
°°°
Setelah mendapatkan ijin dari suaminya, Rara segera mengirim pesan pada temannya. Jika Lia bisa datang ke rumah.
Tidak bisa Rara bayangkan reaksi Lia jika tau sebenarnya temannya sudah menikah dengan Revan. Entah gadis itu akan terkejut, marah atau kecewa.
Semoga Lia tidak marah dan bisa mengerti nanti.
Rara sudah berpesan pada bi Mur jika nanti ada temannya datang, suruh dia langsung naik ke atas saja. Ya Lia kan perempuan, jadi tidak masalah kan membawanya ke kamar.
Tapi kenapa ya rasanya Rara belum siap memberitahu Lia soal pernikahannya. Bukannya apa-apa, tapi ia malu karena sudah berbohong selama ini.
Setelah dipikir lagi, mau selama apa menyimpannya juga nanti ketahuan juga. Lebih baik memberitahunya langsung dari pada Lia dengar dari orang lain. Dia pasti akan sangat kecewa.
,,,
Di kampus, Lia yang baru saja selesai dengan mata kuliahnya bergegas bersiap-siap. Rara baru saja mengabari jika ia bisa berkunjung, rasanya membuat gadis itu senang sekali. Lama tidak berjumpa dengan gadis yang belum lama ia kenal ternyata rindu juga.
Kesepian tidak ada teman cerita dan bercanda membuat Lia bosan di kampus.
Namun, siapa sangka jika tiba-tiba ada yang menarik tangannya tanpa permisi.
"Hey... kamu apa-apaan!!" Seru Lia yang kesal. Tapi sepertinya percuma karena orang itu terus saja menariknya membelah para mahasiswa yang ramai berlalu lalang.
Bukan Lia namanya jika dia tidak melawan, terbiasa melakukan pekerjaan kasar tentu saja tenaganya cukup besar.
Kamu belum tau siapa aku, Lia tersenyum menyeringai.
Dalam satu kali gerakan gadis itu berhasil memutar keadaan, dan saat ini pria itu ada dalam kuasanya. Lia melilitkan tangan pria itu hingga memutari lehernya dan tangan satunya ditarik ke belakang.
"Siapa kau, berani-beraninya sama perempuan." Lia geram.
Dan... tanpa ia duga ternyata pria itu menyerang balik pertahanannya. Berhasil melepaskan diri dari kuncian gadis itu, lantas berbalik mengunci pergerakan Lia.
__ADS_1
"Kamu kuat juga ternyata, tapi sayangnya aku bisa lebih kuat darimu," ujar pria itu seraya tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Ia yang di didik secara militer sedari kecil tentu sangat mudah melumpuhkan lawan.
"Kau...!" Lia menajamkan matanya begitu melihat siapa pria brengseek itu. Sontak raut wajahnya berubah penuh kekesalan. Sudah bagus berapa hari ini ia merasa tenang, tapi pria itu muncul lagi.
"Iya ini aku, Sakka. Apa kau merindukanku?" tanyanya tanpa rasa malu.
"CK... untuk apa merindukan mu, aku lebih senang tidak melihatmu." Sepertinya rasa benci Lia pada Sakka sudah mendarah daging. Hingga apapun yang pria itu lakukan pasti membuatnya semakin benci. Seperti sekarang ini dia tiba-tiba menariknya pergi.
Setelah mendengar kekesalan Lia, gelak tawa pria itu pecah. Bukannya marah, Sakka malah semakin gemas pada Gadis itu. Rasa rindunya beberapa hari ini tidak bertemu dengan gadis itu, sedikit terobati setelah mendengar omelannya.
Sakka terpaksa tidak berangkat kuliah dan tidak memesan makanan dari restoran kesukaannya. Karena akibat dari kejadian di apartemen waktu itu membuat Lia marah besar. Lalu saat ia berusaha meminta maaf, Lia mau memaafkannya asal Sakka tidak muncul lagi di depan matanya.
