
°°°
Tidak jauh berbeda dengan Rara yang merindukan suaminya. Di sebuah rumah pun seorang wanita sedang merenung sendirian. Sudah hampir seminggu laki-laki itu tidak ada kabarnya.
Benarkah cuma masalah pekerjaan di luar kota atau cuma mau menghindariku saja sebenarnya.
Kemana perginya ayah mu nak, apa dia sudah tidak peduli lagi dengan mu.
Febby menatap langit-langit kamarnya. Kenapa Mike sama sekali tidak pernah menghubunginya, untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan anaknya.
Jujur Febby rindu pada pria itu, bukan karena ingin melakukan sesuatu dengan Mike. Namun, dia merindukan sosok laki-laki itu berada di sampingnya.
Walaupun ada bi Ida yang sangat memperhatikannya tapi tetap saja rasanya sepi.
Ceklek
Bi Ida masuk ke kamar nonanya, membawakan susu dan vitamin yang harus diminum oleh Febby. Tentu saja atas perintah Mike yang tidak pernah absen untuk mengingatkan bi Ida. Bagai alarm, laki-laki itu selalu menghubungi bibi pelayan untuk sekedar mengingatkan waktunya Febby makan, minum vitamin, makan buah dan susu hamil.
Jadi salah jika Febby mengira Mike tidak peduli dengannya. Justru laki-laki itu sangat sangat peduli terhadap sang ibu dari anaknya.
"Nona, waktunya minum vitamin..." ujar bi Ida seraya mendekati nonanya yang berada di ranjang.
"Terimakasih Bi," Febby membuka tangannya dan menerima vitamin itu, lalu segera menelannya.
"Ini susunya saya taruh di meja ya Non," ujar bi Ida.
"Iya Bi, aku akan meminumnya nanti." Febby terlihat lesu dan tidak bergairah.
"Apa ada yang sedang mengganggu pikiran Nona? Maaf kalau saya lancang, tapi nona tidak perlu sungkan kalau ada masalah katakan saja pada saya." Bi Ida tampak berdiri di depan Febby yang menekuk wajahnya.
"Bibi kok selalu tau si, jangan-jangan bibi bisa baca pikiran saya nih," ledek Febby.
"Keliatan dari mukanya nona yang sangat tidak bersemangat. Atau jangan-jangan nona merindukan Tuan?" ujar bi Ida, mengulum senyum.
__ADS_1
"Bi Ida kepo...."
"Kepo? Jenis makanan apa itu Non?" Bi Ida tampak berpikir. Sontak Febby pun tertawa mendengar pertanyaan bi Ida. Ia lupa jika saat ini sedang bicara dengan ibu-ibu, seharusnya memang bi Ida tidak tau akan istilah gaul anak sekarang.
"Sudah-sudah, sini duduk bi temenin aku." Febby meminta bi Ida untuk duduk di sampingnya tapi wanita itu malah duduk di lantai layaknya pelayan dengan majikannya.
"Bi... kenapa duduk di situ? Sini aja, di sebelahku juga masih kosong," ujar Febby menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Tidak apa-apa non, bibi disini saja." Bi Ida tidak mau terlalu kurang ajar, biar bagaimanapun Febby adalah majikannya juga.
"Bibi ihh... kalau bibi nggak mau duduk di sini. Aku nggak mau lagi cerita sama bibi." Febby melipat kedua tangannya, dia ngambek pada bi Ida.
"Ehh iya Non, bibi pindah." Bi Ida pindah ke samping Febby, "Jadi nona mau cerita apa?" tanya nya.
"Nah gitu dong..., bibi tau kan sebenarnya Mike kemana? Kenapa perjalanan kerjanya lama sekali apa tempatnya sangat jauh?" tanya Febby.
Ternyata benar tebakan bi Ida jika nonanya sedang memikirkan tuannya.
"Tuan benar-benar pergi bekerja non," ujar bi Ida.
