Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
196. Pencarian Sekretaris


__ADS_3

°°°


Di perusahaan Fresh Grup.


Para karyawan sedang heboh karena pengumuman yang tadi pagi mereka dengar yaitu tentang direktur utama yang sedang mencari sekretaris. Tentu semuanya berlomba menunjukkan kemampuan mereka demi jabatan itu. Selain karena gajinya yang pasti lebih besar, tentu saja tujuan utamanya adalah demi bisa dekat dengan sang direktur utama.


"Ya ampun, aku mau sekali kalau dipilih jadi sekretaris. Aku sudah lama bekerja disini dan pekerjaan ku juga bagus pasti aku masuk kandidat," ujar salah satu karyawati dengan percaya diri.


Begitupun dengan yang lain, mereka sibuk dengan penampilan mereka karena berharap sang direktur utama melirik mereka dan sebagai sekretaris jelas harus mengutamakan penampilan menurut mereka.


Berbeda dengan salah satu karyawati yang sejak tadi santai dan tetap mengerjakan pekerjaannya. Dia tidak terlalu berharap karena dia belum lama bekerja di perusahaan itu. Prestasi kerja pun belum ada. Kalau dibandingkan dengan karyawan lainnya pastilah dia tidak ada apa-apanya.


"Hai Rin, kamu ikut mengajukan diri untuk seleksi jadi sekretaris Dirut kan?" tanya salah satu temannya dan wanita yang dipanggil Rin alias Rindu pun hanya tersenyum tipis.


"Aku hanya karyawan baru disini, pasti sainganku berat kalau ikut daftar," ujar Rindu dengan nada pesimis.


"Ayolah, ikut aja. Kan semua karyawan mendapatkan kesempatan yang sama. Siapa tau itu rejeki kamu, lumayan gajinya gede, trus bisa ketemu Dirut tampan setiap hari." Sang teman senyum-senyum sendiri membayangkan ketampanan Revan.


Iya memang semua orang juga berpikir demikian. Terutama yang masih single, barangkali punya kesempatan untuk menjadi pendamping Direktur utama.


Rindu tampak berpikir, dia memang ingin bertemu lagi dengan direktur utama itu lagi untuk mengucapkan terimakasih dengan benar, tapi dia tidak cukup percaya diri untuk ikut seleksi. Bisa bekerja di perusahaan itu saja dia sudah cukup beruntung.


"Sudah cepat isi saja formulir nya, nanti aku yang serahkan ke bagian HRD. Jangan lupa kalau kamu yang kepilih, jangan jadi kacang lupa kulitnya. Hahaha...," canda sang teman.


"Tentu, cuma kamu yang ramah padaku di perusahaan ini. Mana mungkin aku lupa," ujar Rindu.


,,,


Di kantor direktur utama.


Revan sedang mengerjakan pekerjaannya secara maksimal agar akhir pekan nanti dia bisa berlibur ke tempat mertuanya. Tidak sabar rasanya bisa membuat sang istri bahagia karena selama ini sang istri lah yang selalu berusaha menyenangkan nya. Revan ingin membalasnya dengan memberikan kebahagiaan yang berlimpah.


Revan memutar pergelangan tangannya dan melihat jam tangannya. Sudah siang dan tadi sang istri pamit untuk mengerjakan tugas di luar bersama temannya.


"Apa dia sudah makan?" gumamnya.


Revan pun mengecek ponselnya yang sejak tadi tidak ada notifikasi pesan dari istrinya.


"Sedang apa dia, kenapa tidak memberi kabar lagi," gerutunya.


Sejujurnya dia sedikit khawatir karena Rara pergi dengan teman pria juga. Sementara hubungan mereka sampai saat ini masih belum go publik.

__ADS_1


Semua masalah memang sudah selesai, para orang-orang yang jahat juga sudah ditangkap. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kalau Revan mengumumkan tentang pernikahannya.


Namun, rasanya sangat tidak berperasaan kalau mengadakan pesta saat Mike masih belum sadar. Kasihan juga pada Febby nantinya. Lagi-lagi Revan harus bersabar agar bisa menunjukkan pada dunia kalau Rara adalah istrinya.


