
°°°
Sebenarnya Rara tidak pernah membayangkan bantuan seperti itu yang dibutuhkan suaminya tapi mau menolak juga kasihan melihat wajah suaminya yang penuh harap.
Beginilah sekarang, Revan duduk di tepi bathtub sementara istrinya yang berjongkok di depannya.
Revan menggenggam rambut Rara dan menuntun nya agar bergerak lebih cepat dibawahnya, sementara tangan satunya juga tak tinggal diam, ia gunakan untuk bermain buah mangga istrinya yang saat ini sudah terbuka.
"Aahhh... sayang... aku sudah tidak tahan...."
Revan meng*erang saat adik kecilnya semakin mengeras, permainan istrinya benar-benar membuat nya penuh kenik*matan. Padahal ini pertama kalinya bagi Rara melakukan hal seperti itu tapi sekali Revan mengajarkan ia langsung mengerti.
"Lebih cepat sayang... Aahhh...."
Buru-buru Revan mencabut adik kecilnya dari mulut Rara yang hangat. Dia berhasil menuntaskan has*ratnya dengan cara yang lain malam ini.
Wajah sumringah langsung terpancar di raut wajah Revan yang berhasil melakukan pelepasan setelah sekian lama menganggur.
"Terimakasih sayang, kau melakukannya dengan sangat baik. Aku mencintaimu...." Revan mengecupi wajah istrinya yang tampak kelelahan dan membuat laki-laki itu jadi merasa bersalah karena dia tidak dapat memberikan hal yang sama pada istrinya.
"Apa kau lelah?" tanya Revan seraya membelai rambut sang istri.
"Sedikit kak, sekarang kakak mandi biar aku bantu." Rara hendak membantu suaminya mandi tapi Revan menahannya. Laki-laki itu nampaknya masih punya rasa kasihan juga, dia tidak tega membiarkan istrinya yang kelelahan untuk membantunya mandi.
"Tidak sayang, biar aku sendiri saja. Kau juga basah, sebaiknya kau mandi dulu. Jangan sampai kau sakit," ujar Revan, dia juga mencegah terjadinya hal seperti tadi kalau sang istri menyentuh bagian sensitifnya.
"Tapi kak... bagaimana dengan kakimu," lirih Rara yang tidak tega membiarkan suaminya kesulitan saat mandi. Kalau hanya membantu mandi dia masih bisa rasanya.
"Tidak apa-apa, aku bisa mengatasi nya." Revan mengusap pipi sang istri, memberikan tatapan menyakinkan agar sang istri percaya.
"Baiklah kalau begitu aku akan mandi di sana, biar kakak yang di sini." Rara menunjuk bilik kaca bening untuk dirinya dan bathtub untuk mandi suaminya.
Glek
Revan harus bersusah payah menelan ludahnya berkali-kali, saat sang istri mandi dihadapannya. Di dalam bilik kaca bening yang ada disana, tentu tubuh molek sang istri sangat jelas terlihat. Meski kacanya tertutup embun tapi justru membuat nya semakin terlihat menggoda.
__ADS_1
Sepertinya aku sudah membuat keputusan yang salah, kalau saja kakiku sudah sembuh, tak akan aku biarkan pemandangan seindah itu menganggur begitu saja.
Revan berusaha memalingkan wajahnya dan tetap tenang, walaupun nyatanya sang adik telah kembali bangun tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Arhhhggg... istriku kau sungguh menggoda imanku... Revan frustasi sendiri.
Sampai Rara selesai mandi Revan masih diam dan memalingkan wajahnya. Membuat Rara yang sudah memakai bathrobe menghampiri suaminya.
"Kak... apa ada kesulitan? Apa perlu aku bantu?" tanya Rara.
"Tidak sayang, aku hanya menunggumu selesai baru aku mandi. Sekarang kau pakai bajumu, aku tidak mau kamu sakit." Revan menatap istrinya yang semakin sek*si saat rambut panjangnya masih basah.
Ohh tidak... kenapa aku terus berpikiran hal itu.
"Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu kak. Kalau butuh bantuan langsung panggil aku saja," ujar Rara, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan membuat Revan bisa bernafas lega.
Aku pasti sudah gilaa, tapi tidak apa-apa kan kalau candu pada tubuh istri sendiri. Monolog Revan dalam hatinya.
,,,
Rara mencium tangan suaminya selesai sholat dan dilanjutkan dengan doa. Keduanya saling berdoa memohon yang terbaik dari setiap kejadian yang terjadi dan tidak lupa tetap bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.
"Kakak mau makan di kamar atau di bawah?" tanya Rara yang sedang melipat mukenanya.
"Di sini saja, aku tidak mau kamu lelah mendorong ku naik turun." Mana mungkin Revan tega membiarkan tubuh kecil istrinya mendorong nya kemana-mana.
"Sama sekali tidak lelah kak, kalau hanya membawa Kak Revan turun ke bawah. Kan pakai lift," jawab Rara.
"Ya tapi tetap aku tidak mau menyusahkan kamu, nanti biar aku suruh pelayan untuk mengantarkan makanan kemari. Kamu duduk saja temani aku, kamu pasti lelah kan menjagaku di rumah sakit." Revan menarik tangan istrinya agar duduk di tepi ranjang.
"Tidak kak, aku sama sekali tidak merasa kesusahan. Aku ikhlas merawat kakak," ujar Rara, dia ingin menunjukkan baktinya sebagai istri. Yaitu dengan selalu ada disaat suami susah bukan hanya mau enaknya saja, lalu saat sakit ditinggalin. No... itu bukan Rara, dia akan selalu ada untuk suaminya dalam keadaan apapun.
"Terimakasih sayang... aku sangat beruntung mendapatkan istri sepertimu. Apa jadinya aku sekarang kalau belum bisa melihat kebaikan mu."
"Aku juga beruntung mendapatkan suami yang tampan seperti kakak," Rara tersenyum malu karena memuji suaminya.
__ADS_1
"Apa hanya tampan? Tidak ada yang lain? Kasian sekali aku tidak punya kelebihan lainnya Dimata istriku." Revan pura-pura marah pada istrinya.
"Ehhh bukan begitu kak, tentu saja kak Revan ini paket komplit. Sudah tampan, pintar dan sayang keluarga lagi. Aku sangat bangga pada kakak," Rara langsung menjelaskan apa maksudnya karena tidak ingin sang suami salah paham.
"Benarkah? Kau pasti hanya ingin membuatku senang saja kan?" tanya Revan.
"Tidak kak, itu benar. Semua yang aku katakan itu benar. Kak Revan sangat baik sebagai suami dan cucu untuk kakek." Rara berusaha menyanjung suaminya agar tidak kesal lagi padanya.
"Aku jadi merasa tersanjung mendengarnya," Revan gemas dan mencubit hidung istrinya hingga sang istri mengaduh kesakitan.
,,,
Di lantai bawah.
Kakek makan di temani pak Ahmad pelayan setianya. Beliau tau kalau sang cucu dan istrinya pasti tidak akan turun. Selain karena kondisi Revan pasti ada hal lain yang menghambatnya. Ya kakek sangat pengertian sekali pada pasangan itu.
"Bi tolong bawakan makan malam untuk Revan dan Rara ke kamarnya," perintah kakek Tio pada bi Mur.
"Baik Tuan, saya akan mengantarkan makanan untuk tuan dan nona." Bi Mur bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Sayang sekali Revan harus bertemu dengan masalah seperti itu sampai kakinya luka parah. Kalau begini aku harus menunggu lagi sampai cicitku berhasil di cetak." Kakek Tio mengatakannya dengan santai.
Hampir saja pak Ahmad tersedak mendengar penuturan tuannya.
to be continue...
°°°
Sabar ya kek... cicitnya belum jadi🤭
Nanti aku download dulu ya banyiknya🙈
Like komen dan bintang lima 😍😍😍
Gomawo ❤️❤️❤️
__ADS_1