Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
91. Pencuri Cantik


__ADS_3

°°°


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Revan langsung pulang ke rumah. Dia sampai di rumah tengah malam.


Keadaan rumahnya sunyi sepi saat ia pulang, wajar saja di tengah malam begitu orang-orang pasti sedang nyenyak-nyenyaknya tertidur.


Tidak mau mengganggu tidur semua orang, Revan pun menggunakan kunci cadangan untuk masuk ke rumah. Walaupun pelayan pasti akan membukakan pintu untuknya tapi ia tidak ingin merepotkan. Karena pelayan juga manusia, yang pastinya butuh istirahat.


Revan masuk perlahan bahkan sangat pelan. Tidak mau menimbulkan suara apapun.


Tap, tap, tap.


Cahaya yang minim membuat Revan berjalan dengan hati-hati agar tidak menabrak perabotan rumah yang ada di sana. Karena memang sudah malam sudah pasti lampu utama dimatikan hanya tersisa cahaya remang dari lampu kecil.


Revan terus melangkahkan kakinya menuju tangga.


Klotak!


Langkah Revan pun terhenti tak kala mendengar suara yang berasal dari dapur. Ia melihat ke arah dapur itu dan lampunya lebih terang dari tempat yang lain, ia tebak disana pasti sedang ada orang.


Entah kenapa Revan tertarik untuk mengecek dapur rumahnya yang tadi ada suara. Takut-takut ada pencuri masuk ke rumahnya, sebagai lelaki tentu ia harus melindungi keluarganya dari bahaya.


Apa mungkin pelayan, tapi kalau sudah lewat jam sembilan malam para pelayan kan tidak boleh berlalu lalang seenaknya di rumah utama. Lalu siapa yang ada di dapur, aku harus melihat. Pikir Revan.


Kali ini Revan bahkan berusaha tidak mengeluarkan suara saat berjalan. Tangan kanannya sudah memegang tongkat bisbol, lengan kemeja nya pun sudah ia gulung sampai ke siku. Ia siap menghadapi orang yang ia duga adalah perampok.


Dengan hati-hati Revan menyembulkan kepalanya, mengintip apakah benar ada pencuri. Dan jika benar tentu ia harus tau mereka hanya sendiri atau banyak, kalau mereka ada banyak Revan sudah siap untuk memencet tombol keamanan.


Dilihatnya orang itu sedang berada di depan kulkas dengan pintu terbuka, sehingga Revan tidak bisa melihat jelas orang itu.


"Untuk apa orang itu ada di depan kulkas, apa mau mencuri makanan? Tapi untuk apa mencuri makanan disini, dia bisa ke supermarket yang jelas banyak makanan disana." Heran Revan.


Setelah Revan melihat sekeliling sepertinya orang itu hanya sendiri, jadi ia yakin bisa menghadapi orang itu sendiri.


Kau berani mencuri di rumahku, jangan salahkan aku kalau kau keluar dari sini sudah tidak utuh seperti saat masuk. Revan menyeringai.


Pelan-pelan Revan mendekati orang itu yang masih setia berada di depan kulkas. Namun, setelah melihat lebih dekat Revan merasa ada yang aneh dengan orang itu.


"Dia perempuan," gumamnya.


Dan semakin lebih dekat lagi, Revan merasa mengenali sosok perempuan itu yang tidak asing baginya.

__ADS_1


Revan terus mendekat hingga perempuan itu menutup pintu kulkas dan berbalik.


"Aaa...." Keduanya sama-sama berteriak.


Ternyata itu Rara yang sedang minum, dia merasa haus dan kehabisan stok minuman di kamarnya.


Rara yang tiba-tiba melihat ada orang dibelakangnya tentu terkejut, pasalnya sejak tadi ia hanya sendiri disana. Ia sontak memekik seraya menutupi matanya.


Sementara Revan yang menyadari jika perempuan itu adalah istrinya pun tersenyum lega. Lalu ia melihat istrinya yang nampak ketakutan.


Kalau pencurinya secantik ini aku akan membiarkannya mencuri sepuasnya. Tawa Revan dalam hatinya.


"Kenapa kau ada di dapur di tengah malam?" tanya Revan.


Rara yang mendengar suara suaminya pun membuka tangannya dan sedikit mengintip.


