
°°°
Kakek Tio, Rara, bi Mur dan pak Ahmad sudah berada di rumah sakit. Mereka berada di depan ruang operasi. Sudah dua jam lamanya operasi berlangsung tapi belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan itu.
Bi Ida berada di samping Rara, merengkuh wanita itu agar tak larut dalam kesedihan. Sementara kakek, beliau lebih banyak diam tanpa ekspresi.
"Sabar ya Non, kita berdoa saja agar operasi tuan Revan berjalan lancar dan bisa kembali bersama kita lagi," ujar bi Mur seraya menepuk punggung Rara yang masih terisak.
"Aku takut bi... kak Revan...," Rara tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kalau suaminya tidak bisa diselamatkan.
"Nona tidak boleh berpikir seperti itu, kita harus terus berdoa. Lebih baik kita ambil wudhu dan shalat dhuhur dulu ya Non, agar pikiran nona lebih tenang." Ya dalam keadaan seperti itu, hanya pada Tuhanlah manusia berserah diri menyerahkan segala keputusan pada Yang Maha Kuasa. Hanya Tuhanlah yang mampu menolongnya.
"Iya Bi, ayo kita sholat dulu...," ujar Rara. Dia setuju, karena hanya dengan doa yang bisa membantu sang suami di dalam sana.
Rara hendak bangun tapi di melihat ke arah kakek Tio. Wajah tua itu terlihat sangat terpukul tapi masih bisa bersikap tenang. Rara lupa jika yang paling terpukul di sana adalah kakek. Bagaimana tidak cucu satu-satunya sekaligus keluarga satu-satunya kini tergeletak tak berdaya, sedang berusaha bertarung dengan kematian di dalam sana.
Kakek...
"Bi, aku mau ke kakek dulu sebentar," ujar Rara, dia langsung melepaskan diri dari bi Mur dan berjalan mendekati kakek yang sedang duduk sambil berpegangan pada tongkatnya.
Rara menekuk lututnya di depan kakek, lalu dia menggenggam tangan kakek. Rara merasakan kalau saat ini kakek Tio hanya pura-pura baik-baik saja, menutupi kerapuhan hatinya.
"Kakek... aku yakin kak Revan akan bertahan. Kakek tidak perlu cemas lagi, bukankah kak Revan sudah berjanji untuk pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dia pasti menepati janjinya," ujar Rara.
Kakek yang sejak tadi mengalihkan pandangannya pun menatap cucu menantunya. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Rara. Dia tersenyum tapi begitu menyakitkan saat dilihat.
"Kakek juga percaya nak..." ujarnya.
Rara pun memeluk sang kakek, ingin sedikit mengurangi beban yang ada di hati kakek.
Kakek yang sejak tadi mencoba untuk tidak menangis pun, akhirnya air mata nakal itu luruh juga mengalir membasahi pipinya yang sudah mengeriput.
Rara pun bisa merasakan hal itu, dia merasakan tubuh kakek bergetar dalam pelukannya. Bila Rara merasakan dunianya hancur pasti apa yang dirasakan kakek lebih dari itu.
__ADS_1
Karena terlalu sibuk memikirkan perasaannya Rara sampai lupa jika kakek saat ini membutuhkan seseorang untuk memberinya semangat. Rara pun menghapus air mata di pipinya dan melepaskan pelukannya.
"Kakek, jangan bersedih lagi. Ada Rara disini, kakek tidak sendirian... Dokter pasti bisa menyelamatkan kak Revan," ujar Rara, dia pun ikut menangis lagi.
Kakek menggenggam tangan Rara dengan tangan satunya. Rasanya sedikit lega saat ada orang yang memberinya semangat.
"Aku sholat dulu ya Kek, sekalian mendoakan kak Revan dan assisten nya agar operasi nya berjalan lancar." Rara berpamitan untuk pergi sholat.
"Pergilah nak, doa seorang istri pasti akan sangat berguna untuk suamimu di dalam sana."
Rara pun berdiri, melepaskan genggaman tangannya pada kakek dan beralih pada pak Ahmad yang berdiri tidak jauh dari kakek.
