
°°°
Rara dan Lia datang ke rumah sakit hari ini, tentu saja tujuan mereka untuk menjenguk baby Nathan yang super duper menggemaskan.
"Selamat pagi ..., " sapa mereka berdua saat sampai di kamar Febby.
Febby mencelos melihat kedatangan kedua wanita itu yang pasti membuat ruangan itu jadi heboh.
Rara dan Lia pun masuk dengan barang bawaan mereka, apalagi kalau bukan mainan bayi. Padahal baby Nathan belum bisa memainkan semua itu. Mereka berdua itu terlalu antusias.
"Kalian bawa apa kali ini?" tanya Febby sambil melipat kedua tangannya.
Mereka berdua menyengir kuda, lalu menghampiri baby Nathan yang baru saja tertidur.
"Kalian jangan mengganggu nya ya! Dia baru saja tertidur dan aku juga lelah ingin beristirahat karena tumben sekali semalaman Nathan mengajak begadang." Febby tidak berbohong hanya karena tidak memperbolehkan temannya mengganggu tidur putranya tapi memang dia sungguh lelah setelah semalaman terjaga. Lingkaran hitam di sekitar matanya sudah membuktikannya.
"Apa ada yang salah dengannya, mungkin dia sakit? Kau sudah coba tanya ke dokter Kak?" tanya Rara yang terlihat khawatir pada baby Nathan.
"Sudah dan katanya sudah biasa bayi akan mengalami fase seperti itu, kadang begadang kadang menangis tak jelas. Semua normal selama tangisnya tidak sampai berjam-jam," terang Febby sambil sesekali menguap. Itu pertanda kalau dia benar-benar mengantuk.
"Syukurlah kalau begitu, mungkin Nathan ingin menghabiskan banyak waktu dengan kalian," sambung Lia.
"Tolong kalian jaga dia sebentar, aku mau tidur sebentar." Febby sudah merebahkan tubuhnya yang tadi terduduk, menarik selimut sampai atas da danya.
"Ya sudah sana tidur, serahkan Nathan pada kami. Kau itu baru punya bayi satu sudah loyo seperti itu." Lia dan Rara terkekeh.
"Apa kalian tidak tau kalau bayiku ada dua," lirih Febby tanpa sadar karena dia hampir terlelap.
"Dia bilang apa tadi Ra?" tanya Lia yang tidak mendengar dengan jelas tapi Rara pun sama dia mengangkat bahunya karena dia juga tidak dengar.
Ya sebenarnya baby Nathan itu termasuk anteng, dia hanya akan menangis kalau lapar. Hanya saja semalam entah kenapa dia rewel dan tak mau lepas dari ibunya. Sepertinya dia mulai mendominasi sang ibu agar lebih perhatian padanya karena selama ini sang suami seperti tidak mau mengalah. Saat baby Nathan menyusu pun Mike akan ikutan.
Terkadang Febby lelah menghadapi sikap suaminya yang kekanak-kanakan. Bagaimana bisa seorang pria dewasa harus cemburu pada putranya sendiri. Tapi Febby cukup mengerti pada suaminya, mungkin karena beberapa waktu yang lama mereka memang tak melakukan hubungan suami-istri.
__ADS_1
Baru sebentar dengkuran halus sudah terdengar, Febby sudah memasuki dunia mimpinya.
"Sepertinya dia benar-benar kelelahan," ujar Rara.
"Iya, lihatlah lingkaran hitam di sekitar matanya saja sudah sangat jelas. Sebaiknya kita jangan mengganggu nya, kita jaga baby Nathan berdua."
Tentu saja dengan senang hati Rara mau menjadi baby Nathan. Hal itu juga baik untuknya belajar kalau anaknya sudah lahir nanti.
Sementara Mike tidak ada di sana karena dia sudah mulai hadir kembali di perusahaan. Walaupun apa yang ia kerjakan tidak seintens dulu, sekarang dia seperti penasehat untuk Revan. Saat Revan bingung dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan sesuatu, Mike akan membantu. Selebihnya Mike akan lebih banyak berdiam di kantor Revan.
