
°°°
Revan bingung sendiri bagaimana caranya menghentikan tangis istrinya. Sejak tadi gadis cantik itu terus berderai air mata.
Apa begitu menyedihkan mencintai dan dicintai sampai ia terus menangis.
"Bagaimana supaya kamu mau berhenti menangis?" tanya Revan yang tidak tau lagi harus melakukan apa. Sejak tadi ia hanya mengusap punggung dan mengecupi tangan istrinya, dia tidak berani melakukan lebih tentunya.
"Hiks... maaf Kak, aku juga tidak tau kenapa mataku terus berair." Ujar Rara dengan masih terus terisak.
Tapi entah kenapa hal itu malah membuat Revan gemas melihat istrinya. Hidung merah dan mata sembabnya membuat Rara terlihat imut.
Hal itu yang membuat Revan tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan menggigit kecil hidung istrinya.
"Aaa... Kak, apa yang kau lakukan," pekik Rara memegangi hidungnya.
"Itu karena kau sangat menggemaskan, sampai aku ingin menggigitmu." Revan tergelak melihat istrinya bergerak menjauh.
"Kenapa kau mundur?" tanya Revan dengan seringai tipis di bibirnya.
"Tidak apa-apa, aku takut kak Revan menggigitku lagi," ujar Rara yang masih setia melindungi hidungnya dari gigitan suaminya.
Revan tergelak lagi melihat istrinya yang sedikit ketakutan. Tadi menangis sekarang ketakutan, tapi wajah itu masih tetap imut. Membuat Revan ingin menggigitnya lagi.
"Kemarilah aku tidak akan menggigitmu lagi," ujar Revan seraya berjanji.
"Benarkah?" tanya Rara dengan ragu.
Revan pun mengangguk untuk meyakinkan istrinya.
Perlahan Rara mendekat kembali pada suaminya, tapi belum juga sampai Revan sudah menariknya hingga Rara terjatuh di pangkuan suaminya.
"Aa... Kak." Rara hendak protes tapi Revan sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Ya Rara membelalakkan matanya, ini adalah ciuman pertamanya dan dia tidak tau harus melakukan apa. Diam terpaku, memandang wajah suaminya yang hampir tak berjarak.
Nampak Revan memejamkan matanya, ia juga tidak tau itu ide dari mana sampai ia berani mencium bibir istrinya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia menyatakan cinta.
Namun Revan tidak berani melakukannya lebih jauh karena ia belum meminta ijin sebelumnya. Tidak ada lumaataan apa lagi sesapan, hanya diam dan menempel tapi cukup membuat Rara kehabisan nafas ternyata.
Bagaimana tidak, dirinya begitu gugup dan terkejut dengan apa yang suaminya lakukan. Hingga ia menahan nafasnya tanpa sadar.
Pipi merona nafas tersengal-sengal seperti habis melakukan apa, padahal itu hanya ciuman yang saling menempelkan bibir.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bernafas," gemas Revan.
"Aku terkejut, aku belum pernah sebelumnya," jawab Rara dengan polosnya.
"Aku juga belum berpengalaman, kamu tidak perlu malu dan bernafaslah jika aku melakukannya lagi," ujar Revan menggoda, padahal pipi istrinya sudah sangat merah.
"Sudah jangan menangis lagi, apa sekarang kau percaya jika ini bukan mimpi atau masih kurang percaya?" Revan tersenyum smirk.
"A..ku percaya Kak," jawab Rara secepat kilat sebelum suaminya melakukan hal yang lebih dari tadi. Bukannya ia menolak tapi ia belum terbiasa dan belum siap.
Revan tertawa kecil melihat istrinya yang sedikit gugup, ia mengerti karena bagi perempuan bukan hal yang mudah jika melakukan hubungan suami-istri untuk pertama kalinya. Jadi mungkin harus mengumpulkan keberanian sebelumnya.
"Sekarang ayo kita tidur."
Rara pun mengangguk dan hendak turun dari pangkuan suaminya.
"Apa yang kau lakukan?" Mata Revan membulat saat tubuh istrinya yang duduk dipangkuannya terus bergerak-gerak.
"Aku mau turun Kak, bukannya kita mau tidur?" tuturnya tanpa rasa bersalah.
