Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
209. Nyata atau Tidak


__ADS_3

°°°


Seorang wanita dengan perut yang sedikit buncit baru saja menyelesaikan sholat isya. Dia melipat mukenanya yang baru saja ia pakai. Hatinya sungguh sangat legowo saat ini.


Tok tok tok


"Non... saya bawakan makan malam untuk Nona," ujar bi Ida yang memang akan datang setiap jam makan.


"Ternyata bi... taruh saja di meja."


Bi Ida pun meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja lalu dia memperhatikan raut wajah nonanya yang semakin hari terlihat lebih cantik dan bersinar. Tidak seperti dulu, kini bumil itu sangat beda auranya.


"Non, boleh bibi jujur?"


"Ada apa bi? Apa ada masalah?" tanya Febby yang saat ini tengah duduk di sofa.


"Apa nona tau kalau saat ini, nona terlihat sangat cantik dan cerah wajahnya," puji bi Ida.


"Bibi bisa saja, mana mungkin wajah ku cerah bi. Pasti bibi salah lihat, aku saja sudah tidak pernah pergi ke salon apalagi menggunakan skincare." Semenjak Febby menghabiskan waktunya untuk merawat Mike memang dia sudah tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri.


"Sungguh Non, yang menggunakan skincare aja kalah sama kecantikan nona. Itu pasti karena nona Febby sering berwudhu jadi tanpa skincare atau perawatan pun wajah nona sudah bersinar."


"Mungkin bi, aku tidak paham tentang hal seperti itu. Ilmu agamaku masih sangat sedikit dan aku juga tidak pernah mengharapkan apa-apa dari perubahan ku, aku hanya merasa nyaman dan damai saat selesai melaksanakan sholat dan menghadap Allah." Dalam waktu singkat Febby memang sudah banyak kemajuan, bukan hanya bisa sholat lima waktu sekarang juga dia bisa mengerjakan beberapa sholat sunah.


Beruntungnya dia juga sudah mendapatkan guru ngaji yang merupakan seorang ustadzah yang sekaligus mengajarinya soal agama Islam, berkat bantuan Revan yang mencarikan tentunya karena Revan tidak ingin istrinya terlalu lelah.


,,,


Lewat tengah malam.


Seperti biasa Febby akan terbangun, tubuhnya mulai tidak nyaman untuk tidur. Entah bagaimana posisinya dia merasa sekitar pinggang dan punggungnya mulai terasa nyeri. Mungkin karena perutnya yang semakin besar.


Sebaiknya aku sholat tahajud saja.

__ADS_1


Setelah mengambil wudhu, Febby pun sholat di sisi ranjang. Tidak lupa juga dia berdoa untuk kesembuhan Mike, walaupun entah kapan keajaiban itu akan datang tapi yang pasti dia tidak akan menyerah untuk hal itu.


"Ya Allah, maafkan aku jika Engkau bosan mendengar permintaan ku. Aku selalu berharap suatu saat nanti Engkau mengabulkan doa ku untuk kesembuhan Mike...," doa Febby.


Febby menangis dalam doanya, air matanya selalu tak akan bisa ditahan jika sedang sendiri. Menyesakkan saat setiap hari harus melihat orang yang kita cintai tergeletak tak berdaya.


Jika sudah seperti itu, hilang sudah rasa kantuk Febby. Seperti itulah dia setiap malamnya. Sendiri melalui semua tidaklah mudah bagi wanita hamil.


"Lihatlah Miky... perutku sudah semakin besar dan tubuhku juga tambah berisi. Kau pasti akan mengejekku kalau kau lihat, aku sudah tidak sek si seperti dulu. Entah kau masih menyukai ku atau tidak," ujar Febby berbicara di samping Mike.


Sesekali dia pun tersenyum walau air matanya terkadang juga menetes tanpa permisi.


"Aku masih tidak percaya kalau aku akan jadi seorang ibu, aku juga takut kalau nantinya aku tak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Terlalu banyak hal buruk yang pernah aku lakukan di masa lalu. Mungkinkah nanti anak kita akan kecewa karena lahir dari rahimku?"


