah maksud suaminya itu mau memuji atau justru menghina bentuk tubuhnya.
"Jangan marah lagi ya, kita kan mau makan malam di luar. Harusnya kita senang-senang malam ini," bujuk Sakka pada sang istri yang masih sana cemberut.
"Itu karena kamu yang ribet Yank, tinggal berangkat saja pakai berdebat dulu," celetuk Lia.
"Iya iya aku minta maaf, jangan marah lagi ya. Nanti cantiknya berkurang loh...," goda Sakka.
Perlahan senyum indah pun terbit di wajah cantik Lia.
Sampai di restoran.
Pelayan langsung membawa mereka ke meja yang sudah di pesan dan ternyata ada di pinggir kolam yang sudah dihias sedemikian rupa sehingga tampak sangat romantis. Bahkan ada lilin yang mengambang di tengah kolam dan membentuk hati. Entah bagaimana membuatnya, apa airnya tidak bergoyang saat menaruhnya sampai bentuk love itu masih sempurna.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Sakka pada istrinya yang terus memandangi kolam.
"Hehehe... tidak apa-apa, hanya terpukau pada dekorasinya." Hah.. kenapa juga aku harus memikirkan bagaimana orang dekor mengaturnya.
"Pilihlah apa yang ingin kamu makan," ujar Sakka menyerahkan pilihan menu pada Lia.
Lia membuka lembar demi lembar buku menu itu, meski sudah beberapa bulan menikah dan hidup dengan orang kaya ,tapi dia masih tidak habis pikir dengan gaya hidup orang kaya yang suka menghamburkan uang hanya untuk makan makanan yang porsinya sangat kecil tapi harganya sangat mahal.
__ADS_1
"Ini saja lalu ini dan ini juga...," tunjuknya pada beberapa menu yang mungkin masih bisa diterima oleh lidahnya. Karena ada beberapa menu makanan western yang Lia tidak suka.
"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Sakka.
"Suka... terimakasih sayang, kamu suami yang terbaik dan pengertian," puji Lia.
"Iya dong, harus." Sakka membanggakan diri sendiri.
Makan malam itu berlangsung romantis karena sepanjang makan malam juga ada iringan musik yang mengiringi mereka. Benar-benar seperti yang Lia bayangkan sebelumnya.
Kini raut wajah Lia pun sudah berubah ceria setelah makan malam tadi.
"Terimakasih ya Yank, aku bahagia sekali malam ini. Ternyata kamu romantis juga," ujar Lia.
"Bukannya aku romantis dari dulu, apa kau tidak sadar?" tanya Sakka seraya mengerutkan keningnya.
"Iya iya kamu memang romantis. Pokoknya terimakasih terimakasih terimakasih."
Sakka pun gemas pada istrinya.
"Jangan terlalu banyak terimakasih karena masih ada satu lagi kejutannya," ujar Sakka, sontak Lia pun melebarkan matanya.
"Nanti kau akan tau," ujar Sakka dengan senyum semirknya.
Beberapa saat kemudian. Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di halaman hotel mewah bintang lima.
"Hotel? Apa kita mau menginap?" tanya Lia.
"Iya, kejutannya ada di dalam. Ayo turun," ajak Sakka lalu dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk istrinya.
Mereka berjalan bersisian dengan tangan Lia yang melingkar di lengan suaminya. Setelah mencocokkan data di resepsionis, mereka pun mendapatkan kunci kamarnya.
"Kenapa kita harus menginap, buang-buang uang saja," gumam Lia.
"Apa ya Yank? Kamu bilang apa tadi?"
"Tidak apa-apa, apa kamu sudah bilang pada ayah kalau mau menginap di luar?" tanya Lia.
"Sudah, tenang saja."
__ADS_1
Sampai di depan kamar, entah kenapa mendadak Lia gugup. Padahal tiap hari juga tidur satu kamar dengan Sakka tapi saat di hotel kenapa rasanya berbeda.
"Ayo masuk," ajak Sakka yang sudah membuka pintu. "Kenapa tangan kamu dingin sekali, apa kamu gugup," godanya.
"Tidak, siapa yang gugup. Lihatlah aku biasa saja." Dengan sok berani Lia masuk ke dalam lebih dulu dan lagi-lagi pemandangan di depan matanya membuatnya tak berkedip.
Kasur dengan taburan bunga mawar lalu lilin-lilin di setiap sudut. Sudah seperti kamar untuk pengantin baru.
"Bagaimana, apa dekorasinya mengingatkan kamu pada malam pertama kita," goda Sakka sambil memeluknya dari belakang.
Dug
"Aaww... kenapa kau menyikut ku." Sakka memegangi perutnya yang terkena sikutan dari sang istri.
"Itu karena kau mengingatku pada malam yang memalukan itu." Lia memang paling tidak suka kalau sang suami membahas malam pertama mereka yang terlalu dramatis. Berlinang air mata dan dipenuhi era ngan.
"Kata siapa memalukan, malam itu adalah malam yang tidak akan pernah aku lupakan. Dimana aku adalah laki-laki pertama yang mendapatkan keistimewaan darimu. Terimakasih karena kamu mau menerima ku yang penuh kekurangan dan dosa."
"Semua itu masa lalu, kini Sakka adalah suamiku, imamku dan panutan ku." Lia membalikkan tubuhnya dan menangkup kedua pipi Sakka lalu menempelkan bi birnya.
Sakka pun menyambut ciu man dari sang istri, menahan tengkuknya dan menarik pinggangnya hingga mereka tak lagi berjarak.
Li dah mereka pun saling bertautan, menari-nari di dalam sana. Saling membelit dan me maagut. Keduanya terb akar ge -lora api asmara yang kian kuat semakin harinya.
Hingga bunyi de capan pun tercipta memenuhi seisi ruangan. Tidak ada yang mau menyudahi keduanya sudah lihai dalam mengatur nafas.
Perlahan kaki Sakka pun bergerak maju hingga tubuh sang istri pun perlahan mundur. Tanpa melepaskan tautan mereka kini sampai di sisi ranjang.
Satu persatu pakaian mereka sudah tertanggal kan dan berserakan di lantai.
"Sayang, kau siap?" tanya Sakka seperti dulu saat malam pertama mereka.
Lia pun mengangguk dengan malu-malu.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo ❤️❤️