
°°°
Malamnya saat matahari sudah bersembunyi dari peradaban manusia. Digantikan oleh cahaya bulan yang mempesona.
Wanita yang dari tadi terpejam setelah kelelahan melakukan hubungan intim yang menurutnya sangat luar biasa. Baru kali ini merasa sangat puas, bagaimana tidak jika berulang kali dia berhasil mencapai puncaknya.
Wajah berseri itu mulai mengerjapkan matanya, mulai bangun dari mimpi indahnya. Dilihatnya ke samping, mencari keberadaan laki-laki yang tadi membuatnya melayang ke puncak nirwana.
"Dimana dia, kenapa suka sekali kabur setelah memakai tubuhku." Tidak ada rasa kesal seperti waktu pertama melakukannya, saat ini wajah Febby menunjukkan raut wajah bahagia.
Tok tok tok
"Permisi Non," ujar bibi pelayan dia datang mengantarkan makanan atas perintah Mike.
"Saya bawakan makan malam untuk Non."
"Taruh aja di meja bi," ujar Febby yang masih tersenyum sendiri.
"Saya permisi Non." Setelah meletakkan makanan bibi pun segera undur diri.
"Tunggu Bi, apa bibi tau dimana Miky?" tanpa sadar Febby menyebut pria itu dengan sebutan itu.
"Miky?" bibi pelayan tampak mengerutkan keningnya, tidak tau siapa yang sedang dicari oleh Febby. Karena setau bibi tidak ada yang bernama Miky di rumah itu.
"Ehh... maksud saya Mike bi," ujar Febby malu-malu. Tidak menyangka dia akan merasakan hal yang seperti ini dalam hidupnya.
Bibi pun tersenyum mendengarnya, "Tuan ada di ruangan kerjanya, apa mau saya panggilkan non?"
"Tidak perlu bi, terimakasih." Sungguh seperti bukan Febby, dia bisa berterimakasih pada orang lain.
"Sama-sama Non, saya permisi."
Setelah bibi pelayan itu keluar, Febby menyingkap selimutnya yang sejak tadi ia genggam untuk menutupi tubuhnya. Karena seingatnya dia tidak memakai apa-apa tadi sebelum tertidur.
"Siapa yang memakaikan pakaian di tubuhku? Pasti dia," gumam Febby, lagi-lagi hatinya menghangat saat melihat tubuhnya sudah berbalut pakaian tidak dibiarkan begitu saja tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
Manis sekali, dibalik wajah dingin dan kakunya ternyata hatinya sangat lembut.
Febby pun bangkit dan berjalan menuju sofa untuk makan malam.
"Kau pasti lapar ya nak, sabar ya sebentar lagi mamah akan membuatmu kenyang. Tapi kau bahagia kan sudah ditengok oleh papahmu tadi."
Febby mengusap perutnya, seketika pipinya memerah saat mengingat kejadian tadi sore.
"Aahh... pria itu sudah membuat aku gilaa..." pekik Febby sendirian. Tidak taukah dia jika sejak tadi ada yang mengawasinya dari lain ruangan.
Mike sejak tadi mengawasi gerak-gerik Febby dari layar komputernya. Tanpa Febby tau ternyata di kamar itu ada cctv-nya, bukan hanya di kamar itu tapi dikamar yang ditempati wanita itu juga ada.
Ada perasaan senang saat melihat Febby berbicara sambil mengusap perutnya. Mike pikir saat ini wanita itu sudah mulai menerima keberadaan anaknya yang ada di perutnya.
Besok ia akan mendaftarkan pernikahan, agar tidak lagi melakukan dosa saat melakukan hubungan intim dengan Febby. Entah kenapa dia merasa wanita itu akan meminta lagi padanya, dari keliaran nya Mike bisa menebak itu. Tapi tidak masalah selama wanita itu tidak mencari laki-laki lain di luar sana, karena dia tidak akan membiarkan itu.
,,,
Berbeda dengan Mike yang bahagia karena telah terpenuhi kebutuhan batinnya. Revan saat ini terlihat sangat lesu setelah menemui klien yang ternyata sangat tidak mudah dihadapi. Coba saja kalau aja Mike pasti dia tidak akan kesusahan menghadapi klien yang banyak maunya.
