
°°°
Sebenarnya tadi Rara kembali ke restoran yang tadi ia datangi karena hujannya semakin lebat. Dia berteduh di sana agar tidak terlalu dingin terkena terpaan angin yang kencang.
Dia juga memesan tes su su untuk menghangatkan tubuhnya karena bajunya sedikit basah saat dia menerobos hujan tadi.
Saat Rara sedang menyesap minumannya tiba-tiba matanya tak sengaja melihat sosok pria yang sangat ia kenal.
Kak Revan... iya itu kak Revan. Pasti dia mencari ku.
Revan terlihat sedang kebingungan, mencari keberadaan sang istri di bawah guyuran hujan. Walaupun dia sudah memakai payung tapi bajunya tetap basah karena hujannya memang sangat lebat.
Rara, dimana kamu. Maaf aku datang terlambat, kamu pasti ketakutan saat ada petir tadi.
Sementara Rara sudah keluar dari restoran itu agar sang suami bisa melihatnya. Dia melambaikan tangan pada sang suami dan juga berteriak memanggilnya.
"Kak Revan... aku di sini," teriaknya berulang kali sampai sang suami akhirnya mendengar suaranya.
"Rara...," senang Revan saat melihat istrinya. Dia pun berlari menghampiri wanita yang ia cintai, tidak peduli lagi pada air hujan itu. Revan menjatuhkan payungnya dan membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya.
Rara membelalak saat melihat suaminya berlari menghampiri dirinya tanpa menggunakan payungnya.
"Ya ampun kak Revan, bagaimana kalau dia sakit."
Rara terlihat khawatir.
Sampai Revan di depan sang istri, dia membawa begitu saja wanita itu dalam pelukannya. Tidak peduli dengan pakaiannya yang basah dan banyak orang yang melihat. Dia hanya butuh pelukan saat ini.
"Kak... mereka liatin kita," malu Rara pada beberapa pasang mata yang ada di sana.
"Biarkan saja, aku sedang memeluk istriku sendiri apa mereka bisa melarangku," ujar Revan membuat Rara melongo.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil dengan baju yang sama-sama basah akibat ulah Revan tentunya.
"Maaf sayang, aku tadi terlalu senang melihat mu jadi langsung memeluk mu begitu saja." Revan tersenyum malu karena dirinya sudah menyebabkan pakaian sang istri ikut basah kuyup.
"Tidak apa-apa Kak, lebih baik kita pulang saja sebelum semakin dingin," ujar Rara yang sudah mulai menggigil.
Revan pun merasa sangat bersalah melihat istrinya kedinginan dan kalau mereka harus pulang lalu melewati jalanan yang macet rasanya akan terlalu lama.
"Sebaiknya kita cari penginapan yang dekat dari sini untuk sementara sampai hujan reda. Akan lama kalau pulang, kamu akan kedinginan di jalan."
__ADS_1
Rara hanya mengangguk setuju karena benar kalau saat ini kulit di jari-jarinya saja sudah berkerut.
Sampai di hotel terdekat. Mereka langsung memesan kamar.
"Sayang, aku siapkan air hangat dulu untuk kita mandi," ujar Revan.
Ehh kenapa kita?
Beberapa saat kemudian Revan sudah menyiapkan air hangat dan mengajak sang istri untuk segera membersihkan diri sebelum semakin dingin.
"Kak, kenapa bareng gantian saja?" bingung Rara karena sang suami malah ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Akan lama kalau gantian, aku juga sudah dingin," ujarnya seraya melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
Rara pasrah saat sang suami sudah menanggalkan pakaiannya dan kini membantunya melepaskan pakaian basahnya.
Mereka duduk di dalam bathtub dengan Revan berada di belakang istrinya. Janjinya tadi memang cuma mandi tapi kini Rara merasakan tangan suaminya sudah kemana-mana.
"Kak...," lenguh Rara saat kedua bukitnya di mainkan dari belakang.
"Pegang saja tidak lebih," ujar Revan tapi Rara sama sekali tidak percaya, suaranya saja sudah memberat.
