
°°°
Belum berhenti sejak mereka saling pandang, pandangan yang saling mengunci dan debaran yang saling berpacu.
Rara menyudahi sesi saling pandang itu demi kesehatan jantungnya, tapi tangannya masih berada dalam genggaman suaminya.
"Hmmm... jadi begini. Kamu pegang pisau di tangan kanan, sedangkan garpu di tangan kiri. Tahan dengan garpu dan potong dengan pisau, pelan-pelan saja nikmati prosesnya."
"Apa kamu mengerti?" tanya Revan setelah ia menjelaskan caranya memotong steak pada istrinya.
Namun, gadis itu malah tidak fokus dengan apa yang Revan ajarkan. Tatapannya sejak tadi melihat ke wajah suaminya.
"Apa kau mendengarkan ku tadi?" Tatap Revan penuh selidik.
"Eh iya paham Kak," jawab Rara seraya menahan malu karena ketahuan memandangi suaminya.
"Benarkah?" Revan tidak yakin dengan jawaban istrinya.
"Iy.. iya Kak." Rara manggut-manggut untuk meyakinkan.
Revan kembali duduk di kursinya dan membiarkan istrinya mencoba hal baru itu sendiri.
Sementara Rara ragu-ragu saat akan mempraktekkan apa yang suaminya ajarkan tadi, karena nyatanya dia sama sekali tidak menyimak dengan benar. Untungnya ia sudah sering melihat adegan memotong steak di drama-drama yang ia tonton.
Revan memperhatikan istrinya, posisi tangan yang memegang pisau dan garpu sudah benar. Tinggal melihat selanjutnya apa bisa Rara melakukannya.
Potongan daging setengah matang itu akhirnya mendarat di mulut Rara. Meski beberapa kali Revan protes karena caranya salah. Namun, pada akhirnya pria itu membiarkan sang istri menikmati makanannya sesuka hatinya.
Awalnya terasa aneh saat pertama kali mengunyah daging itu di dalam mulutnya. Ini pertama kalinya Rara memakan daging yang di masak setengah matang. Dia kira rasanya akan alot dan bau daging mentah.
Ternyata begitu di kunyah tekstur dagingnya lembut dan juicy, apalagi ditambah sausnya. Membuat orang tidak bisa berhenti mengunyah.
"Apa kau menyukainya?" tanya Revan yang melihat istrinya sangat menikmati makanannya.
"Suka Kak, awalnya aneh tapi lama-lama aku suka dan ingin menghabiskan semuanya." Senyumnya mengembang dengan mulut yang masih terus mengunyah.
Hingga beberapa saat kemudian. Mereka selesai menyantap makanan yang menurut Rara porsinya jika digabungkan, pasti muat dalam satu piring.
"Apa kau sudah kenyang atau mau pesan lagi?" Revan bertanya seperti itu karena tadi Rara sempat mencari nasi putih, pikirnya mungkin istrinya itu belum cukup kenyang.
"Tidak Kak, ini cukup. Kita pulang sekarang."
"Tunggu masih ada makanan penutup," cegah Revan. Kemudian ia memanggil pelayan.
Dengan sigap para pelayan sudah membawakan apa yang Revan minta.
"Kau pasti suka kali ini, ayo makan."
Ya siapa yang tidak suka dengan makanan penutup yang identik dengan rasa manis.
Rara mulai mencobanya, benar saja rasanya bagaikan bunga-bunga yang bermekaran di musim semi dan kupu-kupu menari di lidahnya.
Kejutan... mata cantiknya membulat dan berbinar-binar.
Sepertinya aku akan menjadikan makanan penutup ini dalam jajaran favoritku. Rara.
Puas dengan berbagai rasa baru yang sudah Rara coba, mereka pun meninggalkan restoran yang terlihat semakin ramai menjelang tengah malam.
"Kamu ingin langsung pulang atau mau mampir kemana lagi?" tanya Revan.
__ADS_1
"Sepertinya pulang saja Kak," jawab Rara.
Setelahnya Revan melajukan mobilnya menembus angin malam dan hiruk-pikuk jalanan ibu kota yang ramai di akhir pekan.
Sepertinya orang-orang juga menghabiskan waktu akhir pekannya di luar.
Sementara sejak tadi Rara asyik berkirim pesan dengan temannya. Sehari tanpa kecerewetan Lia ternyata membuatnya rindu. Gadis itu sedang bercerita tentang pertemuannya dengan pria yang ingin dihindarinya.
^^^~Lia^^^
^^^Apa kamu sedang sibuk Ra?^^^
~Rara
Tidak, kenapa cantik?
^^^~Lia^^^
^^^Ahh jangan memanggilku begitu, pipiku jadi merah. Hihihi...^^^
Rara terkekeh membacanya.
Sejak tadi ternyata Revan memperhatikannya, ia penasaran istrinya sedang berkirim pesan dengan siapa sampai senyum-senyum sendiri.
Sayangnya hubungan mereka belum sampai tahap saling mengatur atau ikut campur, sehingga Revan tidak berani bertanya meskipun ia sangat penasaran.
Rara lanjut lagi berkirim pesan.
