Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
80. Curhat


__ADS_3

°°°


Begitu masuk ke dalam kamar, Lia langsung disambut oleh temannya.


"Lia...," pekik Rara kegirangan, ia senang sekali bisa kedatangan temannya di rumah ini.


Lia pun langsung mendekati temannya yang hendak turun dari ranjang.


"Stop Ra, kau disitu saja biar aku yang mendekat," cegah Lia yang khawatir akan keadaan temannya.


Sontak membuat Rara mencebikkan bibirnya, pura-pura kesal pada temannya itu.


"Aku masih bisa berjalan, Lia."


"Tetap saja kamu itu sedang sakit jadi berbaring saja." Lia masih kekeuh dengan pemikirannya.


"Aku hanya sakit biasa, bukannya lumpuh. Jadi masih bisa berdiri dan jalan. Bosan juga jika terus-terusan berbaring di ranjang." Keluh Rara, ia sudah ingin bebas beraktivitas.


"Baiklah ayo aku bantu kamu untuk duduk di sofa." Mereka berdua pun duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Bi, tolong bawakan minum dan cemilan kemari ya," pinta Rara pada bi Mur yang masih berdiri di sana.


"Baik Non, saya akan ambilkan."


Bi Mur sendiri lega saat melihat interaksi kedua gadis itu, pertemanan mereka sangat terlihat tulus. Cara Lia memperhatikan nonanya juga sangat baik.


Di dalam kamar, Lia langsung memberondong temannya dengan pertanyaan.


"Kamu sebenarnya sakit apa Ra, kapan kamu berangkat kuliah. Aku kesepian di kampus." Begitulah Lia dengan kecerewetan nya.


"Aku hanya mabuk kendaraan saja karena kemarin dari Jogja dan sekarang juga sudah mendingan. Semoga besok sudah bisa masuk kuliah," jelas Rara.


"Kamu dari Jogja, ngapain liburan ya?" tanya Lia.


"Kakakku wisuda jadi aku datang ke sana, terus sekalian liburan." Rara tersenyum mengingat kejadian di Jogja.


"Aku juga ingin ke Jogja, selain Bali tempat yang ingin aku datangi ya itu Jogjakarta," ujar Lia, membayangkan rasanya bisa berlibur.


"Kapan-kapan kita liburan bareng ya," ajak Rara, pasti menyenangkan jika bisa berlibur bersama teman.


"Iya Ra, kapan-kapan ya kalau tabunganku sudah banyak atau kalau aku menikah dengan miliarder," canda Lia.


Tawa mereka pun memenuhi ruangan itu, melepas rindu dan menghilangkan penat.

__ADS_1


Bi Mur kembali ke kamar itu, membawa minuman dan cemilan untuk kedua gadis muda yang sedang bersenda gurau.


"Terimakasih Bi," ujar mereka bersamaan.


"Sama-sama Non, kalau begitu bibi kebawah dulu. Nona tinggal panggil pelayan jika butuh sesuatu." Pesan bi Mur, yang tidak mau sampai nonanya kelelahan.


"Baik Bi," jawab Rara, seraya tersenyum.


"Waahhh... kamu sudah seperti putri di rumah ini Ra. Para pelayan saja sangat memperhatikanmu." Bukannya iri tapi Lia ikut merasa senang melihat kehidupan temannya.


Rara hanya tersenyum tipis, ia bingung mau menjawab apa. Tentu saja para pelayan bersikap baik padanya, karna ia adalah istri dari majikan mereka. Kecuali bi Mur yang terlihat paling tulus dan setia.


"Diminum dulu jus nya, kamu pasti haus kan panas-panas begini datang kemari."


Mengalihkan pembicaraan sepertinya lebih aman.


"Baiklah," Ujar Lia walaupun masih banyak pertanyaan yang ingin dia ucapkan, tapi makanan yang ada di depannya sepertinya sudah tidak bisa menunggu lama.


Lia pun mengambil segelas jus berwarna kuning itu, seperti pesanannya. Dia meminumnya hingga tandas, rasanya pikirannya saat ini butuh banyak pendingin agar tidak lagi mengingat pria itu lagi.


