Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
182. Dituduh


__ADS_3

°°°


Setelah Rara bujuk dan meyakinkan Lia, akhirnya gadis itu mau turun juga dari mobil. Meski dia masih malu-malu dan berjalan di belakang Rara.


"Ya ampun Li, kan kamu yang mau fitting. Kenapa kamu sembunyi di belakang ku terus," heran Rara pada temannya.


"Lihatlah mereka Ra, penampilan mereka sangat modis dan pelayanan toko juga menyambut mereka dengan sangat ramah. Berbeda dengan kita, pelayan toko bahkan memandang kita seperti tak pantas masuk kesini."


Lia masih tak habis pikir pada karyawan di butik itu, mereka ramahnya pada orang-orang tertentu saja. Padahal saat Lia menjadi pelayan tidak seperti itu, mau siapapun pembelinya tetap menjunjung tinggi yang mengatakan kalau pembeli adalah raja.


"Tidak usah di pikirkan Lia, kita lihat pakaian kamu saja. Kalau mereka tau siapa calon suami kamu, aku yakin mereka akan menyesal sudah bersikap seperti tadi." Rara lebih ke masa bodoh pada pandangan orang, dia selalu fokus pada urusannya.


"Sebentar aku telepon Sakka dulu, aku tidak tau harus mencari siapa disini," ujar Lia seraya mengambil ponselnya untuk menelepon sang calon suami.


Sebenarnya saat ini Rara dan Lia juga memakai pakaian branded dari merek terkenal yang awalnya huruf H. Tapi karena penampilan mereka sederhana mungkin jadi orang yang melihat menilainya orang biasa. Padahal kalau mereka benar-benar tau merek seharusnya liat tas yang di pakai Rara dan Lia itu seharga satu buah mobil baru.


"Bagaimana?" tanya Rara.


"Tidak diangkat Ra, lalu aku harus bagaimana sekarang?" Lia kembali menunduk saat pengunjung dan para karyawan melihat ke arah mereka.


"Tadi kata Sakka bagaimana, apa dia tidak mengatakan apapun?" Rara mencoba membuat temannya tenang dan jangan sampai panik.


"Dia hanya mengatakan kalau aku datang ke sini saja nanti akan ada orang yang membantunya, tapi lihatlah sekarang... bahkan para karyawan saja tidak ada yang mendekati kita untuk menawarkan pakaian." Lia kesal dibuatnya.


"Tenang Lia, mungkin Sakka sedang sibuk saat ini. Bukannya sudah aku bilang kamu harus tenang, masalah seperti ini memang sering terjadi saat seseorang mau menikah," ujar Rara seraya mengusap-usap kepala temannya.


"Sambil menunggu, bagaimana kalau kita melihat-lihat pakaian disini. Siapa tau ada yang cocok," saran Rara.


"Ya sudah ayo." Lia menerima ajakan temannya dan mereka berkeliling butik itu. Walaupun sebenarnya risih karena para karyawan terus melihat mereka dengan tatapan merendahkan. Seolah mereka itu pencuri yang sedang diawasi.


Rara menikmati waktunya saat ia mengambil beberapa pakaian dan ia masukkan ke dalam keranjang belanjaan. Walaupun harganya mahal tapi sebanding dengan kualitas dan bahan yang digunakan. Ya Rara tanpa ambil pusing melihat harganya tapi dia tetap memasukkan pakaian yang ia suka ke ranjang belanjaan.

__ADS_1


"Li, kamu mau baju yang mana biar aku traktir kali ini," ujar Rara pada temannya.


"Aku tidak ingin membeli pakaian Ra, aku hanya ingin segera pergi dari sini." Lia masih merasa tidak nyaman dengan pandangan mereka.


"Kamu jangan pedulikan mereka Li, kita kan juga pembeli juga disini ayo lihat lagi," ajak Rara.


Sampai ada satu karyawan yang berteriak karena kecolongan, ya ada pakaian yang hilang dari tempatnya ternyata.


"Bagaimana ini, tadi aku lihat masih ada disini. Kenapa tiba-tiba menghilang, siapa yang sudah mengambil nya." Terlihat karyawan itu sedang panik dan bercerita pada temannya.