"Tidak Non, siapa yang bilang begitu. Justru tuan sangat peduli pada nona, kalau tidak mana mungkin bibi setiap saat mengingatkan nona makan, minum vitamin dan yang lainnya. Itu semua tuan yang menyuruh Non," tutur bi Ida, yang tidak ingin nonanya salah paham.
"Apa benar, bibi tidak bohong?" tanya Febby, dia tidak yakin dengan ucapan bi Ida.
"Benar Non, kalau tidak percaya nih lihat sendiri di ponsel bibi. Ada berapa riwayat panggilan dari Tuan dalam sehari dan ada pesan juga setiap jamnya cuma tanya nona sedang apa." Bi Ida mengeluarkan ponselnya yang selalu ia bawa, karena setiap saat tuannya bisa meneleponnya.
"Nih lihat non," ujar bi Ida lagi sambil menggeser geser layar ponselnya.
Benar saja jika riwayat panggilan di ponsel bi Ida dipenuhi oleh nama Mike dan pesannya juga seperti apa yang bibi pelayan katakan.
"Jadi benar bi, Mike peduli padaku? Ahh rasanya tidak mungkin bi," ujar Febby yang tidak menyangka kalau Mike sangat memperhatikannya.
"Iya Non, nona sudah lihat sendiri kan buktinya," ujar bi Ida kembali menyimpan ponsel smartphone nya.
__ADS_1
Walaupun sudah tau jika Mike ternyata peduli pada nya, tapi kenapa wajah Febby masih murung.
"Menurutku, dia hanya peduli pada anak ini bi. Tapi tidak denganku," sedih Febby karena ia merasa di dunia ini tidak ada satupun orang yang sayang padanya.
"Kenapa nona bisa berfikir begitu? Tuan tidak seperti itu Non," ujar bi Ida, tangannya mengusap lembut punggung Febby.
"Kalau dia peduli padaku kenapa tidak pernah menghubungi ku, tidak pernah mengatakan apapun dan membiarkan ku kesepian dan sedih sepanjang waktu." Febby bahkan mulai berkaca-kaca matanya, mungkin karena bawaan bayi membuatnya sensitif dan gampang menangis.
"Tapi menurut bibi tidak seperti itu Non, bibi bisa lihat jika perasaan tuan pada nona itu bukan sekedar tanggung jawab tapi benar-benar ada sesuatu seperti rasa sayang dan cinta. Mungkin tuan hanya tidak tau caranya untuk mengungkapkannya dan menunjukkan kasih sayangnya." Sebagai orang yang terlama bekerja di rumah itu, sedikit banyaknya bi Ida tau apa yang terjadi pada tuannya.
"Apa susahnya menelepon dan bertanya kabar bi, aku juga ingin di perhatikan," ujar Febby mengutarakan perasaannya.
"Tuan kan belum pernah berhubungan dengan wanita non, mungkin saja memang dia tidak tau bagaimana caranya menunjukkan perasaannya. Bagaimana kalau nona yang menghubungi tuan lebih dulu," saran bi Ida.
"Aku bi...??" Bola mata Febby membulat.
"Iya, nona kan lebih pengalaman jadi bisa sedikit mengalah. Buat tuan terbiasa dan tau bagaimana memperlakukan pasangannya," ujar bi Ida, agar mereka saling berkomunikasi.
Aku memang pengalaman, tapi biasannya jika aku agresif mereka akan mengira aku murahan dan tidak punya harga diri sebagai wanita. batin Febby.
"Aku takut dia akan terganggu, kalau memang dia tidak ingin menelepon ya sudah bi, aku sadar diri. Aku di sini karna apa." Febby tersenyum miris, haruskah ia bertindak seperti kemarin-kemarin. Agresif dan memepet para laki-laki. Tidak, dia tidak ingin lagi mendapatkan cacian dari kaum laki-laki.
Tahan ya nak, aku tau kau merindukan papahmu.
Ya karena semenjak Mike tidak ada morning sickness yang hebat kembali menderanya.
to be continue...
°°°
Like, komen dan bintang lima yuk...
Gengsi ya Feb, kalau telfon duluan.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...