Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
226. Arin


__ADS_3

°°°


"Namanya Arini Putri Herwaman," jawab Revan seraya menatap istrinya meminta persetujuan.


"Nama yang bagus, aku suka Kak," puji Rara, dia setuju dengan nama yang suaminya buatkan untuk putri kecil mereka.


"Terimakasih Sayang, Arin pasti sangat bangga punya ibu seperti kamu. Semoga kelak dia jadi wanita yang baik dan cantik seperti ibunya." Revan mendekati istrinya lalu menciumi kening sang istri dengan penuh cinta.


"Dia juga anakmu kak, Arin pasti akan seperti mu juga," sanggah Rara. Dia menatap suaminya dalam, laki-laki pertama yang mampu merasuki hati dan pikirannya.


"Tapi aku berharap dia akan seperti mu." Tanpa disadari Revan mendaratkan kecupan singkat dibibir istrinya.


Semua pun terperangah melihat adegan mesra suami istri itu, tapi mereka juga ikut bahagia melihat nya.


"Ohh.. lihatlah barusan Arin tersenyum. Dia pasti suka nama itu," ujar Febby gemas.


Tidak ada lebih membahagiakan selain kelahiran seorang anak ke dunia ini. Kedatangannya setelah sembilan bulan ada dalam perut ibunya terasa sangat istimewa.


,,,


Febby dan Mike pulang lebih dulu karena baby Nathan sudah mulai rewel. Juga tidak ingin mengganggu lebih lama pasangan orangtua baru itu. Mereka pernah mengalaminya, tentu tau bagaimana rasanya menjadi orang tua baru.


"Sayang, Nathan sudah tertidur," uajr Mike mengingatkan karena Febby tak kunjung memasukkan kembali satu asetnya yang menggantung. Bisa-bisa Mike tidak tahan kalau melihat pemandangan itu.


Febby pun membenarkan kembali pakaiannya.


"Kamu kenapa?" tanya Mike pada Febby yang terus melamun sejak keluar dari rumah sakit. Mike paham setiap kali istrinya terlihat sedih pasti dia akan melamun. "Ceritalah kalau ada masalah, aku suamimu," ujarnya seraya mengusap kepala istrinya.


"Aku hanya teringat dengan ucapan Abi saat di rumah sakit tadi, tentang perjuangan seorang ibu. Meski aku tidak merasakan bagaimana rasanya melahirkan tapi aku jugu sudah mengandung dan bekas operasi Caesarnya bahkan masih terasa sakit sampai sekarang." Febby menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian menatap putranya yang terlelap.

__ADS_1


"Bagaimana repotnya mengurus anak, menyusui yang kadang harus bangun tengah malam. Bagaimana pengorbanan seorang ibu, aku paham sekarang." Febby menyeka sudut matanya yang mulai basah.


"Apa kau teringat pada mamah Wina? Apa kau ingin menemui nya?" tanya Mike.


"Bolehkah aku melihatnya?" Febby takut permintaannya menyinggung perasaan suaminya. Bagaimanapun mamah Wina sudah sangat melukai perasaan suaminya saat pria itu masih koma sampai sudah bangun karena tidak bisa melakukan apa-apa, ya Mike pada saat itu hanya duduk di kursi roda. Tentu Wina menghinanya habis-habisan.


"Tentu boleh sayang, kau tinggal bilang saja kalau mau," ujar Mike dengan tatapan teduhnya dan juga senyum yang hanya pernah ia perlihatkan pada Febby, istrinya.


"Apa kau tidak marah Mike? Kalau kau tidak nyaman karena aku bertemu mamah, aku tidak akan menemuinya." Febby menggenggam tangan suaminya, dia tidak ingin melihat Mike terluka karena mamahnya lagi.


"Kenapa aku harus marah, kita akan berkunjung bersama ke rumah mamah. Mamah pasti senang kalau melihat Nathan."


"Apa kau tidak marah dengan perkataan mamah dulu? Aku tidak ingin kau terluka karena ucapan mamah lagi," ujar Febby seraya menunduk, dia malu pada suaminya.