Tidak taukah Rara, jika pergerakannya itu sudah membuat sesuatu yang tidak seharusnya bangun menjadi bangun.
Revan memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya agar si kecil tidak lagi bangun.
"Tidak apa-apa, ayo tidur." Setelah mengatakan itu, Revan langsung berdiri dan menggendong istrinya menuju ke tempat tidur.
"Aku bisa sendiri Kak," ujar Rara.
"Diamlah jika kau tidak ingin terjadi sesuatu yang lain."
Meski Rara tidak mengerti dengan ucapan suaminya tapi ia menurut, dia diam dalam dekapan suaminya. Sampai didekat ranjang Revan meletakkan istrinya dengan hati-hati, tidak lupa mendaratkan kecupan di keningnya. Mungkin itu akan menjadi rutinitas barunya mulai sekarang.
"Kau mau kemana Kak, tidak tidur?" tanya Rara yang melihat suaminya hendak keluar ke balkon kamar.
"Hanya ingin keluar sebentar, kau tidurlah dulu."
Revan butuh ketenangan saat ini, si kecil belum juga mau tertidur. Ingin menyelesaikannya di kamar mandi tapi udara malam ini tidak mendukung. Ia bisa sakit jika memaksakan mandi tengah malam.
Cukup lama ia sendirian di balkon, Revan pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Melangkah pelan takut mengganggu tidur istrinya, kemudian ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Sejenak Revan memandangi wajah cantik istrinya yang selalu cantik walaupun tanpa make up.
"Aku akan berusaha membuatmu bahagia, istriku." bisik Revan seraya mengecupi seluruh wajah istrinya dan berakhir pada bibir yang sempat ia rasakan tadi.
__ADS_1
Setelah puas Revan pun memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpinya.
Paginya, Rara tentu bangun lebih dulu. Seperti biasa pemandangan yang pertama ia lihat adalah wajah tampan suaminya. Tapi kali ini berbeda, jaraknya jauh lebih dekat dari biasanya dan rasanya pun semakin berdebar.
Setelah ungkapan perasaan justru membuat jantungnya berdegup lebih kencang saat berdekatan dengan suaminya. Tidak ingin memikirkan hal yang membuat ia malu sendiri Rara pun segera bangun untuk menunaikan kewajibannya.
Baru saja ia ingin menunaikan shalat subuh tapi ternyata tamu bulanannya datang. Tidak ada yang bisa ia lakukan karena hal itu sudah menjadi kodratnya seorang wanita. Ia pun memilih untuk pergi ke bawah.
"Apa Nona sudah merasa baikan?" tanya bi Mur saat melihat nonanya datang ke dapur padahal kemarin ia sedang sakit.
"Alhamdulillah Bi, aku sudah lebih baik," ujar Rara.
"Lebih baik Nona istirahat saja, biar kami yang mengerjakan semuanya." Bi Mur khawatir terjadi apa-apa pada nonanya.
"Tidak apa-apa Bi, aku masih bisa memasak." Rara tersenyum seraya meyakinkan bi Mur.
"Baiklah, tapi jika Nona merasa tidak nyaman segeralah beristirahat," saran bi Mur yang masih saja khawatir. Meskipun Rara sudah dinyatakan tidak hamil tapi tubuhnya masih terlihat pucat akibat terlalu banyak mengeluarkan cairan.
Hari ini Rara hanya memasak sarapan yang sangat simpel karena tubuhnya memang masih lemas. Namun itu bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Rara sama sekali tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengurus suami dan keluarganya.
Seperti saat ini, Rara sudah kembali ke kamarnya untuk menyiapkan baju dan keperluan suaminya. Padahal perutnya saat ini sedikit terasa sakit, hari pertama haid bagi perempuan memang sangat menyiksa.
"Ini bajunya Kak," ujar Rara seraya menyerahkan pakaian yang sudah ia siapkan.
"Apa masih pusing, kenapa wajahmu semakin pucat?" Revan yang menyadari itu.
"Sedikit Kak, tidak apa-apa nanti juga sembuh."
Revan yang tidak percaya begitu saja pun mendekat dan menempelkan punggung tangannya pada kening sang istri.
"Panas begini kamu bilang tidak apa-apa." Tatap Revan tajam.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1