
°°°
Siang di Jogjakarta.
Rara dan Revan mengeksplor destinasi wisata yang ada di sana, termasuk juga wisata kuliner. Meski tidak semua tempat bisa mereka kunjungi, tapi sudah membuat mereka merasa cukup puas.
Alam Jogja yang indah menawarkan berjuta pesona dan panorama yang memanjakan mata, banyak juga bangunan kuno dan tempat bersejarah yang patut dikunjungi. Tidak akan cukup satu hari jika ingin menikmati keindahan kota Jogjakarta.
Belum lagi berbagai makanan khas yang memanjakan lidah, ada juga surga batik yang menarik.
Walaupun sebenarnya Rara masih betah di sana tapi ia tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Suaminya sudah harus kembali ke perusahaan dan ia juga harus kuliah.
"Apa kamu senang hari ini," tanya Revan pada istrinya.
"Aku sangat senang Kak, terimakasih karena sudah mengajakku berlibur."
Ya diantara semuanya, bisa berlibur bersama sang suami adalah hal yang paling menyenangkan.
"Kita bisa kesini lagi kapan-kapan jika kau suka." Dan aku harap saat kembali kesini, hubungan kita sudah menjadi lebih baik.
"Benarkah?" Mata Rara berbinar seketika.
"Iya, apapun yang kamu suka, aku akan berusaha memenuhinya," ujar Revan.
Rara tertegun mendengar perkataan suaminya. Ia tidak percaya, apa mungkin ia salah mendengar.
"Apa kamu tidak percaya?" Revan menaikkan alisnya.
Dengan tersenyum malu pun Rara mengangguk.
"Wajar saja jika kamu belum bisa percaya padaku tapi perlahan-lahan aku akan membuatmu percaya padaku." Revan menatap kemerlip bintang di langit malam Jogjakarta.
Sementara Rara masih tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.
Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing, sama-sama menatap bintang yang bersinar diantara gelapnya malam. Untunglah malam itu cerah hingga bintang dan bulan terlihat jelas dari balkon kamar mereka.
Rara sangat menikmatinya, sudah lama ia tidak melihat pemandangan seperti itu setelah pindah ke rumah suaminya. Sampai ia tidak sadar jika suaminya sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Revan yang merasakan angin malam semakin kencang, pergi ke dalam untuk mengambil jaket untuk istrinya. Setelah kembali ke balkon ia langsung memakaikan jaket itu pada sang istri agar tidak kedinginan.
Rara pun tersentak karena tiba-tiba ada yang memakaikan jaket padanya. Lalu ia tersenyum saat menyadari suaminya lah melakukan itu.
"Terimakasih, Kak." Rara menatap suaminya.
Revan meraih kedua tangan istrinya dan menatapnya dalam.
__ADS_1
"Tetaplah seperti ini, jangan pernah menyerah pada hubungan kita kedepannya. Apapun yang terjadi nanti, tolong bersabarlah."
Rara melihat kesungguhan dalam mata suaminya. Perkataannya terdengar dari hatinya yang terdalam. Ia tau suaminya mempunyai kesulitan sendiri.
"Kak, aku ini istrimu. Aku akan selalu disamping mu apapun yang terjadi. Kak Revan tidak perlu khawatir, kita akan sama-sama menghadapi apa yang terjadi kedepannya." Karena aku sudah memilihmu dan aku menerimamu menjadi imamku tanpa syarat.
Revan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia menarik Rara dalam pelukannya. Yang ia tau saat ini, memeluk sang istri adalah hal yang paling nyaman.
,,,
Sementara di tempat lain. Febby sudah kalang kabut sejak kemarin. Bagaimana tidak, ia tidak bisa menghubungi kekasihnya dan tidak bisa menemukannya.
Rasa kesalnya semakin memuncak saat orang suruhannya bilang jika Revan sedang berlibur bersama istrinya. Sudah berkali-kali ia coba menelpon nomor nya tapi tidak aktif juga.
Revan memang sengaja mematikan teleponnya dan menggunakan ponsel yang lain selama berlibur. Entahlah nuraninya berkata ia harus melakukan itu dan ternyata membuatnya lebih nyaman selama berlibur.
"Shittt... kamu berani menghindariku. Kamu sendiri yang memaksaku menggunakan cara yang kasar." Febby menyipitkan matanya dan menggertakkan giginya. Mulai memikirkan cara yang harus ia susun untuk menyingkirkan Rara.
Kemudian ia mencari kunci mobilnya dan berniat pergi ke suatu tempat yang sudah lama tidak ia datangi.