"Tolong titip kakek pak, aku mau pergi sebentar untuk sholat," ujar Rara.
"Tentu nona, anda tidak perlu khawatir."
Setelah mendengar hal itu Rara pun menghampiri bi Mur. Untuk segera pergi menunaikan ibadah sholat.
Tiga jam berlalu, wajah tegang semua orang masih jelas terlihat. Rara sudah lebih tenang dan sekarang lebih banyak menemani kakek, terus ada di samping kakek saling menguatkan.
"Nona, tuan besar bagaimana kalau kalian makan dulu. Tidak baik jika tuan besar menunda makan," ujar bi Mur yang tadi sudah menyuruh pelayan di rumah untuk mengirimkan makanan. Karena tanggungjawab nya bukan hanya sekedar pelayan, tapi kakek Tio sudah seperti keluarga nya dan bi Mur harus memperhatikan kesehatannya.
"Bawa pergi saja, aku tidak ingin makan sebelum cucuku selamat," tegas kakek. Dalam keadaan seperti itu mana mungkin dia bisa enak-enakan makan sedangkan cucunya sedang berjuang untuk tetap hidup.
"Maaf Tuan, saya hanya mengkhawatirkan keadaan anda. Bagaimana nanti kalau Tuan Revan bangun lalu tuan kakek malah sakit karena telat makan. Tuan Revan pasti akan sangat sedih." Bi Mur meyakinkan tuannya.
Sementara kakek Tio masih tetap pada keputusannya, tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.
Rara yang melihat hal itu pun menyuruh bi Mur untuk menjauh dulu dengan bahasa tubuhnya, biar dia yang akan pelan-pelan membujuk kakek.
"Bi...," ujar Rara memberi isyarat pada bi Mur dengan matanya.
Bi Mur yang mengerti pun langsung menjauh.
__ADS_1
"Kakek, kak Revan pasti tidak akan suka kalau melihat kakek tidak mau makan seperti ini." Rara mencoba membujuk kakek.
"Kakek tidak lapar nak, kau saja yang makan. Tadi pagi kau hanya makan sedikit," ujar kakek.
"Kakek benar, tubuhku sangat lemas dan pusing karena hanya makan sedikit tadi pagi," Rara memegangi kepalanya.
"Bi, cepat bawa makanannya ke sini." Perintah kakek.
"Kau harus makan nak, kakek tidak mau kau juga sakit," ujar kakek pada Rara.
"Tidak Bi, bawa pergi saja karena aku tidak ingin makan sebelum suamiku selesai di operasi." Rara menolak untuk makan.
"Nak, jangan seperti ini. Suamimu pasti akan memarahi kakek kalau tau kamu sakit karena tidak mau makan," bujuk kakek agar Rara mau makan.
"Baiklah, aku mau makan tapi kakek juga harus makan. Kalau kakek tidak mau makan, aku juga tidak mau," kekeuh Rara, itu agar kakek juga mau makan.
"Baiklah, kau menang...," pasrah kakek, dia tidak bisa membiarkan cucu menantunya sakit.
Akhirnya kakek Tio dan Rara pun makan bersama, meski tidak habis tapi setidaknya perut mereka terisi sesuatu. Bi Ida dan pak Ahmad pun merasa lega, karena kesehatan kakek saat ini sangatlah penting. Kakek harus mengusut tuntas siapa dalang di balik kecelakaan itu.
Ya setelah di selidiki oleh polisi, kecelakaan itu ternyata disengaja. Dari arah berlawanan kendaraan truk besar sengaja membanting setir ke mobil yang dikendarai Revan dan Mike.
Beruntungnya, mobil pertama yang ditabrak bukan mobil yang di kendaraan mereka. Ternyata mereka sempat bertukar mobil dengan anak buahnya karena merasa ada yang salah dengan mesin mobilnya. Niatnya mau ke bengkel dulu tapi kecelakaan itu keburu terjadi.
Dua penumpang mobil yang di depan tewas di tempat, sisanya luka-luka dan Mike dan Revan salah satunya yang mengalami luka paling parah.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍😍😍
❤️❤️❤️
__ADS_1