"Sudah aku katakan kalau aku tidak marah, saat mamah berkata pedas dan menghinaku dulu aku justru merasa bahagia dan bersyukur karena istriku selalu membelaku. Aku bahagia karena akhirnya aku tau kalau kau begitu mencintai ku, mau bertahan denganku dan tidak meninggalkan ku disaat aku tidak berdaya."


"Ada kau dan Nathan dalam hidup ku saja aku sudah sangat bersyukur dan bahagia. Aku tidak mau serakah dengan menginginkan mamah meretuku menyukai ku. Cukup kalian ada disampingku," ujar Mike, dia menarik tangan Febby yang sedang menggenggamnya lalu mengecupnya dengan lembut.


,,,


Sementara di rumah sakit.


Semua orang sudah pulang dari rumah sakit, termasuk umi dan Abi. Mereka ingin memberikan ruang pada Rara dan Revan untuk menikmati bagaimana rasanya jadi orangtua.


"Sayang lihatlah bibir Arin sangat imut seperti kamu," ujar Revan yang tidak bosan-bosannya memandangi wajah putrinya.


"Benarkah, tadi hidungnya mirip dengan kakak, alis dan rambutnya juga tebal seperti kakak. Padahal aku yang mengandung tapi dia malah lebih banyak mirip dengan kak Revan," tukas Rara merasa iri.


"Tidak apa-apa dia mirip seperti ku, yang penting sifat dan kepribadiannya harus seperti mamahnya." Revan mengusap lembut pipi bagi mungil yang baru beberapa jam yang lalu melihat dunia.

__ADS_1


"Oek oek oek... " tangis baby Arin tiba-tiba terdengar. Tidurnya terusik oleh papahnya yang gemas sejak tadi.


"Kenapa dibnagunkan Kak," protes Rara


"Maaf sayang, aku tak sengaja. Ini bagaimana," panik Revan saat sang putri kecil mengeraskan suaranya.


"Ohhh sayang, maafkan papah. Papah tidak sengaja membangunkanmu. Tidur lagi ya," bujuknya seraya menepuk pantat sang putri.


"Bawa kemari kak, sepertinya dia haus," ujar Rara.


"Bagaimana caranya, aku belum bisa melakukannya sayang. Kalau salah bagaimana," ucap Revan begitu takut.


"Ya ampun, bukankah tadi kak Revan sendiri yang menyuruh semua orang pulang. Aku kira karena Kakak sudah belajar bagaimana mengurus bayi," sindir Rara, dia turun dari brangkal lalu mengambil putrinya dari box bayi. Dia bisa tentu saja, Dalam kelas ibu hamil yang ia ikuti dua Minggu sekali, bukan hanya mengajarkan senam saja tapi beberapa cara mengurus bayi pun diajarkan.


"Maaf sayang, aku hanya ingin punya waktu bersama kalian. Nanti aku akan belajar mengurus putri kita, aku janji." Revan mengacungkan dua jarinya berjanji. " Aku pasti bisa jadi papah yang siaga nanti," janjinya lagi.


"Benarkah? jangan sampai membuat putri kita kecewa. Coba kak Revan buktikan kalau kakak bisa lebih baik dari Mike." Rara sengaja mengatakannya agar sang suami benar-benar belajar dengan serius dalam mengurus bayi.


"Tentu sayang. Aku pasti akan lebih baik dari Mike." Yakin, Revan sangat yakin itu.


Rara pun mulai menyusui putrinya, walaupun rasanya masih aneh dan sakit tapi ia tahan karena kata umi nanti put -ingnya akan terbiasa saat sering dihisap oleh sang putri. Jadi kalau tidak dibiasakan malah nantinya akan semakin sakit dan itu katanya belum seberapa dibandingkan saat nanti anak kita sudah tumbuh gigi. Sakit, lecet, tidak bisa tidur dan bentuknya berubah adalah hal umum yang dirasakan ibu menyusui.


Namun, hal itu akan terbayarkan dengan tatapan si kecil yang akan menatap ibunya saat menyusu. Itulah yang namanya bonding. Dimana ikatan antara ibu dan anak akan semakin kuat.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gowamo ❤️❤️❤️


__ADS_2