"Aku coba kirim pesan saja dari pada penasaran," gumamnya. Lalu Revan pun mengirimkan pesan pada sang istri untuk menanyakan dimana dia.


Beberapa saat kemudian, baru lima belas menit yang lalu laki-laki itu mengirimkan pesan tapi dia sudah berkali-kali mengecek ponselnya, bahkan dia sudah menambah volume nada dering nya. Takut kalau tidak mendengar pesan masuk.


"Kenapa belum balas juga, apa sangat sibuk?" Revan menggerutu sambil menaruh ponselnya dengan sedikit keras.


Revan pun melihat kalau wa sang istri terakhir aktif tiga puluh menit yang lalu.


"Apa dia tidak mendengar pesan dariku? Aku coba telepon saja."


Akhirnya Revan pun menelepon sang istri.


,,,


Masih di restoran.


Rara dan teman-teman masih membahas tentang tugas mereka.


"Ra, ponsel kamu nyala tuh," tunjuk Lia pada ponsel Rara yang tergeletak di meja. Tidak berbunyi tapi hanya berkedip-kedip karena tadi Rara menyetelnya dalam mode silent.


"Li, aku telepon kak Revan dulu. Kalian lanjutkan saja dulu," pamit Rara lalu dia keluar dari ruangan itu.


Rara pergi ke halaman restoran, mencari tempat yang tidak terlalu bising. Lalu menelepon balik suaminya.


"Assalamualaikum kak." ujar Rara begitu panggilan itu dijawab.


📞"Wa'alaikumsalam..."


Suara sang suami terdengar seperti sedang kesal karena dicueki sejak tadi.


"Maaf Kak, ponsel ku tadi dalam mode silent jadi tidak tau kalau kak Revan menelepon." Rara mencoba menjelaskan pada suaminya.


📞"Kenapa kau mensilent ponselmu, apa kau takut aku mengganggu."


"Bukan begitu Kak, mana mungkin aku terganggu oleh kakak. Aku selalu senang kalau kak Revan mengirim pesan atau menghubungi ku."


Bener kak, kalau di rumah aja aku ingin sekali selalu mengirimkan pesan pada kakak tapi takut mengganggu kerja kakak.

__ADS_1


📞"Benarkah?"


"Iya Kak, maafin aku karena lupa mematikan mode silent nya. Lain kali aku tidak akan mengatur mode silent lagi. Kak Revan tidak marah kan??" Rara berusaha membujuk suaminya karena memang itu terjadi karena dirinya.


📞"Baiklah kali ini aku maafkan, tapi tidak ada lain kali. Selanjutnya kalau aku kirim pesan atau telepon kamu harus langsung membalas."


"Iya kak, aku janji," ujar Rara senang karena suaminya tidak salah paham padanya.


📞"Jangan senang dulu karena aku akan menghukummu saat pulang nanti."


"Di hukum?? Apa hukumannya Kak?" pasrah Rara.


📞"Nanti saja saat di rumah aku mengatakannya. Apa kamu sudah makan?"


"Sudah kak, tadi kami istirahat sekaligus makan siang di restoran. Apa kak Revan sudah makan juga?" tanya Rara.


📞"Aku juga sudah, kamu selesai jam berapa di sana. Nanti pulangnya aku jemput."


"Benarkah." Rara sangat senang saat mendengar suaminya mau datang menjemput.


📞"Iya sayang, nanti kalau sudah mau selesai kabari saja. Aku akan datang ke sana."


"Iya nanti aku akan kabari kak Revan kalau sudah selesai," ujar Rara.


📞"Ya sudah kalau begitu aku lanjutkan pekerjaan ku dulu. Kamu juga selesaikan tugas kalian dengan benar."


"Iya kak, assalamualaikum."


📞"Wa'alaikumsalam."


Rara pun mematikan sambungan teleponnya dengan senyum-senyum sendiri. Sudah sering dan setiap hari bertemu dengan sang suami tapi saat mendengar suaranya masih saja berdebar dan berbunga.


Tanpa Rara sadari kalau sejak tadi ada yang memperhatikannya. Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik Rara, apalagi saat melihat Rara tersenyum tersipu setelah selesai menelepon.


to be continue...


°°°


Selamat beraktifitas semua 🤗🤗


Ramaikan novel othor satunya lagi dong 🤭

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2