^^^~Lia^^^
^^^Ra, apa kamu tau. Kemarin malam aku bertemu pria itu lagi.^^^
~Rara
^^^~Lia^^^
^^^Itu mahasiswa baru yang kemarin sok tebar pesona. Dia pesan makanan lagi di tempat kerjaku. Ngeselin banget lagi, aku harus nungguin setengah jam lebih di depan pintu. Bayangkan Ra?^^^
~Rara
Sepertinya kalian jodoh?
^^^~Lia^^^
^^^Ihh amit-amit ya Ra, kalau cowok cuma sisa dia aja di dunia ini. Aku juga belum tentu mau.^^^
~Rara
Jangan bicara seperti itu, bisa jadi saat ini kamu kesal tapi tidak ada yang tau jika tiba-tiba jadi suka. Jangan terlalu membenci seseorang Lia.
^^^~Lia^^^
^^^Bagaimana aku nggak kesel, Ra. Aku disuruh nungguin orang yang sedang gitu-gituan, berdiri di depan pintu kayak orang gilaa.^^^
~Rara
Sabar sayangku, jangan terlalu di masukan ke dalam hati. Itu tidak baik dan sekarang coba liat, kamu malah terus ingat padanya karena terlalu kesal.
Cukup lama Lia tidak lagi membalas pesan dari Rara. Mungkin ia sedang memikirkan apa yang temannya ucapkan lagi.
__ADS_1
^^^~Lia^^^
^^^Kamu benar Ra. Sekarang aku malah kepikiran dia terus. Bagaimana ini?^^^
~Rara
Memaafkan adalah obat hati terbaik. Coba kamu maafkan tindakannya yang kemarin, pasti kamu tidak lagi memikirkannya.
^^^~Lia^^^
^^^Terimakasih Ra. Kamu memang yang terbaik.^^^
Emoticon pelukan temannya sematkan sebagai tanda terimakasih.
~Rara
Sama-sama.
Rara meletakkan kembali ponselnya, ia kagum dengan temannya yang bernama Lia itu. Dia wanita hebat dan kuat, berusaha seorang diri untuk menyambung hidup, tapi walaupun hidup dalam keterbatasan. Lia tidak lupa untuk bersedekah, ia rutin mengirimkan sedikit rejekinya untuk panti asuhan tempat ia tinggal semasa bayi hingga dewasa.
"Ada apa?" tanya Revan yang melihat istrinya melamun.
"Tidak Kak, aku hanya sedang malu pada diri sendiri. Begitu banyak orang yang lebih kekurangan dan menderita dariku, tapi aku kadang lupa untuk bersyukur."
Ya bagi Rara masalahnya saat ini, pasti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Lia hadapi. Tidak tau orang tuanya kemana dan harus berjuang keras untuk sejak kecil.
Semesta memang terkadang berpihak entah pada siapa, banyak anak-anak kurang beruntung yang terlantar dijalankan bahkan ada anak-anak yang diperjualbelikan. Jika saja semua anak-anak yang ada di dunia ini mendapatkan hal yang sama, pasti dunia ini akan sangat indah.
Mungkin saja sang pencipta menyiapkan hal yang berbeda bagi anak-anak itu. Dimana penderitaannya dari kecil akan di ganti dengan kebahagiaan berlipat-lipat ganda di akhirat nanti.
Revan tidak mengerti kenapa istrinya bilang seperti itu, tapi apa yang Rara pikirkan benar adanya.
"Dulu saat ibu baru meninggal, aku sangat terpuruk dan membenci Allah karena mengambil ibuku dengan cepat padahal aku masih kecil waktu itu. Aku bahkan mengumpat Nya."
"Benarkah, dulu Kakak seperti itu? Rara mendengarkan dengan serius.
"Iya, untung saja ada kakek yang menyadarkan ku. Beliau mengajakku ke beberapa panti Asuhan dan tempat-tempat yang biasa anak-anak kecil mengamen."
"Di sana wajah anak-anak sangat bahagia hanya dengan diberi mainan yang harganya tidak seberapa. Pengurus panti juga bercerita jika sebagian dari mereka adalah hasil buangan dari orang tuanya, ada juga yang mereka tampung dari jalanan."
"Lalu jika sudah dewasa mereka akan dibiarkan hidup sendiri, keluar dari panti. Karna memang keterbatasan tempat dan faktor lainnya, setiap tahun jumlah anak terlantar semakin banyak. Jadilah yang sudah besar terpaksa mereka lepas untuk hidup mandiri."
"Entah apa jadinya mereka, tanpa ketrampilan dan pendidikan. Banyak yang akhirnya kembali terjun ke jalanan untuk bertahan hidup."
Rara sangat tersentuh dengan apa yang suaminya ceritakan. Matanya menatap jalanan yang mereka lalui. Memang benar di ibukota ini banyak sekali orang-orang yang mengais rezeki di jalanan. Dari lansia hingga balita.
Semua itu membuat Rara banyak mengucap syukur dengan hidupnya saat ini. Ia juga bertekad untuk tetap bersabar dalam cobaan yang menimpanya.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1