Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
57. Jiwa Jomblo Meronta


__ADS_3

°°°


Sementara Rara sedikit bernafas lega saat suaminya sudah pergi keluar. Entah kenapa berdekatan dengan suaminya membuatnya berdebar kencang, tidak seperti biasanya.


Kemudian Rara mencari ponselnya, ia ingin menghubungi kakaknya untuk bertanya.


📞"Assalamualaikum Dek, ada apa?"


Luna mengangkat panggilan dari adiknya dengan heran karena baru beberapa menit yang lalu mereka bertemu.


"Mbak, apa yang harus aku lakukan?"


Terdengar aneh memang pertanyaan Rara, tapi sang kakak sepertinya tau apa yang adiknya maksud.


📞"Kau itu, aku kira ada apa. Kenapa tanya sama Mbak, kan aku belum menikah jadi tidak tau."


Rara mendengar suara kekehan kakaknya.


"Mbak aku serius, kami jadi canggung begini sekarang. Aku bingung harus bagaimana jadinya."


Gelak tawa Luna pecah mendengarnya.


"Ih Mbak kok ketawa si," kesal Rara.


📞"Habisnya kamu itu lucu. Jalani saja seperti biasanya kalian selama ini, nanti juga terbiasa. Lalu kamu tidak perlu canggung, nanti suamimu mengira kamu itu sedang menghindarinya."


Rara tampak berpikir.


"Tapi bagaimana kalau terjadi hal seperti kemarin malam," tanya Rara dengan malu-malu.


📞"Kamu tidak perlu memikirkan apapun dan tidak perlu takut. Semua itu nantinya akan berjalan dengan sendirinya. Jadi kamu nikmati saja prosesnya, ok. Sudah dulu ya, Mbak mau mengurus sesuatu. Assalamualaikum."


Luna mematikan telepon secara tiba-tiba, padahal sang adik masih ingin bertanya. Menurutnya hubungan intim antara pasangan tidak perlu meminta pendapat orang lain karena semua itu akan berjalan dengan sendirinya. Itulah kenapa Luna tidak ingin membicarakan hal itu, biarlah adiknya belajar sendiri.


"Maaf Dek." Luna terkekeh sendiri.


Diseberang sana, Rara pun semakin gundah menunggu suaminya datang. Berulangkali ia mengatur nafasnya untuk mengurangi kegugupannya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu.


"Sepertinya itu bukan Kak Revan, dia kan membawa kartu kamar."


Setelah menduga-duga sendiri, Rara pun membukakan pintu.


"Permisi Nyonya, kami disuruh membawakan makan malam kemari," ujar pelayan hotel itu.


"Ohh iya, silahkan." Rara membiarkan beberapa pelayan itu masuk membawa makan malam yang ia pikir itu adalah pesanan suaminya.


Makanan sudah tertata rapi di atas meja, tapi Revan belum juga kembali. Rara pun belum juga menyantap makanannya, ia ingin menunggu suaminya.


"Kemana kak Revan," gumam Rara.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, ternyata Revan habis mencari sesuatu untuk sang istri.


"Apa kau menungguku, maaf tadi aku ada perlu sebentar."


"Tidak apa-apa Kak, ayo makan," ujar Rara.


Akhirnya mereka makan malam berdua, tidak ada percakapan diantara mereka. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Setelahnya Rara kembali ke ruang tidur dan mengganti pakaiannya.


"Sini, duduklah," ujar Revan pada istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Rara pun duduk di samping suaminya.


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan," Revan memberikan sebuah kotak kecil pada sang istri.


"Apa ini Kak," tanya Rara.


"Kau akan tau setelah membukanya."


Rara pun membuka kotak itu perlahan.


"Ini cincin?" ujar Rara tidak percaya saat melihat sebuah cincin cantik di tangannya.


"Maaf karena aku tidak berhasil menemukan cincin pernikahan kita, jadi ini untuk menggantinya. Apa kau suka, jika tidak aku akan mengganti yang lain."


"Jadi Kak Revan tadi lama perginya karena ini?" tanya Rara dengan berkaca-kaca.


Revan pun mengangguk.


"Ya ampun Kak. Kamu tidak perlu repot-repot menggantinya."


"Tentu saja harus, kamu harus memakai kembali cincin pernikahan meski bukan yang kemarin." Revan tidak ingin ada pria yang mengira Rara tidak mempunyai pasangan.


Meski selama ini pun Rara tidak mengatakan pada teman kampusnya jika ia sudah menikah, jika ada yang bertanya mengenai cincin yang ia pakai. Ia menjawab seadanya, jika cincin itu pemberian dari seseorang.


"Kenapa?" tanya Rara.


"Karena kamu sudah menikah jadi harus memakainya," jawab Revan dengan asal.


"Tapi kak Revan juga tidak pernah memakainya." Raut wajah Rara berubah sendu.


