
°°°
Dokter sedang memeriksa kondisi Revan saat ini, dengan setia Rara menemani sang suami. Dokter menekan beberapa bagian tubuh Revan untuk memastikan kondisinya.
"Apa sakit Tuan?" tanya dokter itu seraya menekan bagian kaki Revan yang masih susah untuk digerakkan.
Revan pun mengangguk dan meringis menahan sakit.
"Di bagian kaki tidak ada luka luar dan tampak baik-baik saja, sepertinya kita harus memeriksanya lebih lanjut untuk mengetahui apa ada kerusakan di bagian dalam." Dokter itu menjelaskan apa saja yang harus dilakukan selanjutnya, mulai dari melakukan CT scan lalu ada kemungkinan melakukan operasi lagi bila ada tulang yang retak.
Revan dan Rara mendengarkan dengan seksama, keduanya sama-sama cemas. Walaupun itu bukan operasi besar tapi tetap saja namanya operasi pasti membuat siapa saja yang mendengarnya jadi takut.
"Begitu saja Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Nanti akan ada perawat yang membantu anda untuk melakukan pemeriksaan. Setelah hasilnya keluar baru saya bisa menentukan langkah apa selanjutnya untuk kesembuhan Tuan." Dokter dan beberapa perawat di belakangnya pun undur diri.
"Maaf Dok, ada yang mau suami saya tanyakan. Bisa tunggu sebentar," ujar Rara mencegat dokter yang hendak beranjak dari sana.
"Tentu Nona, silahkan jika ada yang ingin anda tanyakan," ujar dokter mempersilahkan.
Sementara Revan bingung karena merasa tidak punya pertanyaan seperti yang dikatakan sang istri, dia pun menaikan alisnya.
"Kak, cepat kau tanyakan pada dokter," ujar Rara berbicara pada suaminya.
"Tanya apa sayang?" Revan menyerngitkan dahinya karena tidak merasa mempunyai pertanyaan untuk dokter.
"Itu kak, makanan yang tidak bisa di makan Kak Revan saat ini itu coba tanya pada dokter. Mungkin saja dokter mengijinkan," ujar Rara tanpa tau apa sebenarnya makanan itu.
Sementara Revan tersenyum canggung pada dokter dan perawat yang sedang menatapnya. Menunggu pertanyaan yang akan dia ucapkan.
Sayang, kenapa kau harus mengatakan hal itu. Apa yang harus aku tanyakan sekarang. Bingung Revan, dia harus berpikir cepat.
"Kak ayo cepat tanyakan." Rara mendesak agar Revan segera menanyakannya. Tidak tau kah dia kalau sang suami sedang kebingungan sedang mencari kata-kata yang lain untuk ditanyakan ke dokter karena makanan yang tadi ia maksud bukanlah makanan sungguhan melainkan sang istri.
"Emm... begini dok. Aku ingin makan seafood, apa tidak masalah?" tanya Revan, menemukan alasan.
"Tidak masalah tuan, anda bisa memakan apa saja karena tidak ada yang harus anda hindari," terang dokter.
__ADS_1
"Baiklah Dok, itu saja. Terimakasih..." Revan bernafas lega.
"Sama-sama Tuan, saya permisi dulu." Dokter itu membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya berjalan keluar meninggalkan sepasang suami istri itu di ruangan itu.
"Kakak, ingin makan apa? Kepiting, udang, cumi atau ikan?" tanya Rara,, setelah mendengar penjelasan dokter dia jadi antusias mau memasak untuk sang suami.
"Apa kau benar-benar tidak tau apa yang aku ingin makan?" tanya Revan dengan tersenyum penuh arti dan menatap istrinya lekat.
Tiba-tiba Rara merasa ruangan itu seperti mencekam, penuh dengan aura menakutkan yang siap menelannya.
"Memang apa Kak, bukannya tadi kak Revan bilang mau makan seafood. Apa bukan itu yang kakak inginkan?" tanya Rara yang sedikit memundurkan tubuhnya tapi sang suami sudah lebih dulu menariknya hingga tanpa jarak.
"Yang aku ingin makan adalah kamu, kalau saja aku sudah pulih pasti kau sudah habis tidak akan aku biarkan keluar dari kamar." Revan menatap istrinya dengan jarak yang sangat dekat.