Tapi itu tidak mungkin terjadi karena baru berapa hari saja, Sakka sudah sangat merindukan gadis itu. Akhirnya pagi ini ia memutuskan untuk datang ke kampus. Menunggu hingga gadis itu menyelesaikan kuliahnya.
Barulah Sakka membawa gadis itu pergi seperti saat ini.
"Kau semakin manis saat sedang marah," goda Sakka.
Dan yaa... pipi Lia memerah tanpa ia sadari. Pujian lelaki itu ternyata mampu membuatnya tersipu malu.
Sementara, Lia yang melihat pria itu tertawa pun semakin kesal.
"Tidak usah omong kosong, cepat lepaskan aku atau aku akan berteriak. Biar semua orang melihat kelakuanmu."
Lia ingin segera pergi dari sana, entah kenapa rasanya aneh saat dekat dengan pria itu.
"Hahaha... teriak saja, maka aku akan menciummu saat orang-orang datang. Lalu siapa yang akan malu dan kau bisa menjadi sasaran para gadis di kampus ini ," ujar Sakka tidak mau kalah. Ia sudah memikirkan selama berapa hari ini. Jika menghadapi gadis seperti Lia sepertinya tidak bisa menggunakan gombalan dan rayuan. Ia harus sedikit memberikan penekanan.
Benar saja, saat ini mata Lia membulat sempurna. Perkataan pria itu tidak pernah ia bayangkan. Bagaimana kalau itu terjadi, sedangkan posisi mereka saat ini sangat menguntungkan bagi Sakka. Jika mau, dengan mudah pria itu mencium bibir Lia.
Rasa takut mendera Lia, tidak ingin terjadi hal-hal seperti itu. Tidak ingin ciuman pertamanya diambil oleh lelaki brengseek seperti Sakka.
Tidak, aku tidak akan memaafkannya bila itu sampai terjadi.
__ADS_1
Tanpa terasa saat ini air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Jika boleh Lia benar-benar tidak ingin terlibat hubungan apapun dengan pria kaya apalagi Casanova. Ia sadar siapa dirinya, yang hanya sebatang kara dan harus berjuang keras untuk menyambung hidup.
"Tolong lepaskan aku," Suara Rara bahkan bergetar menahan rasa sesak yang mendera.
Sakka pun memaku, tidak menyangka jika tindakannya membuat gadis itu takut. Segera ia melepaskan kunciannya. Tidak ingin gadis itu semakin dalam membenci dirinya.
Lia sedikit lega, saat pria itu akhirnya mau melepaskannya. Ia pun segera mundur dan menjauh.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut." Rasa bersalah menyeruak dalam dada Sakka.
"Kenapa, kenapa kau terus menggangguku?" tanya Lia yang sudah bercucuran air mata. Ia rasa semuanya harus segera diakhiri.
"Apa...?" Sakka terdiam.
"Aku hanya gadis biasa bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para gadis yang ada di apartemenmu. Tapi kenapa kau selalu mengusikku, padahal aku tidak pernah mengganggumu. Jika kamu takut aku akan menyebarkan keburukanmu, tidak usah khawatir karena aku tidak berminat ikut campur dalam urusan orang lain."
Lia ingin segera meluruskan kesalahpahaman diantara pria itu dengan dirinya. Karena Lia juga tidak ingin memendam rasa benci pada seseorang yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.
"Aku mohon jangan lagi menggangguku, mari kita jalani hidup kita masing-masing. Seperti sebelum kita tidak saling mengenal. Aku sudah memaafkanmu dan aku juga minta maaf jika telah menyinggungmu."
Sakka memaku di tempat, tidak tau apa yang harus ia katakan. Dari yang ia dengar gadis itu sepertinya sudah salah paham padanya.
Tatapan mata mereka saling bertemu, Sakka yang entah sedang memikirkan sesuatu dan tidak terbaca. Sementara Lia dengan linangan air matanya yang merindukan ketenangan.
Diam, keduanya sama-sama tidak bersuara.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
__ADS_1
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
...Sehat selalu pembacaku tersayang...