Rara pun tertegun karena tidak menyadari sejak kapan suaminya memakai cincin pernikahan mereka. Yang ia tau sejak awal hanya dia seorang yang memakai cincin pernikahan itu.


Namun, dibalik itu semua Rara senang melihatnya.


Revan pun memakaikan cincin itu di jari manis istrinya. Jari jemari tangan sang istri yang cantik semakin terlihat indah ditambah dengan cincin berlian itu.


Entah dorongan dari mana, Revan pun mendaratkan ciuman di tangan sang istri dan membuat pipi Rara merona diperlakukan seperti itu.


"Seperti yang aku bilang, kita akan memulainya dari awal. Ganti cincin pernikahan yang baru Sepertinya ada bagusnya juga," ujar Revan menatap lekat wajah sang istri.


"Tapi Kak..." Rara baru ingat sesuatu.


"Sudah ayo tidur," potong Revan.


Mereka tidur dengan saling berpelukan, menyalurkan kehangatan tanpa hasrat atau apapun. Hanya ada perasaan bahagia dan rasa cinta yang perlahan tumbuh tanpa mereka sadari.


,,,


Paginya, tentu Rara bangun lebih dulu. Bayangan tentang apa yang terjadi semalam membuatnya senyum-senyum sendiri. Walaupun hubungan mereka belum begitu intim tapi itu sudah cukup untuk membuat hati Rara berbunga-bunga.


Tidak berhenti ia bersyukur pada Allah yang sudah mempermudah jalannya untuk menggapai cinta suaminya.


Rara terus berdoa dalam hatinya agar kedepannya tidak ada masalah yang berarti dalam hubungan mereka.


Saat sedang menyiapkan sarapan dengan bahan yang tersedia di dapur itu, ada yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Siapa pagi-pagi sekali sudah datang," gumamnya.


Rara membuka pintu dan ternyata kakaknya yang datang.


"Assalamualaikum Dek."


"Wa'alaikumsalam, Mbak Luna. Pagi sekali sudah di sini," ujar Rara.


"Apa Mbak mengganggu kalian."


"Bukan begitu Mbak." Rara malu sendiri.


"Sudah-sudah Mbak tidak menggoda lagi. Aku mau mengembalikan ini, hampir saja lupa. Kemarin aku menemukannya ada di tas, untunglah tidak jadi hilang." Luna menceritakan bagaimana ia menemukan cincin itu.


"Mbak nemuin cincin ini?" tanya Rara dengan mata berbinar.


"Iya saat membongkar tas tidak sengaja menemukannya." ujar Luna.


Rara menyipitkan matanya, curiga jika kakaknya mengerjainya juga.


"Tapi aku sudah mendapatkan cincin yang baru," ujar Rara seraya menunjukkan jarinya.


Luna sontak terkejut melihatnya.


"Kalau begitu, untuk apa aku repot-repot datang kemari untuk mengembalikan ini." Luna mengerutkan keningnya.


"Tidak apa-apa kakak ipar, kita bisa sarapan bersama."


Revan yang baru bangun langsung menghampiri kakak beradik itu.


Luna pun jadi merasa bersalah karena ketahuan mengerjai adik iparnya.


"Maafkan Mbak, Mbak hanya ingin memberi kamu sedikit pelajaran kemarin." Luna menyengir kuda dan memasang wajah tidak bersalah di depan adik iparnya.


"Tidak apa-apa kakak ipar, aku jadi bisa memberikan cincin yang lebih baik untuk istriku dan memberinya dengan cara yang layak." Revan mendekati istrinya dan mencium keningnya di depan sang kakak ipar.


Tindakan itu sudah pasti membuat pipi Rara semerah tomat. Apalagi ada kakaknya yang melihatnya.


Sementara Luna menatap jengah pasangan di depannya. Ia jadi ingin buru-buru pergi dari sana melihat kemesraan sepasang suami istri itu.


"Kalian lanjutkan saja mesra-mesranya, Mbak tidak menggangu lagi." Luna bangun dari duduknya hendak keluar dari sana.


"Mau kemana Mbak, kita belum sarapan," cegah Rara.


"Benar kakak ipar, sebaiknya kita sarapan dulu. Istriku sudah menyiapkan sarapan." Revan yang masih setia memainkan jari istrinya.


Luna menghela nafasnya panjang, sepertinya ia sudah salah karena datang ke tempat itu pagi-pagi. Jiwa jomblo nya meronta melihat kemesraan di depannya. Sepertinya sang adik ipar juga sengaja ingin membalas dendam


Bagaimana tidak, sepanjang sarapan Revan terus menempel pada istrinya. Bahkan sesekali minta disuapi oleh Rara. Dia benar-benar balas dendam dengan cara yang tepat.


to be continue...


Yuk jomblo merapat.


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....

__ADS_1


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2