"Kamu kenapa Li? Dari tadi aku perhatikan kamu terlihat lesu tidak seperti biasanya? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?' tanya Rara yang juga merasakan kesedihan yang menimpa.
"Tidak apa-apa Ra, jangan khawatir," ujar Lia.
Namun, yang Rara tangkap tidak seperti itu. Raut wajah Lia seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi kalau memang dia tidak mau bercerita, Rara juga tidak akan memaksa.
Mereka berdua asyik menjaga baby Nathan. Senyuman dan tingkah bayi itu selalu menggemaskan. Apalagi pipinya yang gembul dan merah.
Jadi, apakah kesedihan Lia karena masalah anak lagi. Tebak Rara.
Oek oek oek.
Tiba-tiba baby Nathan menangis padahal barusan dia tersenyum pada mereka. Sungguh mood bayi siapa yang bisa menebak.
"Sepertinya dia lapar," ujar Lia yang sedang mencoba menenangkan bayi mungil itu.
"Apa kita bangunkan kak Febby saja, Ra?" ujar Lia lagi.
"Jangan Li. Kita biarkan saja kak Febby tidur sebentar lagi, kita urus baby Nathan berdua." Rara tidak setuju dengan apa yang diucapkan Lia.
"Tapi dia haus Rara, bagaimana kita memberinya asi kalau begitu," bingung Lia yang tidak tau menahu soal bayi.
"Sepertinya kak Febby sudah me merah ASI-nya dan dibekukan. Kita bisa memakai nya, Kita tinggal menghangatkan nya terlebih dahulu sebelum kita berikan pada Nathan," terang Rara yang sudah sedikit tau tentang bagaimana menjadi ibu.
__ADS_1
"Waah kau hebat Ra, kau bahkan sudah tau banyak soal baby," puji Lia.
"Aku hanya tau sedikit dari kelas ibu hamil yang aku ikuti. Aku sedikit belajar di sana," ujar Rara.
Baby Nathan pun kembali tertidur setelah menghabiskan satu kantong asi perah miliknya.
"Akhirnya dia tidur lagi, ternyata sulit juga ya merawat bayi. Kita sama sekali tidak bisa beristirahat dengan tenang karena dia bisa sewaktu-waktu menangis." Lia benar, bahkan sebagian ibu yang baru saja melahirkan harus tetap mengurus rumah, memasak dan mengurus suami juga.
"Iya Li, tidak menyangka kalau akan melelahkan merawat satu bayi kecil. Untung saja di tampan dan menggemaskan jadi kita tetap happy saja walaupun lelah," pujian itu lagi-lagi tersematkan untuk si baby Nathan.
,,,
Tanpa terasa hari sudah siang.
Febby juga sudah bangun sejak tadi. Tidurnya sang nyenyak pagi itu, lumayan untuk mengurangi lingkaran hitam di sekitar matanya.
"Terimakasih ya karena kalian aku jadi bisa tidur nyenyak," ujar Febby yang sedang menyusui baby Nathan.
"Sama-sama, kami juga senang bisa puas bermain dengan Nathan. Apa kak Febby masih mengantuk? lebih baik pakai baby sister saja untuk membantu, bagaimana kalau kau mengantuk saat sedang menggendong Nathan. Bukankah itu sangat berbahaya," saran Rara. Sebagai teman dia tidak tega melihat temannya yang masih sakit merawat bayi seorang diri.
Ya seharusnya mereka sudah bisa meninggalkan rumah sakit itu tapi karena Febby yang masih belum pulih dari lukanya akibat kecelakaan jadilah mereka lama tinggal.
"Iya Ra, nanti aku bicarakan dengan Mike. Oh iya, kenapa dengan Lia, sepertinya dia tidak secerewet biasanya" Fabby juga merasakan hal yang sama ternyata.
"Entahlah kak, aku sudah bertanya tadi dan ia bilang tidak apa-apa, aku tidak bisa mendesaknya kalau dia tidak ingin cerita."
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️
__ADS_1