Sementara Rara yang melihat temannya merasa heran karena Lia seakan sangat kehausan. Seperti ada yang aneh, gadis itu seperti sedang meluapkan kekesalannya lewat dinginnya air jus itu.


"Segarnya..." ujar Lia setelah menghabiskan dua gelas jus jeruk.


"Tidak ada, memangnya apa yang bisa membuat aku kesal." Mengambil cemilan dan mulai memakannya, "Ini enak sekali Ra," ujar Lia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Habiskan saja kalau enak, nanti aku minta bibi bawakan lagi yang banyak." Rara sedikit kesal karena temannya itu tidak mau jujur, ia tau betul jika Lia sedang menyembunyikan sesuatu.


Lia pun sadar jika Rara kesal padanya, apa ia harus cerita tentang pria itu atau tidak. Dia sendiri juga heran kenapa bisa terus kepikiran.


"Ra, jangan marah dong," bujuknya.


"Padahal aku ingin cerita sesuatu padamu, tapi tidak jadi saja mendingan. Kamu saja tidak mau cerita." Rara acuh.


"Cerita apa Ra? apa sesuatu yang penting." Kan Lia jadi penasaran, sudah tau dia itu mudah ingin tau orangnya.


"Tidak jadi," ujar Rara seraya ikut menikmati cemilan yang ada di meja.


"Bagaimana kalau kita suit, yang kalah cerita duluan." Lia memberi ide, sebenarnya ia ingin cerita tapi malu pada Rara.


"Baiklah ayo."


"Satu, dua, tiga,..."

__ADS_1


Mereka berdua suit untuk memutuskan siapa yang akan membuka rahasia terlebih dahulu. Dan ternyata Rara yang menang.


"Yeee... aku menang. Jadi kamu yang cerita lebih dulu." Senang Rara karena ia ingin temannya itu tidak memendam semuanya sendiri. Seperti yang ia tau jika Lia tidak mempunyai keluarga dekat. Lebih seperti sebatang kara, karena keluarga pamannya tidak mau tau tentang keponakannya.


"Baiklah, aku cerita. Tadi sebelum datang kemari aku bertemu pria menyebalkan itu. Tiba-tiba datang dan nenarikku. Aku marah kan jadinya, lalu aku berkata padanya jika aku tidak ingin diganggu lagi olehnya ..."


Lia mulai menceritakan semuanya yang terjadi tadi, saat ia menangis lalu Sakka pergi dan bilang tidak akan mengganggunya lagi.


Sebagai teman yang baik Rara pun mendengarkan permasalahan temannya. Ia mulai berpikir bagaimana mencari solusinya.


"Begitu Ra," lirih Lia.


"Kalau begitu bagus kan, apa yang kamu inginkan sudah terwujud. Kamu bisa tenang lagi, tidak ada yang mengganggu." Rara memastikan dugaannya.


"Iya kau benar Ra, seharusnya aku senang karena mulai sekarang aku akan lebih tenang di kampus maupun dalam pekerjaan."


Gadis itu berkata senang tapi raut wajahnya sama sekali tidak menampilkan rasa senang. Malah sebaliknya, ia seperti menyesali yang telah terjadi.


Bisa di bilang Lia tidak menginginkan Sakka menjauhinya, tapi juga tidak ingin pria itu mengganggunya.


Aneh perasaan apa itu, ingin jauh atau ingin dekat sebenarnya?


"Lalu kenapa kamu sepertinya tidak bahagia?" tanya Rara.


Uhhukk...


Lia tersedak mendengar pertanyaan temannya, apa terlihat jelas sampai sang sahabat menanyakannya.


"Pelan-pelan makannya Lia." Rara terkekeh melihat temannya yang salah tingkah. Bahkan pipinya memerah.


"Rara, kamu bikin kaget. Aku bahagia, lihat ini aku bahagia kan." Lia mencoba menampilkan senyumannya, agar Rara percaya.


"Benar kamu bahagia? tapi kenapa aku merasa kamu tidak bahagia." Rara masih saja menggoda, karena menurutnya ada perasaan lain di dalam lubuk hati gadis itu terhadap laki-laki itu.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2