Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
164. Semoga


__ADS_3

°°°


Setelah proses yang cukup panjang dan hati-hati akhirnya Mike dipindahkan ke kamar sebelah. Selain alasan karena tidak enak pada Revan dan Rara. Sebenarnya Febby juga ingin hanya memiliki waktu berdua saja dengan Mike.


"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku ya Kak. Nanti aku juga akan sering menemani kak Febby," ujar Rara yang sedang membantu Febby mengemasi barang yang tertinggal di kamarnya.


"Iya Ra, kau tenang saja. Aku kan cuma pindah ke sebelah. Kamu mendingan temenin Revan aja, tuh liat. Mukanya ditekuk mulu gara-gara kamu cuekin." Febby menyindir Revan yang sejak tadi sudah cemberut karena istrinya terus membantu Febby berbenah.


"Kak Revan pasti mengerti Kak, apa ada lagi yang mau dibawa. Biar aku yang bawakan, wanita hamil tidak boleh mengangkat yang berat-berat." Rara mengambil kotak kardus yang berisi barang-barang milik Mike dan Febby. Kemudian ia berjalan keluar lebih dulu untuk membawanya ke kamar sebelah. Melewati begitu saja sang suami yang sejak tadi menatap ingin di manja.


"Sayang..." panggil Revan seolah tidak rela istrinya keluar dari ruangan itu.


"Sebentar Kak, aku bantu kak Febby dulu," ujar Rara seraya berlalu tanpa menoleh sedikitpun, membuat Revan menghela nafasnya.


Lucu sekali mereka, Febby terkekeh melihat tingkah sepasang suami istri itu.


Jika dulu mungkin Febby akan marah tapi sekarang dia sudah bisa tertawa melihatnya. Sekarang ia yakin kalau hatinya sudah benar-benar pulih dan terpaut pada laki-laki yang masih terbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Rara wanita yang sangat baik, aku tidak menyangka kalau dia bisa semudah itu memaafkan aku yang sudah sangat menyakiti nya," ujar Febby pada Revan seraya menatap punggung Rara yang semakin lama tak terlihat.


"Dia tidak pernah dendam dengan siapapun, hatinya pun sangat baik. Beruntungnya aku masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami." Revan juga sama dia memandang sang istri yang terlihat kesusahan membawa kardus itu.


"Benar kamu sangat beruntung, jangan sampai suatu hari nanti kamu melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Bahagiakan dia, seperti kamu merasa bahagia akan kehadirannya," lanjut Febby. Entah kenapa, walaupun baru beberapa kali berinteraksi dengan Rara tapi rasanya membuat dia nyaman seperti sedang mengobrol dengan adiknya sendiri.


"Tentu, aku harap kamu juga bisa bahagia dengan Mike. Kamu beruntung bisa bertemu dengannya, kesetiaannya tidak diragukan lagi. Jangan menyia-nyiakan laki-laki sebaik dia," ujar Revan.


"Pasti, hanya dia yang membuat aku merasa dihargai. Oh iya, jadi bagaimana kenapa jadi aku yang lebih dulu mau punya anak. Kalian harus bekerja keras lagi agar bisa segera menyusul ku," ledek Febby, dia sengaja membuat laki-laki itu kesal. Sekaligus untuk sedikit membalas dendam masa lalunya karena sudah memutuskannya dulu. Bukan karena masih suka tapi rasanya masih ada agak sedikit kesal.


"Aku akan berusaha, lihat saja aku akan segera membuat istriku hamil." Revan tidak mau kalah.


"Sudahlah, aku mau menemui Mike dulu, puaskan sekarang? tidak ada yang mengganggu lagi. Lain kali lihat-lihat dulu ada orang lain atau tidak, kalau mau bermesraan," sindir Febby seraya berjalan keluar.

__ADS_1


"Jadi tadi kau melihat kami sedang..."


"Tentu saja lihat, dan kalian berhasil membuat ku iri. Kalau Mike sudah bangun aku mau bermesraan dengannya sampai puas." Febby yang tadi sudah sampai pintu sedikit menoleh dan mengatakan hal itu, setelah itu dia pergi ke ruangannya sendiri.


