Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
42. Pepet Terus


__ADS_3

°°°


Di kantor, kakek memberikan setumpuk dokumen untuk Revan pelajari. Membaca banyak kontrak kerjasama dengan perusahaan lain dan berbagai macam dokumen yang menunggu untuk di tanda tangani oleh direktur utama. Meskipun nantinya akan ada asisten yang mensortir setiap dokumen sebelum ditandatangani, tapi tetap saja seorang atasan harus tetap waspada nantinya.


Ada banyak hal di perusahaan yang penting untuk dia ketahui.


Revan menempati ruangan sementara sebelum nantinya menggantikan posisi kakeknya. Ia juga dibantu seorang assisten yang kakek pilihkan dari salah satu kaki tangannya.


Pria berwajah datar dan irit bicara, umurnya sedikit lebih tua dari Revan. Assisten Mike, salah satu orang yang paling setia pada kakek Tio. Lalu sekarang ia bertugas mendampingi cucu majikannya, yang akan menggantikan posisi sang direktur utama di perusahaan.


Revan tidak banyak bicara pada Mike, dia juga sama dinginnya. Hanya seperlunya saja jika ada yang ia tidak tau baru bertanya.


"Permisi Tuan, saya membawakan dokumen yang tuan besar perintahkan untuk anda." Mike berkata dengan sopan.


"Letakkan saja di atas meja," jawab Revan.


Mike meletakkan dokumen yang ia bawa ke tempat yang di perintahkan atasannya.


"Saya permisi tuan." Membungkuk dan menyilangkan salah satu tangannya di depan dada. Salah satu kebiasaannya saat berhadapan dengan kakek Tio. Jika biasanya hanya pada kakek Tio ia akan membungkuk, kali ini ia juga akan membungkuk pada Revan atasannya yang baru.


"Tunggu, Mike," cegah Revan.


"Iya Tuan."


"Tolong kau sampaikan pada kakek, jam sebelas nanti aku akan keluar sebentar untuk menjemput istriku." Revan yakin kakeknya pasti tidak masalah, tapi ia harus tetap meminta ijin.


"Baik Tuan, nanti saya sampaikan. Permisi." Mike keluar dari ruangan itu.


Revan kembali membuka dokumen di depannya. Kini ia merasakan bagaimana lelahnya sang kakek, di umurnya yang sudah lanjut usia dia harus membaca dokumen sebanyak itu setiap harinya. Belum lagi hal lainnya yang perlu diurus.


Revan harus mempelajari semua dengan baik agar tidak mengecewakan kakeknya.


Sudah hampir pukul 11 siang, Revan segera membereskan beberapa dokumen yang ada di atas meja. Setelah itu ia keluar dari ruangannya.


"Mike, kau sudah sampaikan pada kakek?" tanya Revan pada assistennya yang mejanya berada di depan ruangannya.


"Sudah Tuan. Anda bisa pergi." Jawab Mike.


"Terimakasih, Mike. Aku akan kembali lagi nanti." Revan senang mendapatkan assisten yang begitu cekatan.


"Sama-sama, Tuan." Mike membungkuk seperti tadi.


Revan tidak pamit sendiri karena lantai yang ia tempati berbeda dengan ruangan kakeknya.


Revan mengirimkan pesan pada istrinya jika ia sedang perjalanan menuju kampus untuk menjemputnya.


~Revan


Aku sedang di jalan menuju kampus.

__ADS_1


Setelah itu ia menaruh kembali ponselnya karena biasanya Rara tidak membalas pesannya.


,,,


Di kampus, Rara baru selesai dengan mata kuliahnya sedang.


"Kamu pulang dengan siapa hari ini, Ra. Bukannya kak Revan tidak berangkat," tanya Lia.


"Dia bilang akan menjemputku, aku akan menunggunya," ujar Rara.


"Beruntung sekali kamu, Ra. Tidak hanya punya sepupu tampan tapi dia juga sangat baik padamu," seloroh Lia.


"Iya." Rara bingung harus menjawab apa lagi. Ia baru ingat jika temannya itu belum tau dia sudah menikah dengan kak Revan. Tadi pagi ia tidak jadi mengatakannya.


"Ayo kita ke parkiran bersama," ajak Lia, lalu diikuti anggukkan kepala oleh Rara.


Di sisi lain, Febby sudah lebih dulu menunggu kedatangan Revan di parkiran. Senyuman mengembang di wajahnya, ia ingin menunjukkan pada semua orang jika Revan sangat mencintainya.


"Lihat itu Ra," tunjuk Lia pada Febby yang sedang menyombongkan diri.