Ya hanya wajah istrinya yang mampu mengembalikan moodnya.
Sampai di halaman rumah Revan bergegas turun dari mobil. Belum terlalu malam dan lampu rumah pun masih menyala dengan terang.
"Assalamualaikum Kek," Melihat kakeknya ada di lantai bawah Revan pun menyapanya lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam, bagaimana meeting nya? Apa pihak investor tertarik dengan tawaran mu." Kakek tentu selalu mengawasi apa yang dilakukan cucunya.
"Begitulah Kek, walaupun awalnya mereka ragu dan banyak pertimbangan tapi akhirnya aku bisa meyakinkan mereka jika proyek ini akan sangat menguntungkan." Revan duduk di sebelah kakeknya.
"Baguslah, kamu memang bisa di andalkan. Tapi kamu harus tetap berhati-hati pada orang-orang itu. Mungkin mereka sedang menyusun rencana dibelakang kita." Kakek tidak tenang walaupun tinggal di rumah. Cucunya yang baru saja terjun di dunia kerja takutnya belum siap menghadapi masalah yang mungkin akan sangat besar di depan mata.
"Kakek jangan khawatir, bukankah kakek sudah menyiapkan orang-orang terbaik kakek untuk membantuku. Saat aku memutuskan untuk menyingkirkan para benalu itu, tentu aku juga sudah menyiapkan semuanya."
Revan sudah bertekad, jika bukan sekarang memancing orang-orang itu keluar kapan lagi. Nanti saat perusahaan sedang berada di puncak justru akan semakin susah.
__ADS_1
"Kakek percaya padamu, apapun keputusanmu kakek akan mendukungnya." Kakek menepuk pundak cucunya. Mungkin seolah beban yang selama ini ada di pundaknya telah berpindah di pundak cucunya. Tapi kakek Tio yakin, Revan mampu dan pasti bisa.
"Dimana istriku Kek?" tanya Revan.
"Sepertinya dia ada di kamar," jawab kakek seraya menyesap tehnya.
"Aku ke kamar dulu ya Kek, mau mandi."
"Pergilah, kakek mengerti. Kakek juga pernah muda," ujar kakek seraya meletakkan kembali cangkir tehnya. "Jangan lupa, cepat buatkan kakek cicit. Jangan sampai membuat kakek malu."
"Tenang saja Kek, sebentar lagi kakek akan mendapatkan cicit yang lucu."
Kakek geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya. Tapi dalam hatinya kakek mengaminkan ucapan cucunya itu.
Revan dengan semangat melangkahkan kakinya menaiki tangga, bayangan wajah cantik istrinya membuatnya tidak sabar untuk bertemu.
Sampai di depan pintu Revan langsung saja membuka pintu, dia masuk lebih dalam untuk mencari sosok yang sudah memenuhi hatinya.
"Sayang..." panggil Revan.
"Aaaa...," terdengar teriakkan dari dalam ruangan wall in closet. Revan yang mendengar suara itu pun langsung berlari ke asal suara.
"Sayang, kau kenapa?" Wajah Revan sudah sangat khawatir, berpikir yang tidak-tidak saat mendengar teriakkan istrinya.
"Kak, kenapa kau sudah pulang?" Rara malah tersenyum malu karena ketahuan oleh suaminya sedang menjajal pakaian yang dulu suaminya pernah belikan. Dan saat mendengar suara suaminya tadi dia tidak sengaja tersandung barang yang ada disana karena terburu-buru mau melepas gaun itu.
"Kau itu sedang apa? kenapa malah duduk di bawah seperti itu." Revan mendekat dan membantu istrinya untuk bangun. "Apa ada yang sakit?" tanyanya.
"Tidak Kak, aku tidak apa-apa." Rara malu.
"Kau cantik sekali memakai gaun itu," Gaun yang sangat pas di tubuh mungil Rara. Tadi saat Rara terduduk Revan tidak menyadari apa yang di pakai istrinya. Ternyata itu gaun yang pernah ia belikan dan sekarang Rara memakainya.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Kira2 di kamar mandi perlu ada cctv-nya, nggak ya??🙄🙄