Berpapasan dengan Rara yang baru keluar dari ruangan dimana Mike dirawat.


"Tadi aku sudah meletakkan kotaknya di dekat meja kak," ujar Rara, saat mereka berhadapan.


"Terimakasih ya, kau sudah sangat banyak membantuku," ujar Febby.


"Sama-sama kak, tidak perlu berterimakasih terus. Kita saudara kan."


"Iya sudah, aku masuk dulu ya. Suamimu juga sudah menunggu, dia kesal kamu cuekin terus," ujar Febby seraya terkekeh geli.


"Biarkan saja kak, dia harus diberi sedikit pelajaran. Aku malu sekali, kak Febby jadi melihat kami sedang melakukan hal yang memalukan," ujar Rara yang masih merasa malu saat mengingat hal itu.


"Aku tidak apa-apa, kenapa mesti malu kalian kan suami istri. Wajarlah dia seperti itu. Sudah berapa lama kalian tidak bertemu, aku pun akan melakukan hal yang sama kalau Mike sudah membuka mata. Sayangnya, dia masih belum ingin bangun. Mungkin dia tidak rindu padaku," ujar Febby seraya memandang Mike dari kejauhan. Entah sampai kapan ia sanggup menahan rasa sesak di dadanya bila melihat Mike masih belum sadar.


"Iya, aku akan mencobanya. Aku masuk dulu." Febby masuk ke dalam ruangan Mike.


Di susul Rara yang kembali ke ruangan suaminya. Dilihatnya sang suami sedang melamun kan sesuatu.


"Kak, apa ada yang sedang kak Revan pikirkan?" tanya Rara.


"Kau sudah kembali, sini duduklah disini." Revan menepuk sisinya yang kosong agar Rara duduk di sebelahnya.


Rara pun naik ke ranjang dan suaminya langsung merentangkan tangan kanannya, agar sang istri bersandar di dadanya.


"Ada apa Kak? Apa yang mengganggu pikiran kak Revan?"


"Aku memikirkan Mike, aku berhutang nyawa padanya. Seharusnya aku yang ada di posisinya tapi dia menyelamatkan ku. Bagaimana kalau dia tidak bangun lagi," ujar Revan seraya memeluk sang istri, menumpahkan beban pikirannya.

__ADS_1


"Kita berdoa saja Kak, agar assisten Mike bisa bertahan. Tapi aku yakin dia punya keinginan yang kuat untuk kembali, melihat bagaimana kedekatan nya dengan kak Febby dan lagi ada calon anaknya yang menunggu juga."


"Aku harap juga begitu, kasihan Febby dan anak mereka kalau sampai Mike tidak bangun. Aku tidak menyangka kalau Mike sudah lebih dulu berhasil membuat bayi," Ujar Revan seraya mengusap kepala istrinya.


"Aminn Kak, semoga assisten Mike bisa bangun dan kembali sama-sama dengan kak Febby lagi." Rara juga memeluk suaminya pelan karena takut akan menyakiti tubuh Revan yang belum pulih sepenuhnya.


"Apa kak Revan mau makan?" tanya Rara.


"Aku ingin makan tapi bukan makanan yang biasa," jawab Revan.


"Kak Revan, mau makan apa? katakan saja nanti aku buatkan." Rara menjauhkan tubuhnya dan menatap sang suami.


"Percuma karena aku belum bisa memakannya, nanti kalau tubuhku sudah pulih aku akan sepuasnya menghabiskan makanan itu."


Perkataan Revan yang ambigu membuat Rara bingung dan bertanya-tanya. Jenis makanan apa yang di makan harus menunggu sembuh. Karena Rara tau, sang suami terluka karena kecelakaan jadi tidak ada pantangan makanan.


"Makanan apa itu Kak, nanti kita tanya dokter apa boleh memakannya atau tidak?" Rara memberi saran dengan polosnya tanpa tau ada maksud terselubung dari kalimat yang diucapkan suaminya.


to be continue...


°°°


Jadi baik, lebih menyenangkan kan, Feb.


Aku jadi suka karakter Febby deh sekarang, bagaimana dengan kalian??? Mana suaranya??


Majalengka digoyang... Asyyyiiikkk


Like komen dan bintang lima


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2