Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
213. Rebutan


__ADS_3

°°°


Lia dan Sakka pun datang setelah mendengar kabar kecelakaan Febby dari Rara. Hingga saat ini ruangan itu ramai oleh mereka yang asyik menemani baby boy, bayi yang baru beberapa jam lahir ke dunia tapi mampu membuat banyak orang jatuh hati padanya.


"Ra, dia lucu dan tampan sekali. Aku tidak tahan untuk tidak menciuminya," gemas Lia yang saat ini berada di dekat box temannya yang sedang menggendong baby boy.


"Itulah kenapa aku betah lama-lama menggendongnya," sahut Rara yang sejak tadi tidak membiarkan Lia untuk menggendong baby boy.


"Kau jahat Ra, aku kan juga ingin menggendongnya. Berikan baby boy padaku, kau kan sebentar lagi juga punya baby. Kau bisa puas menggendong anakmu, tidak seperti ku yang entah kapan bisa menggendong anakku sendiri." Lia mendengus dan raut wajahnya berubah pias. Setiap kali membahas anak, dia jadi sensitif.


Sebagai teman Rara jadi merasa tak enak pada temannya. Sebagai wanita dia juga paham bagaimana rasanya setelah menikah lalu tak juga diberi kepercayaan untuk mengandung. Pasti banyak omongan yang harus Lia dengar, Tapi sebenarnya mereka Rara dan Febby juga sering memberi Lia semangat agar tidak terlalu memikirkan omongan orang, karena justru hal itu bisa menjadi pemicu stres.


"Sini berikan tanganmu," ujar Rara agar Lia mengambil alih baby boy dari gendongan nya.


Wajah Lia seketika berbinar saat baby boy ada di gendongan nya. Wajah polos tak berdosa itu membuat hati Lia berdesir. Ada doa yang tersematkan untuknya. Semoga kelak dia punya kesempatan memiliki bayi sendiri.


"Ya ampun kau menggemaskan sekali, aku jadi ingin membawamu pulang." Lia terus menghujani baby boy yang terlelap setelah meminum susu lagi.


Sementara Mike hanya bisa pasrah karena sejak tadi sama sekali tidak punya kesempatan untuk menyentuh putranya sendiri.


Sama halnya dengan Revan dan Sakka yang sejak tadi seperti tidak dianggap kehadirannya oleh istri mereka.


Saat pengaruh obat bius mulai hilang, Febby pun mulai tersadar dan menggerakkan jari tangannya yang saat ini ada pada genggaman suaminya.


"Mike...," lirihnya, dia memanggil sang suami tercinta. Rasa takut mulai menyerangnya saat teringat kecelakaan yang menimpanya. Apa sekarang dia sudah berada di alam lain, apa dia sudah tidak bisa bertemu dengan suaminya lagi, lalu apakah anaknya bisa selamat. Begitulah yang ada di benak Febby saat ini.


"Sayang, kau sudah bangun. Sayang... apa kau mendengar ku?" Mike pun bangkit dari duduknya dan mendekati istrinya yang tadi menyebut namanya. "Sayang, aku disini. Bangunlah, apa kau tidak ingin melihat anak kita," ujar Mike seraya menunggu sang istri membuka mata.


Mendengar kata anak dan suara suaminya, Febby pun langsung berusaha membuka mata.


Itu suara Mike, ini bukan mimpi kan. Tadi aku mendengar suara Mike.


Perlahan kelopak mata Febby mulai terbuka, silau cahaya lampu langsung membuatnya menyipit.

__ADS_1


"Mike...," panggilnya lagi, sambil mencari keberadaan suaminya.


"Ya sayang, aku disini." Mike menciumi tangan istrinya penuh cinta.


"Ini benar kau Miky? Apa aku benar-benar masih hidup?" tanyanya dengan menumpahkan air matanya.


"Iya sayang, kau masih hidup dan masih ada di dunia ini. Kau juga masih menjadi istriku dan sekarang kau juga sudah resmi menjadi seorang ibu," ujar Mike seraya menghapus air mata yang mengalir lewat sudut mata Febby.