Febby menggenggam tangan Mike dan mengecupnya, air matanya juga sudah membasahi punggung tangan Mike.


"Mungkinkah anak kita akan malu punya ibu seperti ku? Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuknya. Kita akan bersama-sama merawatnya penuh cinta dan kasih sayang. Kau setuju kan Mike?" Febby masih bermonolog sendiri. Sesekali dia menyentuh wajah Mike yang masih tetap terlihat tampan meski sudah koma beberapa Minggu.


Febby terus berbicara pada Mike, hingga menumpahkan segala beban hatinya.


"Mike aku mohon bangunlah, mau sampai kapan kau membuatku menunggu hiks .... Apa kau mau membiarkan putra kita tumbuh tanpa ayahnya. Mike kami berdua butuh kamu, bangunlah Mike. Hiks hiks hiks...." Beginilah akhirnya, Febby selalu tidak bisa menahan perasaannya saat sedang mengajak Mike berbicara.


Febby tertunduk, tangisnya pecah dalam kesunyian malam. Dia hanya seorang wanita biasa bukan wonder woman. Sekuat apapun dia berusaha tegar, tetap saja ada masanya dia meluapkan segala kesedihannya.


Dan saat itulah tiba-tiba jari tangan Mike bergerak. Seketika Febby pun merasakan hal itu.


"Ini nyata, aku tidak bermimpi kan? Mike kau bangun?" Febby menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat, kali ini bukan seperti waktu itu yang hanya bergerak sebentar. Namun, jari Mike sungguh bergerak dan terus bergerak.


"Mike, tolong dengarkan aku. Teruslah bergerak, aku akan memanggil dokter kesini," ujar Febby di dekat telinga Mike. Setelah itu dia berjalan keluar mencari dokter.


Dengan langkah cepat Febby mencari dokter bahkan sampai ia lupa kalau sekarang dia sedang mengandung.


"Dokter... dokter... cepat lihat Mike Dok!!" teriak Febby.

__ADS_1


"Ada apa Nona?" tanya perawat yang mendengar teriakkan Febby.


"Sus, tolong cepat panggilkan dokter. Mike sudah sadar, tadi dia menggerakkan jarinya seperti ini." Febby memperagakan saat jari Mike bergerak.


"Nona, apa anda yakin kalau tuan Mike menggerakkan jarinya?"


"Iya sus, aku bersumpah tidak berbohong. Tolong panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Mike." Febby sudah tidak sabar, dia pun kembali berjalan untuk mencari dokter karena perawat itu tidak kunjung bergerak.


"Dokter... dokter...!!"


Sementara perawat yang lain menghampiri rekannya. "Ada apa? Apa terjadi lagi kali ini?" tanyanya dan rekannya mengangguk.


"Sepertinya nona itu harus mendapatkan penanganan khusus dari psikiater agar tidak selalu berkhayal."


Nyatanya itu bukan pertama kalinya terjadi karena hampir setiap malam Febby bertingkah seperti itu. Dia akan berteriak mencari dokter sepanjang lantai rumah sakit itu dan berkata kalau Mike telah menggerakkan jarinya. Namun, saat beberapa kali dokter datang dan memeriksa, sama sekali tidak ada tanda-tanda seperti yang Febby sebutkan.


Mungkin jika Mike adalah pasien biasa, pihak rumah sakit pasti sudah tidak akan tahan menghadapi kebisingan yang Febby lakukan.


"Kalau keluarga Herwaman tidak menjamin mereka pasti rumah sakit ini sudah mengusir mereka." Perawat itu menatap iba pada Febby. Sebenarnya mereka juga kasihan tapi terkadang apa yang Febby lakukan itu sangat menggangu.


Dengan terpaksa dokter dan perawat pun datang ke ruangan Mike. Walaupun mereka ingin menolak tapi tidak bisa karena pekerjaan mereka taruhannya. Ya, Kakek Tio sudah berpesan agar mereka memperlakukan Febby dengan baik dan juga menjaga wanita itu.


"Dokter lihatlah dia bergerak kan..."


Dokter....???


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2