Memang tidak bisa di pegang ucapannya, kini tangan itu sudah semakin gencar memainkan pucuknya PING favoritnya. Lidahnya juga menyusuri tengkuk istrinya membuat Rara semakin membusungkan da danya dan menengadahkan kepalanya merasakan sensasi di dalam bathtub.
"Keluarkan saja Sayang, suaramu terdengar indah."
Revan membalikan tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya lalu memangku nya dan sekali percobaan miliknya sudah terbenam sempurna memenuhi milik sang istri.
Kamar mandi itu sudah dipenuhi suara indah dari dua insan yang saling mencinta. Air di dalam bathtub juga sudah tinggal separuh akibat gerakan keduanya.
Revan tidak ada puasnya melahap bukit yang bergoyang di depan wajahnya saat sang istri bergerak. Rara sudah semakin lihai dan membuat Revan puas.
"Sayang, aku akan keluar sebentar lagi."
"Aahhh..."
Rara menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Percintaan tadi membuatnya lelah karena dia yang lebih banyak bergerak.
Akhirnya Revan dengan telaten membantu membersihkan tubuh sang istri yang kelelahan. Selesai mandi dia juga memakaikan bathrobe dan menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.
"Kak Revan bohong, katanya cuma mandi. Kenapa jadi bikin bayi lagi," kesal Rara, walaupun tadi dia menikmatinya tapi dia merasa tertipu oleh suaminya.
__ADS_1
"Kita kan memang harus sering membuat bayi, sayang. Sekalian mencoba di tempat baru," ujar Revan dengan tersenyum cerah. "Kita juga jadi hangat sekarang," imbuhnya lagi.
"Dasar," Rara memukul pelan dada sang suami.
Mereka berbaring setelah kelelahan karena ternyata di kamar mandi itu tidak cukup bagi Revan, tadi dia kembali menyerang istrinya hingga kelelahan. Ternyata di tempat yang baru memang sangat efektif untuk membangkitkan gai rah pasangan.
"Apa kau lelah?" tanya Revan seraya membelai rambut sang istri.
"Menurut kakak," jawab Rara seraya mencebikkan bibirnya.
Membuat Revan gemas dan mem agutnya. Rara langsung mendorong dada bidang suaminya agar menjauh, dia tidak sanggup kalau harus kembali ber cin ta.
"Kak, aku lelah...," rengek Rara, saat merasakan milik suaminya kembali on.
"Aku tau sayang... aku tidak akan memakan mu lagi sekarang. Aku juga lapar," ujar Revan seraya membetulkan selimut agar bagian tubuh istrinya tertutup rapat, kalau tidak dia pasti tidak tahan untuk menyentuhnya.
"Aku juga lapar kak, tapi pakaian kita masih basah. Bagaimana kita keluar?"
"Pesan dari sini saja, sekalian kita pesan pakaian ganti. Baju kita tidak mungkin bisa kering dengan cepat," ujar Revan ,dia pun mulai memesan makanan dan pakaian untuk mereka ganti.
"Tunggu Kak, bagaimana dengan pakaian da lamny. Apa mereka tau ukurannya," bingung Rara.
"Aku tau Sayang, nanti aku bilang pada mereka dan menyuruh pelayan wanita yang membelikan untukmu."
Syukurlah, Rara lega mendengar nya.
Beberapa saat kemudian, Rara yang kelelahan pun sudah terlelap tanpa lebih dulu memakan makanannya.
"Sayang, ayo bangun. Kau sudah tidur lama dan belum makan sejak tadi." Tadi Revan membiarkan istrinya beristirahat tapi itu sudah terlalu lama dan wanita itu belum makan.
Rara menggeliat saat tidurnya terusik dan gerakan itu justru membuat selimut yang tadi menutupi tubuhnya tertarik ke bawah dan memperlihatkan kedua bukitnya.
Revan harus meneguk ludah, saat melihat itu. Kalau tidak ingat sang istri belum makan pasti dia sudah menyambar nya.
to be continue...
°°°
Ujan-ujan memang waktu yang pas untuk saling menghangatkan.🤣
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Sehat selalu pembacaku tersayang ❤️