
°°°
Sorenya Revan menyempatkan diri untuk menjemput istrinya. Dia sudah minta ijin pada kakek Tio sebelumnya, nanti setelah mengantarkan ia akan kembali ke kantor. Karena pergantian pemimpin ternyata sangatlah tidak mudah, banyak hal yang mesti diurus.
Revan mencoba menelpon nomor istrinya tapi belum juga ada jawaban, sepertinya gadis itu belum menyelesaikan mata kuliahnya.
Ya gadis, aneh bukan sampai saat ini Rara masih saja gadis. Bukan karena Revan tidak mau menyentuhnya tapi hubungan mereka baru saja membaik dan butuh waktu untuk mereka saling memahami, terutama kesiapan. Revan belum berani bertanya pada istrinya, apa dia siap atau tidak.
"Sudah jam segini kenapa belum juga keluar dari kelas, bukannya tadi katanya pulang jam 4." Gumam Revan seraya terus melihat ke arah pintu masuk kampus. Takutnya sang istri sudah pulang dan dia tidak melihatnya.
Revan memutuskan untuk tetap menunggu di mobil seraya mendengarkan musik. Mengistirahatkan pikirannya sejenak dari penatnya dunia pekerjaan.
Tok, tok, tok.
Hampir saja Revan memejamkan matanya, ada yang mengetuk jendela kaca mobilnya.
Lebih terkejutnya lagi saat melihat siapa orang itu,
"Febby..." gumamnya.
Febby tersenyum dan menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar Revan menurunkan kaca mobilnya.
"Hai Van," sapa Febby saat Revan sudah membuka kaca mobilnya.
"Ada apa?" jawab Revan sedikit ketus, ya dia sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Febby. Hubungannya dengan sang istri baru saja membaik dan ia tidak ingin Rara salah paham.
Tanpa disangka Febby tersenyum mendengar jawaban ketus dari mantan pacarnya.
"Istrimu masih ada di kelasnya, jadi jangan khawatir. Aku bukan mau mengganggumu. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih dan semoga hubungan mu dengan istrimu semakin baik setelah aku tidak ada diantara kalian lagi."
"Aku sadar selama ini sudah salah, karena itu saat melihatmu tadi aku langsung menghampiri mu untuk meminta maaf. Tolong sampaikan juga kata maafku untuk istrimu." Berapa hari ini Febby sudah memikirkan baik-baik dan menyadari jika dirinya sudah salah. Walaupun ia sedikit memiliki perasaan pada Revan tapi ia sudah menyerah dan menerima akhirnya.
Revan sempat tercengang mendengar perkataan mantan kekasihnya itu. Apa benar yang ada didepannya itu Febby atau orang lain.
"Ya sudah itu saja, aku pergi dulu, istrimu sudah datang," ujar Febby seraya melihat kearah Rara dan temannya yang sedang berjalan ke parkiran.
Revan memaku, dia tidak percaya apa yang didengarnya barusan. Febby meminta maaf padanya dan menerima begitu saja berakhirnya hubungan mereka. Padahal kemarin wanita itu terlihat sangat marah dan kecewa. Lalu dalam berapa hari sudah berubah.
Setelah memikirkannya Revan kembali tersadar dari lamunannya. Ia pun segera menghampiri istrinya.
Rara sedang berjalan keluar bersama Lia tentunya, mereka berjalan bersisian. Dan rencananya Rara akan pulang nebeng dengan Lia.
"Ra, kamu bener nggak apa-apa naik motor?" tanya Lia memastikan, pasalnya orang kaya seperti Revan tidak mungkin membiarkan istrinya menaiki motor.
__ADS_1
"Ya ampun Lia, dulu sebelum menikah aku sudah biasa naik motor. Pergi kemanapun lebih enak pakai motor malahan. Tenang saja Li." Rara tau kekhawatiran temannya.
Lia bukan tidak mau mengantarkan Rara pulang tapi dia takut Revan marah melihatnya membonceng istrinya. Membayangkan saja Lia ngeri sendiri.
"Hai... kamu mikir apaan?" Rara menepuk pundak temannya.