"Aku jadi ibu? Maksudnya...??" Febby bingung tapi kemudian dirinya tersadar saat tangannya menyentuh perutnya yang sudah tak lagi buncit.


"Dimana putra kita Mike? Dia tidak kenapa-kenapa kan?" panik Febby, dia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk mencari putranya tapi sayangnya luka di sekujur tubuhnya menyisakan rasa sakit.


"Tenanglah sayang.. kau tidak boleh banyak bergerak nanti lukamu bisa terbuka lagi," Mike khawatir.


"Bagaimana aku bisa tenang, kalau putraku sudah tidak ada di perutku. Apa dia selamat? Mike cepat katakan padaku!" desak Febby, rasa sesak memenuhi dadanya saat membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi.


"Mike jawab, kenapa kau tidak mengutamakan untuk menyelamatkan putra kita lebih dulu." Febby terisak tak kuat menahan rasa sesak yang menghimpit.


Mike pun membawa Febby dalam pelukannya. Hatinya ikut sakit saat melihat istrinya menangis.


"Ya ampun, kalian ini sudah cukup dramanya," ledek Lia yang datang mendekati pasangan suami istri yang sejak tadi seperti sedang bermain drama.


Mike dan Febby pun melihat ke arah Lia.


"Lia kau ada disini?" tanya Febby yang sedikit terkejut.


"Bukan hanya aku tapi ada Rara juga suami kami ada disini. Kalian saja yang sibuk sendiri sampai tidak melihat kami." Lia meledek lagi.


Febby pun melihat ke arah Rara dan yang lainnya. Ternyata benar jika ada banyak orang di ruangan itu.


Rara, Revan dan Sakka pun menghampiri mereka, ikut bergabung.


"Bagaimana keadaan kak Febby?" tanya Rara.

__ADS_1


"Aku baik Ra, jadi kalian dari tadi disini mengganggu ku bangun," senang Febby.


"Iya sejak tadi kami bermain dengan baby boy, Syukurlah kau sudah bangun, kami ikut bahagia untuk kalian." Rara pun terharu, dia termasuk saksi bagaimana akhirnya kini Febby dan Mike hidup bahagia.


"Baby boy??" bingung Febby, lalu tak sengaja bola matanya menatap bayi mungil yang berada dalam dekapan Lia.


"Iya, ini baby boy bayi kalian," ujar Lia seraya meletakkan baby boy dalam pangkuan Febby dengan hati-hati.


Bayi mungil yang sejak tadi tertidur dan sama sekali tak terganggu oleh suara bising di sekitarnya, tiba-tiba membuka mata nya dan mengeluarkan suara tangisnya.


Seketika Febby menitikkan air mata haru. Dia sudah menjadi seorang ibu dari bayi tampan itu. Kebahagiaannya kini semakin lengkap. Tak lupa dia juga memanjatkan puji syukur atas segala sesuatu yang telah Alloh berikan padanya dan keluarga kecilnya.


"Dia putraku?" tanyanya yang masih tak percaya. Ia takut semua ini hanya mimpi dan tiba-tiba dia akan terbangun lalu hilang semua kebahagiaannya.


"Iya sayang, ini putra kita. Buah cinta kita, kau sudah menjadi ibu." Mike pun ikut terharu saat putranya menangis dalam dekapan ibunya. Sepertinya ikatan batin di antara mereka sangatlah kuat.


"Putraku...." Febby tergugu, tak sanggup mengucapkan apa-apa lagi.


Sementara Rara dan Lia saling pandang untuk mengisyaratkan agar mereka sebaiknya keluar untuk memberikan waktu untuk keluarga kecil itu dan juga baby boy juga perlu untuk menyusu.


"Kami keluar dulu, kamu su suin baby boy dulu. Kasihan dia sejak tadi meminum susu formula."


Febby pun mengangguk mengerti.


"Sayang kau mau apa?" pekik Mike saat tiba-tiba sang istri membuka kancing bajunya satu persatu.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2