
...Sudah hari Senin aja nih, yuk minta sumbangan vote nya.(Emoticon memelas)...
...Wo ia ni...
°°°
"Baiklah jika itu mau mu, aku tidak akan lagi mengganggu."
Suara Sakka memecahkan keheningan, ia tidak mengerti jalan pikiran gadis itu tapi saat ini bersikap keras kepala bukan waktu yang tepat. Akhirnya ia mengalah, salahnya memang, dia sendiri yang memberikan image buruk tentang dirinya.
"Tapi sebelumnya ada yang ingin aku katakan. Tindakanku selama ini terhadapmu, itu murni karena aku ingin dekat denganmu. Kamu wanita pertama yang mampu membuat aku tertarik, mungkin awalnya hanya rasa penasaran tapi belakangan aku sadar jika perasaanku lebih dari sekedar penasaran."
Sakka melembutkan suaranya, tidak ingin gadis itu merasa takut lagi padanya. Ia juga perlu meluruskan apa maksud sebenarnya ia terus mengganggunya.
"Jangan menangis lagi, maafkan aku jika kehadiranku membuatmu terganggu. Tapi aku hanya ingin dekat denganmu, sungguh tidak ada maksud lain. Kamu memang berbeda dari para wanita yang naik ke ranjang ku, kamu istimewa. Dan aku yang tidak pantas berada di dekatmu."
Dilihatnya wajah yang sudah berlinang air mata itu, ingin rasanya Sakka membawa gadis itu dalam pelukannya. Tapi itu tidak mungkin, bisa saja justru membuatnya semakin takut.
"Entah kamu mau percaya atau tidak, tapi semenjak hari itu aku tidak lagi menghabiskan waktu bersama wanita lagi. Aku banyak berpikir, bahwa hidupku selama ini salah dan kamulah yang telah membuatku sadar."
Sakka seperti ingin mengatakan semuanya, ia berjanji setelah ini tidak lagi mengganggunya. Ia ingin mengungkapkan perasaannya sebelum esok hari tidak ada lagi kesempatan.
"Terimakasih karena sudah membuat aku sadar jika wanita itu seharusnya di hargai dan dicintai. Aku berjanji ini terakhir kalinya aku bicara padamu. Aku harap kamu bahagia dan menemukan pria yang baik, tidak brengseek seperti aku."
Dan ya... Akhirnya Sakka membalikkan tubuhnya. Berada disana lama-lama hanya membuat ia ingin memeluk gadis itu.
Mungkin ini karma karena aku terlalu banyak mempermainkan perempuan. Saat aku benar-benar menginginkan wanita, malah dia tidak menginginkan ku dan parahnya menyuruhku menjauhinya.
Monolognya dalam hati, seraya berjalan semakin jauh. Meninggalkan gadis yang menatapnya dengan pandangan kosong.
Padahal Sakka sudah menyiapkan makan siang yang romantis untuk meminta maaf secara benar. Tapi mau bagaimana lagi, menculiknya secara paksa pasti malah membuat gadis itu murka.
"Hallo, maaf aku mau membatalkan reservasi siang ini. Ya kirim saja jumlah ganti ruginya, nanti aku akan kirimkan." Sakka menelpon restoran, tempat yang sudah ia siapkan untuk memberi kejutan.
Belum saatnya mungkin Sakka mendapatkan gadis impiannya. Biarlah dia belajar dan berbenah diri sampai nanti tiba saat yang tepat.
,,,
Di sisi lain, Lia masih menatap punggung Sakka yang semakin menjauh dengan perasaan yang tidak ia mengerti.
Bukankah seharusnya ia senang dan lega karena permintaannya terwujud. Tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya, seolah ada sesuatu yang ikut pergi dari dirinya.
__ADS_1
Apa yang aku pikirkan sebenarnya. Bingung Lia.
Tidak, tidak, ini tidak benar. Tidak mungkin aku mempunyai perasaan pada pria seperti itu.
Pergi cepat pergi kamu perasaan!!
Lia berusaha menyakinkan hatinya jika tidak ada perasaan lebih pada Sakka. Ia terus menggelengkan kepalanya.
"Ini pasti karena ucapan pria itu tadi, aku yakin dia hanya omong kosong. Pasti dia hanya penasaran lalu setelah berhasil mendapatkan ku, dia akan membuangku begitu saja."