"Kak Revan..., aku kira hantu." Dada Rara yang sempat berdegup kencang akhirnya lega juga setelah melihat ternyata yang ada di depannya ada suaminya.


"Apa ada hantu setampan suamimu," ujar Revan seraya menatap mata istrinya.


"Tentu saja tidak ada Kak," Rara tersenyum malu.


"Aku haus Kak, minum di kamar habis makanya aku turun ambil minum." Jelas Rara.


Revan menatap lekat wajah istrinya, "Kenapa kau belum tidur?"


"Ha... itu tadi aku sudah tidur Kak lalu terbangun," ujar Rara beralasan, sebenarnya dia sengaja menunggu aku kepulangan suaminya tapi ia tidak berani mengatakannya.


"Benarkah?" Revan mendekatkan wajahnya.


Rara pun memundurkan tubuhnya, karena suaminya semakin mendekat.


"Be... benar Kak," jawab Rara seraya menundukkan kepalanya. Wajah Revan yang semakin dekat membuatnya gugup.


"Kau sedang tidak berbohong," tanya Revan, dia terus bergerak mendekat hingga punggung Rara menabrak lemari pendingin di belakangnya.


Revan pun mengungkung istrinya dengan kedua tangannya, wajah istrinya yang memerah sangat kontras di bawah cahaya lampu.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur lebih dulu, lalu kenapa menunggu aku pulang."


"Itu karena aku merasa tidak tenang jika kak Revan belum pulang," Rara jujur pada akhirnya.

__ADS_1


Revan meraih dagu istrinya dan mengangkatnya hingga wajah mereka saling bertemu. Hal itu membuat Rara berdebar kencang, saat menatap mata suaminya.


Revan yang awalnya hanya mau membuat istrinya merona pun malah terpesona pada wajah cantik itu. Apalagi bibir Rara yang imut dan menggoda. Jika lebih lama dalam posisi seperti itu pasti ia tidak akan tahan untuk tidak menempelkan bibirnya.


"Apa Kak Revan mau menciumku?" pikir Rara. Jantungnya sudah ingin melompat dari tempatnya. Apalagi jarak mereka yang sudah sangat dekat sampai hangatnya hembusan nafas Revan pun terasa di kulit wajahnya.


Rara menutup matanya, saat melihat suaminya semakin bergerak mendekat.


Revan memang benar mendekat tapi ia tidak jadi mendaratkan kecupan di bibir istrinya, meski ia tau istrinya sudah mengijinkan. Dengan memejamkan matanya Revan yakin jika istrinya tidak masalah jika ia menciumnya.


Namun, kerja seharian dengan pakaian yang sudah penuh keringat dan bau membuatnya tidak ingin sang istri terkena kuman yang ia bawa. Hingga Revan pun akhirnya membuka pintu lemari pendingin dan mengambil minuman disana.


Sementara Rara yang tidak merasakan apa-apa pun kembali membuka matanya.


"Ternyata kak Revan tidak menciumku, malu sekali aku. Kenapa juga tadi aku menutup mata, kak Revan pasti berpikir aku menunggu untuk dicium." Rara benar-benar malu jadinya.


"Apa kak Revan sudah makan?" tanya Rara untuk mengurangi rasa malunya.


"Sudah di kantor," jawab Revan, setelah itu ia meminum air mineral yang tadi ia ambil.


Glek, glek.


Pemandangan itu sangat menarik untuk Rara lihat, bagaimana jakun sang suami naik turun saat air yang ia minum masuk ke tenggorokan.


Lagi-lagi entah keberanian dari mana tangan Rara bergerak menyentuh sesuatu yang tadi menarik perhatiannya.


"Ini apa, kenapa bisa seperti ini. Sangat unik dan menarik, lucu juga." pikir Rara dengan polosnya, ia meraba-raba benda kecil yang tadi baik turun itu.


Revan...


to be continue...


°°°


...Yuk tinggalkan jejak. Jangan lupa favoritkan juga. Komenin author apa saja yang kalian mau....


...Salam goyang jempol dari author halu yang hobinya rebahan....


...Like, komen, bintang lima jangan lupa yaa.....


...Sehat selalu pembacaku tersayang...

__ADS_1


__ADS_2