
°°°
Malamnya, Sakka kembali ke apartemen yang ditinggali Lia untuk menjemput sang kekasih yang akan makan malam bersama ayahnya.
Sakka membuka pintu apartemen dengan kartu miliknya. Di dalam tampak sepi tapi tv masih menyala. Sakka mencari Lia ke seluruh ruangan tapi tidak ada, di dapur juga tidak ada. Tebaknya pasti ada di kamar.
"Sepertinya dia ada di kamar," gumam Sakka lalu ia berjalan kearah pintu kamar.
tok tok tok
"Sayang, apa kau di dalam?" tanya Sakka.
"Iya sebentar, aku belum siap...," terdengar lengkingan suara Lia.
"Cepatlah, tidak usah berdandan terlalu cantik karena kamu sudah cantik aslinya," goda Sakka, dia terkekeh sendiri.
"Tidak usah gombal deh...," ternyata Lia masih menyahut.
Sakka memutuskan untuk menunggu di depan TV. Dia tau kalau wanita pasti tidak sebentar saat berdandan, karena biasanya wanita-wanita yang tidur dengannya dulu seperti itu dan hal itu membuat Sakka muak dulu. Tapi sekarang beda, dia rela menunggu selama apapun asalkan demi Lia.
Benar saja hampir 15 menit Sakka menunggu tapi Lia belum juga keluar dari kamarnya. Untunglah waktu janjian dengan ayahnya tadi sempat ia undur, kalau tidak pasti sang ayah menunggu lama.
"Aku sudah siap..."
Sakka menoleh saat mendengar suara kekasihnya, dia melongo melihat kecantikan Lia yang sangat bersinar malam ini.
"Apa aku jelek? Pasti aku tidak cocok ya berdandan seperti ini," ujar Lia menunduk malu.
"Siapa bilang, apa kamu tau kalau kamu sangat cantik malam ini. Aku bahkan pangling tadi, apa benar ini Lia kekasih ku?" puji Sakka.
"Kau pintar sekali memuji... sepertinya jadi Casanova ada untungnya juga, kau jadi pintar membuat wanita tersipu," seloroh Lia.
"Aku tidak bohong, kamu benar-benar cantik sayang. Bahkan aku jadi ingin mengurung kamu di sini saja tidak usah pergi. Biar aku saja yang melihat kecantikan mu." Sakka mengecup bibir Lia tiba-tiba, dan gadis itu segera mendorong dada bidang Sakka.
"Nanti lipstick ku rusak," ujar Lia seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Kalau rusak ya dandan lagi."
"Tidak segampang itu lah, nanti kamu jadi harus menunggu lama lagi dan paman juga kasihan harus menunggu." Lia memikirkan ayah dari kekasihnya.
"Ayo berangkat, kau sudah siap kan Lia?" tanya Sakka yang kemudian diangguki oleh Lia.
Sepanjang perjalanan, Lia terus menerus merasa gugup hingga duduknya tak tenang dan tangannya sampai berkeringat. Namanya juga mau bertemu calon mertua siapa yang tidak gugup. Bagaimanapun perbandingan dia dan Sakka terlalu jauh, tentu membuat Lia insecure akan hal itu.
Sakka yang melihat Lia tampak gelisah pun menggenggam tangan sang kekasih untuk memberinya ketenangan.
"Jangan pikirkan apapun, cukup fokus padaku saja," ujarnya.
"Tapi... "
"Sssttt... jangan khawatir, ayah ku orang yang baik jadi tidak perlu takut. Aku juga sudah pernah bilang kalau dia sangat menyukai mu, kamu harus percaya. Kalau tidak untuk apa dia mau bertemu dengan mu," Sakka terus menenangkan pikiran Lia.
"Semoga saja memang seperti itu," jawab Lia tapi dalam hatinya tetap tidak bisa menghilangkan kecemasannya.
"Nah, gitu dong... tersenyumlah, kamu akan lebih cantik kalau tersenyum." Sakka menusuk nusuk pipi Lia agar gadis itu tersenyum dan hal itu berhasil membuat Lia melengkungkan ujung bibirnya.
