Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
134. Suami Idaman


__ADS_3

°°°


Revan masih memeluk istrinya, dia sudah seperti akan merantau bertahun-tahun saja.


"Kak, apa lagi yang harus aku masukkan ke dalam koper?" tanya Rara.


Revan pun melepaskan pelukannya dan menatap dalam wajah istrinya, sebagai bekal untuk beberapa hari ke depan.


"Aku ingin membawa kamu sayang," ujar Revan, dia mencolek hidung istrinya.


Pipi Rara pun memerah, sangat bahagia mendengarnya tapi sayang dia tidak bisa ikut karena di lokasi proyek cukup berbahaya, banyak benda-benda tajam dan mungkin juga benda keras yang bisa sewaktu-waktu jatuh. Revan tidak mau membahayakan istri tercintanya.


"Apa kak Revan sudah tau berapa lama disana?" tanya Rara yang saat ini sedang mengikat dasi di kerah kemeja suaminya.


"Belum tau, bisa saja sebentar atau mungkin lama. Aku belum bisa memastikannya. Kenapa, apa kamu takut akan merindukanku?" goda Revan yang berhasil membuat pipi istrinya kembali bersemu merah.


"Kakak harus hati-hati disana, kabari aku jika terjadi sesuatu. Segera pulang kalau semuanya sudah selesai." Jujur Rara juga merasa takut saat akan ditinggal suami, ini kali pertamanya mereka akan berjauhan. Sanggupkah mereka menahan rasa rindu yang membuncah di dada.


Revan membawa istrinya ke dalam pelukannya, saling merengkuh kehangatan yang mungkin akan dirindukan, menghirup dalam-dalam wangi tubuh yang akan membuat candu.


Tidak taukah orang-orang itu jika sepasang suami istri itu baru saja menemukan kebahagiaan, lalu sekarang harus terpisah jarak dan waktu. Sangat berat untuk keduanya.


"Aku akan menjaga diri dan segera pulang ke rumah, aku tidak akan tahan berlama-lama jauh dari kamu." Revan semakin mengeratkan pelukannya.


Rara pun membalasnya, meski berat tapi sudah jadi kewajiban suaminya untuk menyelesaikan masalah yang menimpa perusahaan. Ia hanya bisa berdoa agar suaminya selalu dilindungi dari segala bahaya, di manapun dia berada.


Walaupun masih ada kegundahan di dalam hatinya karena sampai saat ini dia belum mengatakan masalah temannya, ia juga bingung apa pantas dia mengatakan masalahnya sedangkan suaminya sedang dalam masalah.


"Kak, apa aku bisa bicara sebentar." Rara tidak ingin menambah beban suaminya tapi soal nasib anak-anak panti asuhan juga penting menurutnya.


"Katakan saja, apa kau ingin sesuatu?" ujar Revan.


"Bukan Kak, aku tidak ingin apapun. Tapi ada masalah lain yang mau aku ceritakan, apa kak Revan masih ada waktu?" tanya Rara yang tidak ingin menghambat suaminya.

__ADS_1


Revan pun melihat jam di tangannya, masih ada waktu satu jam sebelum Mike datang menjemputnya.


"Katakanlah, ada apa?" Revan membelai lembut pipi istrinya.


"Sebenarnya ini bukan masalahku tapi berhubung dengan temanku yang bernama Lia, apa kakak mengingatnya?" tanya Rara, menatap suaminya.


"Dia yang sering bersamamu di kampus, ada apa dengannya?" Revan memastikan tebakannya, dan Rara pun mengangguk membenarkan.


"Jadi begini Kak, singkatnya panti asuhan tempatnya tinggal dulu mau di gusur dan Lia mengkhawatirkan nasib anak-anak disana. Satu-satunya jalan yaitu mencari donatur yang mau membantu membeli tanah itu, agar panti asuhan itu masih tetap berdiri disana menjadi tempat bernaung bagi anak-anak yang kurang beruntung." Rara menceritakan secara singkat apa yang menjadi masalah Lia.


"Hanya itu?" tanya Revan, dia menyangka istrinya itu mau minta apa, barang mewah mungkin tapi sepertinya dia lupa jika Rara bukanlah wanita yang suka menghamburkan uang.