"Sepertinya dia juga sedang menunggu sepupumu." Lia melirik sinis.


Rara tidak bisa berbuat apa-apa, selain harus terima satu mobil dengan kekasih suaminya lagi.


"Iya mungkin," lirih Rara.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya, Rara pun segera melihat yang ternyata pengirimnya adalah sang suami. Dia mengabarkan jika sudah dalam perjalanan ke kampus.


"Lia...," sapa Sakka dengan senyuman mautnya.


Lia tidak menanggapi pria itu, tepatnya berusaha menghindar. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti sekarang. Para gadis menatapnya tajam karena idola baru mereka menyapanya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya kali ini.


"Kau bahkan sudah duduk, untuk apa bertanya," ujar Lia malas.


Anehnya Sakka justru tersenyum, dapat mendengar suara Lia saja membuat ia senang.


"Akhirnya kau mau berbicara juga denganku," bangga Sakka.


Lia dan Rara hanya tersenyum miring mendengarnya. Memang dari semenjak bertemu Sakka baru sekali mendengar Lia bicara, saat tidak sengaja menabraknya. Padahal selain itu, mereka beberapa kali bertemu dan Lia selalu berbicara padanya tapi pria itu tidak menyadarinya.


"Siapa yang kalian tunggu, bagaimana kalau aku antar." Sakka memberikan tawaran. Jika yang ditawari itu gadis lain pasti dengan senang hati mereka akan mau, tapi Lia tentu saja tidak mau.


"Hai... apa kalian mendengarkan?" tanya Sakka.


"Kami tidak tertarik untuk menaiki mobil mahal kamu." Lia dengan ketusnya.


Rara menyikut lengan temannya, agar lebih bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


Sakka tertawa mendengarnya, semakin Lia bersikap seperti itu justru membuat dia semakin tertarik padanya.


Pemandangan itu tidak hanya membuat iri para gadis yang menggilai Sakka, tapi juga seorang wanita yang melirik tajam saat ini.


Febby melihat interaksi Sakka dengan dua wanita itu, yang satunya adalah istri dari kekasihnya. Baru kali ini ia melihat seorang casanova seperti Sakka mendekati wanita. Biasanya para wanita yang mendekatinya.


Cih... Febby menatap sinis. Dia ingat dulu pun saat mereka berpacaran ia yang mengejar-ngejar pria itu. Kekesalan membuncah seketika, sebuah ide melintas dipikirannya.


Febby mengambil gambar Sakka dan Rara yang kebetulan duduk bersebelahan. Entah siapa yang sedang pria itu dekati, dirinya tidak peduli. Yang pasti ia akan menggunakan foto itu untuk menjelekkan Rara di depan Revan nanti.


Senyuman licik muncul di wajahnya. Berharap dengan foto itu Revan akan membenci istrinya.


Kau lihat saja nanti, aku akan membuat Revan membenci mu. Pikirnya dalam hati.


Sementara Sakka masih saja tertawa sendiri, apa saja yang keluar dari mulut Lia membuat ia bahagia.


"Tidak baik gadis cantik seperti kalian menunggu seperti ini. Lebih baik aku antarkan saja." Sakka belum menyerah juga.


Rara yang duduk di tengah dibuat pusing oleh kedua orang yang saling menyindir itu. Sakka yang tidak menyerah terus berusaha mencari cara untuk mengajak Lia pulang bersama dan Lia yang tidak berhenti mengatakan kata-kata sinisnya.


Rara sempai memijit pelipisnya beberapa kali.


Akhirnya pria yang ditunggu-tunggu datang juga, mobil Revan sampai di kampus.


"Kak Revan sudah sampai, aku pulang duluan. Bye Lia...." Rara segera bangun dari duduknya, meninggalkan kedua manusia yang masih beradu mulut.


Bukannya Rara tidak tau terimakasih karena meninggalkan Lia setelah temannya itu menemaninya. Akan tetapi, menurut Rara diantara mereka perlu ada yang diluruskan agar tidak saling bersikap seperti itu.


"Ra, kok kamu pergi si." Lia panik, sekarang hanya ia sendiri bersama pria menyebalkan itu.


"Temanmu sudah pulang, bagaimana kalau aku antar saja." Sakka dengan percaya diri.


Lia senyum terpaksa mendengarnya.


"Tapi maaf, aku sudah membawa kendaraan sendiri." Setelah itu Lia langsung pergi.


Semakin hari semakin menarik, ternyata begini rasanya mengejar gadis.


Sakka bergumam sendiri.


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....

__ADS_1


...Sehat selalu pembacaku tersayang...


__ADS_2