Tapi berbeda dengan hatinya, dalam lubuk hatinya justru ia percaya dengan semua yang dikatakan pria itu.
Apakah perasaan yang katanya benci telah berubah menjadi sesuatu yang lain tanpa Lia sadari. Kita memang tidak bisa mencegah datangnya cinta, dia bisa datang tiba-tiba tanpa permisi.
"Sudahlah, bagus jika pria itu menjauh. Aku jadi bisa tenang."
Lia seperti sedang berperang dengan perasaannya sendiri. Mencoba memikirkan hal yang bertentangan.
"Lebih baik aku ke rumah Rara saja, dia pasti sudah menunggu. Gara-gara pria itu aku jadi melupakan tentang janji ke tempat temanku."
Lia pun segera menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Berharap temannya tidak curiga nanti.
Mengikuti petunjuk arah yang Rara kirim, akhirnya Lia sampai juga di titik tujuannya.
Tanpa gadis itu sadari sejak tadi ada yang mengikutinya dari belakang. Sakka mungkin berkata akan menjauh darinya, tapi dia tetap ingin diam-diam mengawasi gerak-gerik gadis itu.
Setidaknya memastikan dia baik-baik saja, sudah membuatnya tenang.
Setelah memastikan gadis itu memasuki gerbang rumah itu barulah Sakka menjalankan mobilnya. Walaupun ia penasaran rumah siapa yang gadis itu datangi tapi dia tidak ingin ikut campur. Karena setau dia Lia sedang tidak dekat dengan pria manapun.
Lia sudah memasuki halaman rumah besar bak istana itu. Namun sebelumnya ia sudah bertanya pada security yang ada di pos penjaga.
Tidak heran jika rumah yang temannya tempati sebesar itu, karena Rara bilang jika ia tinggal di rumah sepupunya yang merupakan cucu dari pengusaha ternama.
"Wahhh besar sekali rumahnya, apa tidak apa-apa aku main kesini." Ragu Lia, tiba-tiba ia merasa minder, insecure akan dirinya sendiri.
Sama seperti perasaannya saat Sakka sedang berusaha mendekatinya.
Aa... kenapa aku memikirkan orang itu lagi.
Pekik Lia, tidak terima saat pikirannya lagi-lagi mengingat pria itu.
__ADS_1
Tidak mau terus berpikiran yang tidak-tidak, Lia pun memasuki rumah itu.
Seperti perintah Rara, bi Mur menyambut kedatangan teman dari majikannya itu.
"Selamat datang Nona, silahkan masuk. Nona Rara sudah menunggu anda."
Lia sedikit terkejut dengan perlakuan sopan ibu-ibu pelayan itu, ia merasa sama seperti mereka dan tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Terimakasih Bi, panggil saya Lia saja." Ujar Lia.
Bi Mur tersenyum mendengarnya, ternyata temannya dari nona Rara sama baiknya dengan sang nona.
"Silahkan nona Lia, saya akan mengantarkan anda menemui nona Rara." Bi Mur menunjukkan jalan pada Lia menuju kamar Rara.
Lia merasa tidak enak karena pelayan itu masih memanggilnya nona, lalu ia pun mengikuti kemana perginya pelayan yang sudah berjalan duluan.
Semakin masuk ke dalam, makin membuat Lia tercengang melihat kemewahan rumah itu. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit, harganya pasti tidaklah murah. Belum lagi lantai marmer dan lukisan mahal yang menghiasi dinding.
Lia merasa masuk dalam dunia putri di negeri dongeng, iya dia merasa menjadi putri dadakan. Menaiki tangga menggunakan gaun putih panjang, dengan mahkota di atas kepalanya. Jalan dengan anggun, lalu para pelayan membungkuk saat ia melewatinya.
Bug
Aww...
Lia memegangi dahinya.
"Maaf Nona, apa anda tidak apa-apa?" tanya bi Mur merasa bersalah.
Tiba-tiba Lia sadar jika tadi ia baru saja menghayal. Malu sekali saat ia tiba-tiba menabrak punggung bi Mur.
"Eh... tidak apa-apa Bi, aku yang minta maaf karena tidak fokus." Lia tersenyum malu-malu.
to be continue...
°°°
...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....
...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....
...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....
__ADS_1
...Sehat selalu pembacaku tersayang...