"Hehehe... enggak Ra. Hanya membayangkan kalau kak Revan marah karena kamu naik motor." Lia menyengir kuda.
"Tidak mungkin dia marah karena hal itu," ujar Rara. Padahal dia sendiri belum bilang pada suaminya. Tadi saat supir bilang tidak bisa datang menjemputnya, dia langsung berpikir pulang bersama Lia.
Mereka pun berjalan menuju parkiran sambil sesekali tertawa bersama.
"Ra, sepertinya kamu tidak bisa ikut pulang dengan ku. Lihat pangeran kamu sudah datang." Tunjuk Lia pada Revan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Siapa?" tanya Rara dengan polosnya.
"Memang siapa lagi pangeran kamu kalau bukan suami tercinta," ledek Lia, menggoda temannya.
Sementara Rara menyerngitkan dahinya, karena setaunya sang suami masih ada di kantor dan tidak bilang juga jika mau datang menjemputnya.
"Enggak mungkin Li, kak Revan masih di kantor." Rara menolak percaya dan tidak mau terlalu berharap. Ia tau suaminya sedang sibuk-sibuknya dan Rara tidak mau menjadi beban.
Lia menepuk keningnya sendiri.
"Kak Revan, kenapa dia disini," ujar Rara.
"Tentu saja menjemput istrinya tercinta, apa lagi. Tidak mungkin kan menjemputku," seloroh Lia yang gemas akan temannya.
Hingga Revan ada di depannya Rara masih memaku.
"Kenapa tidak menelepon ku balik?" tanya Revan, ya istrinya tidak balik meneleponnya setelah keluar dari kelas.
"Aa... itu, aku lupa Kak," jawab Rara, padahal ia sengaja karena tidak ingin suaminya khawatir karena supir tidak bisa menjemput.
Sementara Lia terkekeh mendengar perkataan temannya. Ia tau sendiri tadi Rara sengaja melakukan itu.
"Ayo pulang," ajak Revan kemudian.
"Eh, kak Revan kenapa kesini?" tanya Rara dengan polosnya.
"Tentu saja menjemputmu," ujar Revan seraya mengusap kepala istrinya.
Sontak pipi Rara memerah karena Revan melakukannya didepan banyak orang.
__ADS_1
"Ayo," ajak Revan seraya menggandeng tangan istrinya, lalu ia melihat Lia dan pamit dengan tatapan matanya.
Lia pun hanya tersenyum menanggapi, sementara ia lebih tidak habis pikir dengan temannya yang sedang malu-malu.
"Rara... Rara..." gumamnya.
Dan Rara pun akhirnya sadar tadi ia sedang bersama temannya dan berniat pulang bersamanya. Dia lupa belum pamit pulang duluan dan tidak jadi pulang dengannya.
"Kak, tunggu." Rara berhenti, otomatis Revan pun ikut berhenti karena tangannya sedang menggandeng tangan istrinya.
"Ada apa, apa ada yang tertinggal?" tanya Revan.
"Aku belum berpamitan pada Lia, Kak. Sebentar ya." Rara menarik tangannya, tapi suaminya itu tidak mau melepaskan.
"Aku sudah berpamitan untukmu tadi," ujar Revan.
"Tapi Kak...," Rara berhenti mengucapkan kalimatnya saat melihat tatapan suaminya.
Biarlah nanti dia akan menghubungi Lia lewat ponsel.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi meninggalkan halaman kampus. Namun, di dalam mobil Revan masih tetap menggenggam tangan istrinya sampai membuat Rara merasa aneh.
Apa yang terjadi pada Revan, dia seolah sudah berhari-hari tidak bertemu istrinya.
"Kak Revan kenapa bisa datang, apa kakak sudah tau kalau supir tidak bisa menjemput," ujar Rara.
"Aku ingin memberimu kejutan, apa kau tidak senang aku datang?" tanya Revan, entah kenapa ditelinga suara suaminya terdengar sedih.
"Bukan itu Kak, tapi kak Revan kan masih bekerja. Bukannya akan sangat merepotkan jika harus menjemput ku, lalu berangkat lagi ke kantor. Kak Revan pasti lelah."
Rara merasa bersalah karena dirinya suaminya menjadi repot.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1