"Iya, apa kakak bisa membantu. Atau aku pinjam dulu uangnya Kak, nanti kalau punya uang aku ganti."


"Apa aku terlihat seperti itu, sampai istriku sendiri mau meminjam uang." Revan tidak suka mendengarnya.


"Bukan Kak, tapi aku tidak enak pada kak Revan dan juga kakek nanti karena itu masalah temanku. Membeli sebidang tanah kan pasti memerlukan uang yang tidak sedikit." Tentu saja Rara ada sedikit rasa tidak enak, ia baru sebentar menjadi bagian dari keluarga itu tapi sudah meminta untuk dibelikan tanah, walaupun bukan untuk kepentingan pribadi.


"Tidak apa-apa sayang, kalau uang itu digunakan untuk hal positif kakek pasti tidak akan mempermasalahkan. Apalagi untuk menolong anak yatim, sama sekali tidak ada masalah," ujar Revan.


"Mau sayang, ada jalan untuk melakukan kebaikan kenapa harus di tolak."


"Terimakasih Kak," Rara menghambur ke pelukan suaminya.


"Oh iya tapi untuk sekarang mungkin aku akan menyelesaikan masalah perusahaan dulu, coba katakan pada temanmu untuk mengatakan pada orang yang mau menggusur panti itu agar sedikit bersabar. Kalau tidak bisa nanti aku akan minta tolong kakek untuk menurunkan anak buahnya."


"Nanti aku sampaikan Kak, sekali lagi terimakasih kakak sudah mau menolong anak-anak panti itu." Sungguh Rara benar-benar merasa bersyukur mempunyai suami seperti Revan.


"Apa hanya terimakasih, tidak ada yang lain?" Revan mengerutkan keningnya nampak berpikir sesuatu.


"Apa kak Revan minta aku membalas kebaikan kakak dengan sesuatu, kakak mau apa. Semuanya sudah kakak punya," Rara cemberut, dia kira suaminya itu tulus tapi ternyata meminta balasan juga.


Sontak Revan tertawa mendengar ucapan istrinya yang kesal, walaupun sebenarnya ia tidak sungguh-sungguh meminta balasan tapi tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya.

__ADS_1


"Kamu benar aku sudah punya semuanya, jadi tidak membutuhkan apapun lagi. Tapi ada satu yang aku inginkan." Revan mendekatkan wajahnya, "Saat aku pulang nanti aku ingin melihat istriku memakai pakaian yang waktu itu lagi." Revan mengerlingkan matanya.


Pipi Rara memerah lagi mendengar hal itu, bagaimana bisa suaminya jadi mesum begitu. Tapi walaupun begitu dia senang mendengarnya, karena ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.


Dering telepon membuat kedua insan itu menatap ponsel yang ada di atas meja.


"Aku angkat telepon dari Mike dulu," ujar Revan.


Sementara Rara, dia kembali memeriksa keperluan suaminya. Memastikan tidak ada yang tertinggal, seperti baju hangat dan celana panjang yang wajib di bawa karena di Bandung mungkin saja udaranya dingin. Baju dan celana panjang juga bisa melindungi suaminya jika sedang meninjau lokasi pembangunan.


"Hallo Mike," ujar Revan yang sedang mengangkat telepon dari sang assisten.


"Kau sudah ada di depan, baiklah aku juga sudah siap. Kau tunggu di dalam saja, sekalian sarapan."


Setelah mematikan telepon dari Mike, Revan kembali menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Apa sudah mau berangkat Kak?" tanya Rara.


"Heem."


"Kenapa tidak semangat begitu," ujar Rara yang merasakan suaminya seperti enggan untuk pergi.


"Aku tidak ingin jauh-jauh dari kamu sayang."


"Kenapa jadi manja begini si." Rara menggeleng-gelengkan kepalanya.


to be continue...


°°°


Mau satu juga dong yang kayak Revan🤭🤭


Ada nggak ya di dunia nyata?

__ADS_1


Halunya kebawa ke dunia nyata deh🙈🙈


__ADS_2