"Kamu tenang saja, Kita pasti menemukan pencurinya. Tadi aku sudah menyuruh satpam untuk menutup pintu keluar agar siapapun yang ada disini tidak bisa keluar sementara sampai kita menemukan pencurinya." Salah satu dari mereka tampak mendapatkan ide untuk menggeledah seluruh pengunjung yang datang.


"Semua orang mohon perhatian nya. Toko kami baru saja kehilangan pakaian yang harganya tidak murah. Jadi kami mohon untuk kerja samanya untuk sama-sama menemukan pencuri itu, terimakasih sebelumnya." Bunyi di speaker yang ada di butik itu.


Para pengunjung mulai riuh, ada yang setuju ada pula yang marah-marah karena merasa tidak mencuri. Mereka sebagai wanita berpenampilan mewah tentunya tidak setuju kalau tas mereka di geledah. Entah apa alasannya bukannya itu hanya penggeledahan kenapa harus takut kalau tidak bersalah. Itulah yang dipikirkan Lia dan Rara.


"Ayo Li, kita ikut kumpul juga di sana," ajak Rara.


"Kalian tidak lihat penampilan kami bukan seperti orang susah, bagaimana mungkin kami mencuri. Apa perlu kami ikutan di geledah." Salah satu dari pengunjung protes saat akan digeledah.


"Iya kami juga, tidak mau. Apa kalian tidak tau siapa kami." Protes yang lain.


Sampai karyawan butik itu kewalahan menghadapi para pelanggan yang tidak mau bekerja sama. Dan tidak tau kau bagaimana menemukan pakaian yang hilang.


"Bagaimana ini Ra, kenapa jadi kacau seperti ini," bingung Lia.


"Tenang saja Li, kita ikuti saja kalau memang mau di geledah." Bisik Rara. Dia sendiri heran mengapa hanya perkara melihat isi tas saja tidak boleh.


"Lihatlah, sebaiknya kalian itu geledah dua orang itu saja. Penampilannya saja tidak meyakinkan, masuk ke sini pasti untuk mencuri," tunjuk wanita yang paling heboh sejak tadi pada Lia dan Rara.


"Iya benar, penampilannya kampungan begitu pasti mereka yang mencuri," sahut yang lain.

__ADS_1


"Bagaimana ini Ra, kenapa mereka malah menuduh kita seperti itu." Lia tampak ketakutan melihat tatapan semua orang.


"Tenang Li, kita kan tidak bersalah jadi tidak perlu takut. Ayo kita tunjukkan kalau kita tidak mengambil pakaian itu." Rara menggenggam tangan Lia agar temannya itu tidak perlu takut.


"Jangan khawatir, ada aku disini," sambungnya.


Lia dan Rara maju ke depan kerumunan dan menyerahkan tas mereka dengan suka rela untuk diperiksa. Tapi tatapan orang-orang itu tetap menatap tidak suka.


"Silahkan periksa tas kami, kalian bisa lihat kami yang mencuri atau bukan," ujar Rara.


"Halaahh pakai tas palsu aja bangga, pasti mereka yang mencuri," sinis seorang wanita dengan baju merah.


Para karyawan pun melihat tas Rara dan Lia, mereka tidak menemukan apapun, hanya ada dompet dan ponsel yang Lia dan Rara bawa.


"Bagaimana, tidak ada kan pakaian itu di tas kami. Kalau memang tidak mencuri kenapa mesti takut diperiksa." Lia yang dari tadi diam pun mulai geram pada mereka.


"Halah palingan juga di umpetin di dalam baju kan bisa. Mendingan kalian suruh mereka buka baju yang mereka pakai, aku yakin pasti ada di dalam." Ternyata mereka masih tidak terima Lia dan Rara begitu saja. Padahal sudah jelas jika tidak ada barang curian itu pada mereka.


to be continue...


°°°


Ihhh kok nuduh-nuduh gitu si.


Ayo Lia ayo Rara buktikan pada mereka kalau kalian lebih berkelas dari mereka 🤭


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️


Sehat selalu pembacaku tersayang.

__ADS_1


__ADS_2