"Jadi bukan seafood tapi aku?" tanya Rara membuat Revan gemas dan menggigit hidung kecilnya.
"Awww... kak Revan," gaduh Febby seraya mengusap hidungnya.
"Kamu itu bikin aku gemas," ujar Revan tanpa merasa bersalah.
,,,
Di ruangan sebelah.
Febby sama sekali tidak beranjak dari samping Mike kecuali ke kamar mandi dan beristirahat sebentar di sofa. Setelah itu wanita itu lebih banyak menghabiskan waktunya di samping Mike untuk mengajaknya mengobrol dan sesekali membacakan buku. Bahkan yang membersihkan tubuh Mike setiap harinya adalah Febby sendiri.
Febby sama sekali tidak mengeluh apa lagi berniat meninggalkan Mike dalam keadaan seperti itu. Sama sekali tidak ada dalam pikiran nya.
"Sampai kapan kamu akan tidur Miky, apa kau tidak rindu pada kami. Lihatlah, perutku sudah sedikit membuncit sekarang. Anak kita tumbuh dengan baik." Febby membimbing tangan Mike dan menempelkannya ke atas perutnya. Rasanya tidak ingin menangis tapi Apa daya bila rasa haru, rasa rindu dan lelah membuat air matanya mengalir.
"Apa kamu tidak merindukan kami, apa kami tidak berarti untukmu sampai kamu enggan membuka matamu." Febby terisak, tidak tau lagi harus bagaimana.
Sekuat apapun hatinya, sekuat apapun pertahanan nya Febby tetaplah seorang wanita yang butuh seorang pria untuk ada disampingnya.
"Bangunlah, jangan membuat kami kesepian lagi. Kami menunggu mu," ujar Febby. Dia mendekat dan menciumi wajah Mike, memejamkan matanya mengalirkan segala perasaannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Seseorang mengetuk kamar rawat Mike, lalu nyelonong masuk begitu saja.
"Febby... sayang...," panggilnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sementara Febby yang mendengar suara itu justru sama sekali tidak mengharapkan orang itu hadir. Baginya sudah terlambat, saat dulu ia membutuhkan wanita itu dimana keberadaannya.
"Untuk apa mamah kesini? Apa mamah sudah bosan dengan liburannya? atau mamah sudah kehabisan uang," ketus Febby pada mamahnya.
"Maafkan mamah sayang, mamah sebenarnya sudah ingin pulang dari lama tapi tiba-tiba paspor mamah hilang dan harus mengurusnya lebih dulu," ujar mamah Wina beralasan.
Mungkin jika dulu Febby akan percaya pada ucapan mamahnya. Namun, sekarang tidak lagi. Sudah lelah dia menunggu dan mengharapkan mamahnya hadir untuk sekedar memeluknya.
"Lebih baik mamah pergi berlibur lagi saja, untuk apa kemari," ujar Febby, seraya berjalan ke arah ranjang.
"Sayang, kok kamu ngomongnya begitu si sama mamah. Mamah kangen banget loh sama kamu." Mamah Wina berjalan mendekati putrinya.
"Kangen... heh..." Febby tersenyum miris. "Sejak kapan mamah kangen, apa sejak tau kalau sekarang aku sedang dekat dengan pemilik kartu black card yang telah mamah pakai." Febby menyindir mamahnya. Entah apa benar Febby lahir dari rahimnya, tapi kenapa wanita yang ia panggil mamah itu sama sekali tidak seperti ibu-ibu di luar sana yang menyayangi putrinya.
"Tidak dong, mamah benar-benar kangen sama putri mamah." Mamah Wina memeluk Febby. Bila anak lain merasa tenang dan hangat bila di peluk ibunya maka Febby berbeda. Sama sekali tidak ada kehangatan di dalamnya.
to be continue...
°°°
Ada satu lagi nih yang belum sadar🙈🙈
Ada saran bagaimana caranya buat ibu-ibu satu itu sadar.
Apa?? Aku nggak denger, mana suaranya 💃💃💃
Like komen dan bintang lima 😍😍
❤️❤️❤️
__ADS_1