Sakka terus melajukan mobilnya hingga sampai ke sebuah rumah mewah. Lebih mewah dari rumah Revan yang pernah Lia kunjungi waktu itu, terang saja ayahnya Sakka ada pengusaha properti tersukses di Indonesia dan di luar negeri juga ada beberapa cabangnya.
"Bukan sayang, aku mana punya rumah sebesar ini. Ini rumah ayahku," terang Sakka yang tidak mau menyombongkan diri menggunakan harta ayahnya. Dia lebih suka diakui akan apa yang ia punya, walaupun dia tidak punya apa-apa kalau tanpa ayahnya.
"Eits... belum thor!" (Protes Sakka sama othor)
"Ayo turun, apa kau hanya akan diam di mobil. Ayah sudah menunggu kedatangan kita, ayo kita temui dia," ajak Sakka, tapi Lia justru memegangi seat belt nya seperti ragu untuk turun.
"Jangan takut, ada aku yang selalu di samping mu. Ayah tidak akan berani berbuat sesuatu padamu." Sakka mengusap lembut rambut Lia.
"Bukan itu, tapi... aku malu Sakka..." Lia benar-benar tidak punya kepercayaan diri saat ini , bukan seperti dia yang biasanya.
"Kenapa harus malu, memang apa yang kau lakukan. Apa kau malu karena menjadi kekasih ku?" tuduh Sakka.
"Bukan Sakka, justru aku takut kamu malu karena mempunyai kekasih seperti aku. Aku sama sekali tidak sepadan dengan mu," ujar Lia. Kalau mungkin ayah nya Sakka itu hanya kaya tidak jadi masalah untuk Lia. Tapi kenyataannya, ayahnya Sakka bukan hanya kaya tapi kaya raya, kalau anak jaman sekarang menyebutnya sultan.
__ADS_1
"Kenapa aku harus malu punya kekasih seperti kamu, kalau kamu saja tidak malu punya kekasih seperti aku yang dulu nya sering berbuat dosa. Aku justru bangga padamu Lia, kamu bisa membuat aku berubah dan meninggalkan dunia ku yang salah. Aku bisa seperti ini karena mu, kamu juga wanita yang sangat baik bahkan rela mengorbankan masa depan mu demi anak-anak panti. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu."
Lia menatap kesungguhan di mata Sakka, laki-laki itu tidak sedang berbohong padanya. Benarkah rasa bangga Sakka sebesar itu padanya.
"Bisa kita turun sekarang? Tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi nanti. Sekalipun ayah memintaku untuk berpisah dengan mu, aku tidak akan mau. Aku janji," ujar Sakka mengacungkan jari kelingkingnya untuk berjanji.
Sakka seperti itu untuk meyakinkan Lia, walaupun sebenarnya dia sudah tau akan bagaimana reaksi ayahnya nanti. Sepertinya Lia tidak akan percaya kalau tidak lihat sendiri kalau ayahnya Sakka sangat menyukainya bahkan dari laki-laki itu menceritakan tentang Lia pada sang ayah. Ayahnya sudah langsung menyukai Lia.
Memang aneh, karena selama Sakka berdekatan dengan wanita baru kali ini ayahnya terlihat menyukai pasangannya. Karena biasanya dia akan cuek dan tidak perduli.
Lia menautkan jari kelingkingnya dan mencoba percaya pada apa yang Sakka katakan.
"Sekarang kita turun, tunggu lah disini biar aku yang bukakan pintu untukmu."
Sakka bergegas turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Lia. Dia benar-benar memperlakukan Lia bak putri.
"Ayo, hati-hati." Sakka memberikan tangannya agar Lia berpegangan.
"Terimakasih," ujar Lia seraya tersenyum lembut yang membuat Sakka selalu meleleh.
"Apa hanya terimakasih?"
"Ih.. kenapa kamu jadi perhitungan sekali sekarang." Lia memukul dada Sakka dengan sedikit bertenaga, sampai pria itu sedikit kesakitan.
Kekuatan kekasihku sungguh luar biasa.
to be continue...
°°°
Begitu ya rasanya mau ketemu camer🤭🤭
Bahagia selalu Lia...
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo ❤️❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang.