Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
37. Tidak Rela


__ADS_3

°°°


Malam harinya. Seperti kata kakek tadi jika Revan akan membawa istrinya makan malam di luar.


Saat ini keduanya sedang bersiap, Revan sudah selesai memakai pakaiannya dengan balutan jas berwarna coklat. Tampan tanpa perlu diragukan lagi, apapun yang melekat pada tubuhnya pasti akan terlihat bagus.


Sementara Rara, ia bersiap di ruang pakaian. Gamis yang senada dengan suaminya ia kenakan, cantik, anggun dan elegan. Baju yang keluarga itu pakai ke acara tertentu memang bukan sembarang beli, ada desainer khusus yang membuatnya.


Walaupun belum tersentuh makeup, Rara tetap terlihat cantik. Ia keluar setelah selesai memakai pakaian dan kerudungnya, ia terpaku pada pemandangan didepannya. Suaminya semakin terlihat tampan dalam pakaian formal.


Revan juga sama ia tidak berkedip menatap istrinya.


Apa dia keturunan bidadari atau seorang putri yang menyamar sebagai biasa. Kenapa bisa begitu cantik, aku jadi tidak ingin pergi.


Pikiran Revan berkecamuk, tiba-tiba ia tidak ingin pergi. Rasanya tidak rela jika orang lain melihat kecantikan istrinya.


"Kak, bisa tolong minggir dulu aku ingin merias wajahku."


"Tidak usah terlalu cantik," ucap Revan tanpa sadar keluar dari mulutnya.


"Apa Kak." Rara dengar tapi ia takut salah mendengar ucapan suaminya tadi.


"Haa... tidak, tidak, maksudku jangan terlalu cantik." Revan gelagapan.


"Aa... bukan, maksudku jangan terlalu lama aku menunggu di luar."


Revan salah tingkah sendiri, dia lebih memilih keluar dari kamar. Tidak ingin istrinya tau jika ia mengaguminya.


"Kenapa dengan kak Revan." Sementara Rara menyerngitkan dahinya, tidak mengerti dengan sikap suaminya.


Rara pun segera merias wajahnya, hanya riasan tipis agar wajahnya tidak terlihat pucat. Dia memang tidak suka makeup terlalu tebal. Bibirnya sudah peace, wajahnya sudah cantik, pipinya mudah merona, apalagi yang mau ditambahkan.


Alis, bulu mata, eye shadow dan semacamnya. Rara belum pernah memakainya. Aneh rasanya jika memakai semua itu, pernah dulu saat acara pernikahan saudaranya, ia dirias sebagaimana umumnya orang yang bertugas menyambut tamu. Tapi sayang, baru dua jam ia sudah tidak tahan dan menghapus makeup nya. Lebih baik ia membantu di belakang dan tidak perlu di rias.


Saat pernikahannya sendiri pun, Rara mewanti-wanti tukang rias agar riasannya tidak terlalu tebal. Hasilnya tetap ia terlihat cantik dan manglingi kalau kata orang Jawa.


Revan sudah menunggu di bawah dengan kakeknya.


"Kek, bagaimana kalau kita makan malam di rumah saja menemani Kakek. Jika kami pergi, maka kakek sendirian."


Revan ternyata sedang berusaha membujuk kakeknya agar mereka tidak perlu pergi.


Kakek sudah menduga itu.


"Tidak usah khawatir, ada banyak orang di rumah ini. Nanti Ahmad tua akan menemani kakek."


Kakek sudah menyiapkan semuanya, kalian harus tetap pergi. Batin Kakek.


"Tapi Kek..."

__ADS_1


"Sudah tidak ada tapi-tapian," potong kakek.


Revan mendesah pelan karena tidak berhasil membujuk kakeknya. Ia juga heran kenapa dirinya begitu gelisah membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi.


Beberapa saat kemudian, Rara turun menyusul suaminya yang menunggu di bawah.


Cahaya lampu kristal yang bergelantungan di atas langit-langit ruangan semakin memancarkan kecantikan Rara saat ini.


Ini yang Revan takutkan, ia tidak akan rela jika nanti ada yang menatap istrinya seperti dirinya saat ini. Biasanya Rara memang sudah cantik dalam pakaian sehari-hari, tapi hari ini memakai pakaian formal ia tampak sangat bersinar.


Sementara kakek dan pak Ahmad tersenyum penuh arti melihat reaksi Revan. Mereka berhasil membuat pemuda itu tidak ingin pergi.


Kakek memang sengaja menyiapkan gamis itu untuk cucu menantunya.


"Tunggu apalagi nak," sentak Kakek.


Membuat Revan tersadar jika saat ini istrinya sudah ada di hadapannya.


"Pergilah nak." Kakek menatap cucunya.


"Apa kakek benar-benar tidak apa-apa kami tinggal sendiri."


Pertanyaan bodoh macam apa itu, jelas-jelas saat ini saja pak Ahmad berdiri di sisi kakek Tio.


"Tidak apa-apa, pergilah."


"Apalagi?" Kakek melotot melihat Revan yang tidak kunjung beranjak dan hanya diam di tempat.


"Tapi Rara sepertinya ingin makan di rumah saja bersama kakek." Kali ini memakai nama istrinya sebagai alasan.


Alis kakek terangkat keatas, lalu ia bertanya pada Rara, "Apa benar kau tidak ingin pergi nak."


Rara bingung harus menjawab apa dan seingatnya ia tidak mengatakan yang barusan suaminya katakan. Dia akan berdosa bila menjawab iya tapi jika menjawab tidak, bagaimana jika nyatanya sang suami tidak ingin pergi dengannya. Pikiran Rara justru kearah yang lain.


"Benar kek, kami makan malam bersama dengan kakek saja," jawab Rara dengan raut wajah sendu.


Pada akhirnya ia memilih tidak ingin memaksa suaminya untuk pergi dengannya, mungkin lain kali. Masih banyak waktu di lain hari.


"Kalian sudah berpakaian seperti ini, lalu untuk apa jika makan di rumah. Kakek sudah reservasi restoran dan tidak bisa dibatalkan. Kalian pergi atau kakek akan marah dan tidak mau makan."


Tidak ada cara lain untuk membujuk cucunya itu, dia tidak peka terhadap perasaan istrinya yang sudah berwajah sendu. Kakek harus berbohong agar mereka mau pergi, padahal hanya ganti rugi reservasi tidak akan merugikan bagi kakek.


"Kami akan pergi Kek," ujar Revan mengalah.


"Pastikan kakek memakan makan malamnya pak tua," pesan Revan pada pak Ahmad.


"Ayo," ajak Revan kemudian pada istrinya.


Hati Rara diliputi rasa bersalah saat ini. Ia merasa gara-gara dirinya Revan terpaksa menerima permintaan kakek. Dia terus memikirkan hal itu dalam perjalanan.

__ADS_1


Sementara Revan, ia tidak habis pikir dengan kakeknya yang merajuk seperti anak kecil.


"Kak, maafkan aku. Karna aku Kak Revan jadi terpaksa pergi makan malam di luar berdua denganku. Kalau kak Revan tidak mau sebaiknya kita pulang saja, biar nanti aku yang akan membujuk kakek."


Cittt.


Revan menghentikan mobilnya secara mendadak setelah mendengar perkataan istrinya. Tidak menyangka jika sang istri mengiranya Revan tidak mau pergi berdua dengannya.


Rara pun kaget karena mobilnya berhenti mendadak, tubuhnya sempat tersentak ke depan. Untunglah ia memakai seatbelt hingga tidak terbentur ke depan.


Dalam pikiran Rara, mungkin suaminya hendak memutar balikkan mobilnya untuk kembali ke rumah.


"Apa kau ingat aku pernah berkata ingin mencoba menjalani pernikahan ini dari awal."


Revan bersuara.


"Haa..." Rara menoleh.


"Kau masih ingat apa kataku?" kali ini Revan ikut menoleh kearah istrinya.


Rara mengangguk, kata-kata itu mana mungkin ia lupa.


"Mungkin saat ini aku belum bisa memutuskan hubunganku dengannya, tapi aku sudah mencoba membuka hatiku dan menerima pernikahan ini. Hubunganku dengan Febby hanya status saja. Aku tidak akan menunggu lagi, mari mulai semuanya dari awal."


Rara jelas tidak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan.


"Aku sama sekali tidak pernah merasa terpaksa pergi denganmu, aku hanya tidak rela jika kecantikan istriku dilihat laki-laki lain."


Kalimat berikutnya, lebih tidak bisa Rara percayai. Apakah itu mimpi, jika hanya mimpi dia tidak ingin bangun dari mimpinya saat ini.


"Kak aku..."


"Jangan pernah berpikiran yang tidak-tidak lagi, mengerti?"


Revan meraih tangan istrinya lalu mendaratkan kecupan di sana.


Rara hanya terpaku di tempat, sengatan aneh mengalir dalam darahnya. Membuat jantungnya memompa lebih cepat.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2