
°°°
Revan dan Mike baru saja sampai di penginapan, bukan hotel mewah berbintang hanya penginapan seperti vila yang ada di sana. Setelah tadi baru saja meninjau proyek pembangunan untuk hotel dan tempat wisata baru, ternyata memang parah sekali bagian yang rusak. Belum lagi Revan harus menghadapi keluarga yang menjadi korban. Untunglah mereka mau menyelesaikan semuanya secara damai dan tidak membawa masalah itu ke ranah hukum.
"Mike, besok kau kumpulkan semua orang yang bertanggung jawab. Kamu juga suruh orang untuk menyelidiki apa penyebabnya, jangan lupa juga periksa material yang mereka gunakan. Apa sudah sesuai dengan yang kita perintahkan." Revan tidak akan mengampuni orang yang berani bermain dengan nyawa manusia hanya demi keuntungan pribadi.
"Baik Tuan, saya akan melakukannya," jawab Mike.
"Ya sudah sekarang istirahat saja dulu. Kau sudah lelah menyetir seharian," ujar Revan seraya membuka pintu kamarnya.
"Baik Tuan."
Setelah memastikan tuannya masuk ke dalam kamarnya, barulah Mike masuk ke dalam kamarnya sendiri yang letaknya berada tepat di samping kamar tuannya.
Di dalam kamar, Revan melemparkan asal kemeja dan dasinya. Lalu membuka kancing kemejanya, gerah dan lengket itu pasti karena ia baru saja dari area proyek.
Revan mendudukkan dirinya di sofa dan menyenderkan punggungnya. Menengadahkan kepalanya ke atas lalu memijit pelipisnya. Pusing, kesal dan lelah bercampur menjadi satu. Sepertinya dia akan lama di tempat itu.
Walaupun berat tapi Revan tidak ingin menyerah begitu saja, proyek itu adalah impiannya dan sekaligus ingin membuktikan pada semua orang jika ia mampu tanpa kakeknya. Proyeknya ini memang tidak ada hubungannya dengan bisnis kakeknya yang berjalan di bidang pangan. Ya Revan ingin mengembangkan perusahaan agar tidak hanya pada satu bidang tapi bisa berjalan di bidang lainnya.
Jika ingin menguasai bisnis maka harus bisa apa saja.
Revan mengambil ponselnya, ia ingat sejak tadi belum menelepon istrinya karena sibuk memikirkan solusi. Dia pun segera menghubungi istrinya.
Tidak butuh waktu lama ternyata Rara langsung mengangkat panggilan darinya, karena memang sejak tadi wanita itu sudah menunggu suaminya.
📞"Assalamualaikum Kak?
"Wa'alaikumsalam sayang." Rasanya begitu sejuk ketika mendengar suara wanita diseberang sana.
📞"Apa kak Revan sudah dari proyek, apa semuanya lancar?"
Revan terkekeh mendengar kekhawatiran istrinya.
"Alhamdulillah, semua berkat doa kamu. Tidak ada masalah yang berarti, kamu jangan khawatir lagi, ok."
📞"Bagaimana aku tidak khawatir jika kakek sendiri yang bilang jika disana mungkin berbahaya."
__ADS_1
"Jangan khawatir, doakan saja agar aku bisa segera menyelesaikan semuanya dan segera pulang untuk mendapatkan hadiah." Revan menggoda istrinya, ia yakin saat ini sang istri sedang merona.
📞"Kak..."
Benarkan, dari suaranya saja sudah bisa ditebak.
"Iya sayang... kau sedang apa? Apa sudah makan malam?"
📞"Sudah kak tadi dengan kakek. Kak Revan bagaimana, apa sudah makan juga?"
"Sudah barusan terus langsung pulang ke penginapan. Disini dingin sekali, coba saja ada kamu disini. Aku bisa memelukmu biar hangat."
Revan mencoba mencairkan suasana agar istrinya tidak lagi khawatir.
📞"Cepatlah pulang, agar kakak bisa memelukku sampai puas."