Febby melewati ruang tamu yang sedang ramai kedatangan para teman sosialita mamahnya. Ia tidak peduli dengan itu semua, ia ingin menenangkan diri.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya mamah Wina pada putrinya.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Have fun...." Setelah mengatakan itu mamah Wina kembali ke teman-temannya.
Sebenarnya Febby ingin bercerita pada mamahnya, tapi ia tidak ingin mengganggu kesenangannya bersama teman-temannya. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Febby melajukan mobilnya menuju ke apartemen elit di ibukota. Tempat yang biasa ia datangi saat sedang suntuk dan kesal, menemui seseorang yang bisa sedikit memperbaiki mood nya.
Febby menekan bel apartemen itu. Cukup lama sampai seseorang membukakan pintu untuknya.
"Lama sekali," gerutu Febby, lalu ia langsung masuk ke dalam melewati pria itu yang sedang melotot.
"Sedang apa kau, kenapa menatapku seperti itu. Apa di dalam kamarmu sedang ada perempuan murahan, ck." Febby melihat ke arah pintu kamar.
"Untuk apa kau kemari?" tanya pria itu dengan datar, yang ternyata adalah Sakka.
Sementara Febby tersenyum getir mendengarnya, padahal biasanya pria itu akan menyambut kedatangannya dengan langsung menyerangnya. Baru kali ini pria itu bertanya seperti itu.
"Ada apa denganmu, bukannya kamu senang aku datang. Aku sedang butuh hiburan, ayo bersenang-senang." Febby meraih botol alkohol di atas meja dan meminumnya.
Namun, Sakka segera mengambil botol itu dari Febby.
"Keluar dari apartemenku!" ujar Sakka seraya menunjuk pintu keluar.
__ADS_1
"What...!! Apa kamu bilang." Febby membulatkan matanya.
"Apa kamu tidak dengar aku bilang apa, cepat keluar atau aku suruh keamanan datang untuk menyeretmu." Ternyata Sakka tidak main-main dengan ucapannya. Ada apa dengannya? itulah yang ada di benak Febby saat ini.
"Apa kamu sakit." Febby mencoba menyentuh kening pria itu tapi langsung ditepis oleh Sakka.
"Ada apa denganmu? Kita bahkan belum melakukan apa-apa?" Ya karena biasanya mereka akan berakhir di ranjang.
"Cepat keluarlah, sebelum aku menggunakan kekerasan," ujar Sakka lagi.
Febby bangun dari duduknya dan menghampiri pria yang sekarang bahkan memalingkan wajahnya dari wanita. Padahal biasanya ia akan menatap lapar pada wanita-wanita cantik dan seksi.
Gadis itu masih tidak percaya jika pria itu benar-benar Sakka. Pria yang selama ini menjadi pemuas naaffsunya.
Febby pun mencoba membuka blazer yang ia pakai dan membiarkan sebagian tubuhnya terbuka. Ia yakin pria itu akan langsung menerkam nya seperti biasa.
"Kenapa kau menyuruhku keluar, bukankah kita belum bersenang-senang. Apa kamu marah karena aku sudah lama tidak datang kemari, tapi bukannya kamu punya banyak wanita untuk menemanimu." Febby mendekati Sakka dengan memancing pria itu. Jari-jarinya bergerak ke leher, dada dan bagian bawah yang ia yakin sudah menegang.
Sakka hampir saja kehilangan kendali saat sentuhan tangan Febby menjalar di tubuhnya. Beberapa hari ia sudah berusaha menghindari wanita demi seseorang yang terus mengganggu pikirannya.
"Shiiittt!! Apa kau tidak dengar aku menyuruhmu keluar." Sakka mencengkeram pergelangan tangan Febby yang hampir menyentuh barang kebanggaannya.
"Apa kau gilaa, lepaskan tanganku!!" Febby meringis menahan sakit.
Sakka pun membanting tangan Febby dengan kasar, hingga gadis itu terjungkal ke sofa. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Ada apa denganmu sebenarnya?" tanya Febby.
"Aku sedang tidak ingin diganggu, keluarlah dari sini dan jangan lagi datang kemari karena aku sudah tidak lagi bermain-main dengan wanita."
Sakka sudah sangat frustasi, ditambah kedatangan Febby ke apartemennya membuatnya semakin kesal dan ingin melampiaskan amarahnya. Jika saja wanita itu tidak juga pergi, Sakka tidak tau apa ia bisa menahan diri lagi.
to be continue...
Sudah tobat bang???
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...
__ADS_1