Ehhh Revan tidak menyangka jika Rara akan menjawab seperti itu. Jujur saja hal itu malah membuatnya benar-benar ingin memeluk wanita itu sekarang.
"Kalau sudah pulang aku akan mengurungmu di kamar." Revan tersenyum.
📞"Kenapa, kenapa harus di kurung?"
📞"Kak..."
Karena Revan diam saja sang istri jadi memanggil manggilnya.
"Iya sayang..., tidurlah besok aku telepon lagi."
Laki-laki itu harus mengakhiri panggilan itu jika tidak ingin dingin-dingin begitu berakhir lama di kamar mandi.
📞"Ya sudah, kakak juga istirahat ya. Kabari aku lagi besok."
Pesan istrinya membuat Revan tersenyum.
"Pasti sayang, assalamualaikum..."
📞"Wa'alaikumsalam..."
__ADS_1
Setelah sang istri yang lebih dulu mematikan sambungan teleponnya, Revan berselancar di ponselnya mencari foto wanita yang baru saja ia dengar suaranya.
Beberapa foto cantik istrinya sudah memenuhi galeri ponselnya, ia tersenyum mengusap layar ponselnya. Belum juga sehari tapi sudah sangat rindu. Ternyata benar kata Dilan kalau rindu itu berat.
Sabar ya, aku akan pulang dan memelukmu sepuasnya, gumam Revan.
Bisa saja Revan melakukan video call tapi ia takut justru rasa rindunya semakin membuncah dan ingin langsung pulang untuk mengurungnya di kamar.
,,,
Sama halnya dengan Revan yang sedang dilanda rindu. Di kamar sebelah pun sama, pria dingin nan kejam seperti Mike sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Dia tidak tau apa artinya itu, saat ia merasa ingin sekali bertemu dengan Febby. Mungkinkah itu rindu?
Mike sama sekali belum pernah merasakan hal itu pada seorang wanita, makanya dia tidak tau.
Dan karena perasaan itulah Mike membuka rekaman cctv yang terhubung langsung ke kamar Febby yang bisa di akses dengan laptopnya bisa juga dengan ponselnya. Tapi sialnya adalah Mike harus menelan salivanya melihat apa yang ada di layar monitor.
Jika tadi Revan terpancing oleh suara dan kalimat Rara yang memancing. Kini Mike lebih parah, dia harus melihat Febby dengan lingerie yang sangat minim.
Kenapa dia harus menggunakan pakaian seperti itu saat aku tidak ada di rumah.
Mike mengumpat kesal dengan pemandangan di depan matanya. Apalagi Febby terlihat terus bergerak dan berguling di atas ranjang membuat lingerie itu tersingkap hingga perut dan menampilkan dalaman g-string yang sangat mini, tentu saja sebagai laki-laki yang sangat normal Mike sudah pasti tidak tahan.
Aahhh apa aku sudah gilaa, kenapa juga aku harus memasang cctv di kamarnya. Sepertinya aku harus menyuruh bi Ida menyingkirkan pakaian itu selama aku tidak ada.
Mike pun bernasib sama, di memijit pelipisnya yang berdenyut tidak karuan. Bukan hanya kepalanya yang berdenyut tapi juga juniornya yang meronta ingin dibebaskan dari sangkarnya.
Pada akhirnya Mike memilih untuk mematikan laptopnya dan menuntaskan libi*donya yang terlanjur naik.
Wanita itu benar-benar menyiksaku. Geram Mike setelah dia menyelesaikan permainan solonya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Mike pun menghubungi bi Ida untuk menanyakan bagaimana kabar wanita itu hari ini. Walaupun dia sudah melihatnya sendiri tapi dia juga ingin mengetahui apa saja yang Febby lakukan.
Kenapa tidak menelepon Febby saja? Bagaimana ya, Mike belum pernah sama sekali berhubungan dengan wanita apalagi berpacaran jadi dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Dan menelepon wanita itu pasti akan membuatnya canggung, apa yang mau ia katakan nanti.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Mau telepon aja bingung nih Abang Mike.
Ajarin Mike yuk... 😘😘😘